A− A+

Fokus Jepara – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat setelah mengalami tekanan yang cukup dalam. Sinergi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dinilai mendukung penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah ditutup menguat 0,84% ke 17.865 per dolar AS pada Jumat, 12 Juni 2026 dari penutupan 5 Juni 2026 di 18.010 per dolar AS. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa kebijakan itu meliputi kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing.

Baca juga:

Selain itu, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing. Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah. Setelah kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti pergerakan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Pada Jumat, 12 Juni 2026, nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.946 atau melemah sebesar 42 poin (0,23%) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Analis menilai penguatan rupiah didorong sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik dan peluang kesepakatan antara AS dan Iran. Dalam negeri, ekspektasi kenaikan suku bunga BI serta potensi pengurangan anggaran MBG memberi dukungan tambahan meski pasar tetap waspada terhadap aksi demonstrasi.

Baca juga:

Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesepakatan dengan Iran berpeluang tercapai dalam waktu dekat. Investor menaruh ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi impor.

Kesimpulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat setelah mengalami tekanan yang cukup dalam. Faktor pemicunya antara lain sinergi BI dan pemerintah, kenaikan suku bunga acuan, penguatan struktur suku bunga SRBI, dan ekspektasi kenaikan suku bunga BI. Namun, pasar tetap waspada terhadap aksi demonstrasi dan ketegangan geopolitik.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: