Fokus Surabaya – Omar Marmoush akhirnya angkat bicara mengenai masa depannya di Manchester City. Penyerang asal Mesir itu mengaku belum memikirkan kemungkinan hengkang, meski dua klub Premier League, Tottenham Hotspur dan Newcastle United, dikabarkan terus memantau situasinya. Dalam sesi wawancara eksklusif yang digelar di Manchester, Marmoush menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah membantu The Citizens meraih gelar juara.
“Saya masih terikat kontrak dan selalu memberikan yang terbaik untuk klub ini. Spekulasi soal transfer adalah hal biasa, tetapi saya tidak ingin terlena. Saya ingin fokus ke pertandingan berikutnya,” ujar pemain berusia 27 tahun itu dengan tenang.
Marmoush bergabung dengan Manchester City dari Eintracht Frankfurt pada musim dingin 2025 dengan mahar 75 juta euro (sekitar Rp1,5 triliun). Ia menandatangani kontrak berdurasi 4,5 tahun yang berlaku hingga Juni 2029. Namun, kedatangannya tidak serta-merta membuatnya menjadi pilihan utama. Di bawah asuhan Enzo Maresca, ia lebih sering menjadi pelapis. Meski begitu, ia tetap mencatatkan kontribusi signifikan dengan 16 gol dan 6 assist dari 62 pertandingan di berbagai kompetisi. Ia juga ikut mengantar Manchester City menjuarai FA Cup dan EFL Cup.
Ketidakpastian menit bermain inilah yang membuat Tottenham Hotspur bergerak. Klub London utara itu dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan pihak City untuk kemungkinan merekrut Marmoush pada jendela transfer berikutnya. Tottenham sendiri memiliki sejarah panjang dengan pemain Mesir. Sebelum Marmoush, ada Hossam Ghaly dan Mido yang pernah bersinar di White Hart Lane.
Mido, yang bernama lengkap Ahmed Hossam Hussein Abdelhamid, adalah pemain Mesir pertama yang membela Tottenham. Ia datang dengan status pinjaman dari AS Roma pada musim dingin 2005 seharga 2 juta euro (sekitar Rp41 miliar). Setelah tampil impresif, Tottenham mempermanenkannya pada musim panas 2006 dengan biaya 6,75 juta euro (sekitar Rp137,4 miliar). Mido mencatatkan 19 gol dan 6 assist dari 61 pertandingan sebelum akhirnya pindah ke Middlesbrough pada 2007.
Sementara Hossam Ghaly tiba dari Feyenoord Rotterdam pada musim dingin 2006 dengan mahar 3 juta euro (sekitar Rp61 miliar). Gelandang serba bisa ini mencatatkan 3 gol dan 5 assist dari 34 laga. Namun, masalah indisipliner membuatnya tersingkir dan akhirnya dilepas gratis ke Al-Nassr pada 2009.
Newcastle United juga tidak tinggal diam. Klub berjuluk The Magpies itu dikabarkan siap menawarkan proyek jangka panjang kepada Marmoush. Manajemen Newcastle menilai kecepatan dan mobilitas Marmoush sangat cocok dengan gaya permainan Eddie Howe yang mengandalkan serangan cepat.
Marmoush sendiri memiliki fleksibilitas posisi yang membuatnya kian diminati. Selain penyerang tengah, ia juga bisa difungsikan sebagai penyerang sayap, penyerang bayangan, bahkan gelandang serang. Kemampuannya dalam membuka ruang dan menarik pemain bertahan lawan menjadi nilai tambah tersendiri.
Dalam wawancara itu, Marmoush juga menyinggung soal adaptasinya di Manchester. “Saya belajar banyak dari pemain-pemain hebat di sini. Setiap hari adalah kesempatan untuk berkembang. Saya tidak menutup pintu untuk apa pun, tetapi saat ini saya bahagia di City,” tambahnya.
Pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano, dalam kanal YouTube-nya menyebut bahwa Tottenham dan Newcastle telah mengirim pemandu bakat untuk memantau Marmoush secara langsung. Kedua klub dikabarkan siap mengajukan tawaran resmi jika Manchester City membuka pintu negosiasi.
Di sisi lain, Manchester City dikabarkan tidak akan menghalangi kepergian Marmoush jika ada tawaran yang menguntungkan. Manajemen City disebut ingin mendatangkan penyerang baru pada musim panas mendatang, sehingga posisi Marmoush bisa semakin terancam.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Tottenham Hotspur maupun Newcastle United. Namun, bursa transfer musim panas diprediksi akan menjadi momen krusial bagi masa depan Marmoush. Jika ia memilih hengkang, Tottenham dan Newcastle siap menjadi pelabuhan berikutnya.
Bagi Tottenham, mendatangkan Marmoush bisa menjadi langkah strategis untuk menambah daya gedor. Klub asuhan Roberto De Zerbi itu tengah membangun skuad muda dan dinamis. Kehadiran Marmoush akan melengkapi lini serang yang sudah dihuni Dominic Solanke dan Richarlison.
Sementara Newcastle, dengan ambisi besarnya, ingin menjadikan Marmoush sebagai simbol kebangkitan. Klub yang bermarkas di St James’ Park itu tengah berbenah untuk kembali bersaing di papan atas Premier League dan Eropa.
Keputusan akhir ada di tangan Marmoush. Apakah ia akan bertahan di Manchester City dan memperjuangkan tempat utama, atau memilih tantangan baru di Tottenham atau Newcastle? Yang jelas, saga transfer ini akan terus menjadi sorotan hingga jendela transfer ditutup.
Dengan kontraknya yang masih panjang, Manchester City berada di posisi kuat. Namun, kebutuhan akan menit bermain reguler bisa menjadi faktor pendorong bagi Marmoush untuk mencari klub baru. Tottenham dan Newcastle United tampaknya siap menampungnya dengan pelukan terbuka.









