Daftar Isi
Fokus Surabaya – Jumlah korban tewas akibat Topan Dujuan yang melanda wilayah timur Jepang terus meningkat. Hingga Rabu, 23 September 2026, otoritas setempat mengonfirmasi bahwa sedikitnya 13 orang meninggal dunia akibat bencana yang dipicu hujan ekstrem, banjir, dan tanah longsor tersebut. Angka ini naik signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang menyebutkan sembilan korban jiwa.
Pihak berwenang menemukan jenazah seorang wanita di Prefektur Kanagawa serta seorang pria di dalam kendaraan yang terendam air di Prefektur Chiba, sebelah timur Tokyo. Dari total korban, enam orang meninggal di Chiba dan tiga lainnya di Kanagawa, sementara sejumlah laporan tambahan terus diverifikasi di lapangan. Upaya pencarian terhadap empat orang yang masih dinyatakan hilang pun terus dilakukan oleh polisi, petugas pemadam kebakaran, dan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF).
Topan Dujuan pertama kali menghantam Jepang bagian timur pada Senin, 21 September 2026, membawa hujan lebat, angin kencang, banjir, dan tanah longsor. Dampaknya paling parah dirasakan di Prefektur Chiba, wilayah yang sebelumnya juga telah dilanda hujan lebat dan banjir pada Agustus serta awal September. Lebih dari 45.000 rumah tangga sempat terdampak pemadaman listrik, dan lebih dari 460 rumah dilaporkan mengalami kerusakan.
Rekor Curah Hujan di Oshima dan Chiba
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat curah hujan yang memecahkan rekor di sejumlah wilayah. Oshima, sebuah pulau sekitar 120 kilometer selatan pusat kota Tokyo, menerima 832 milimeter hujan dalam 48 jam hingga Selasa pukul 01.30 waktu setempat, atau dua kali lipat curah hujan rata-rata sepanjang bulan September. Rekor serupa juga terjadi di Chiba, di mana Sakahata di Kimitsu mencatat 476,5 milimeter hujan dalam 48 jam, sedangkan Ichihara mencatat 487 milimeter.
Peringatan khusus tanah longsor Level 5 di Oshima, Kepulauan Izu, sempat diberlakukan sebelum akhirnya diturunkan menjadi Level 4 setelah puncak curah hujan berlalu. Meski demikian, otoritas meminta warga tetap berada di lokasi aman karena kondisi tanah yang masih jenuh air terus menimbulkan risiko tanah longsor susulan.
Korban Jiwa dan Kerusakan di Berbagai Wilayah
Data sementara yang dihimpun dari berbagai wilayah menunjukkan pola kerusakan yang tersebar:
- Kota Yokosuka, Kanagawa: seorang perempuan berusia 64 tahun ditemukan meninggal di rumahnya setelah lumpur dan material longsor masuk ke lantai pertama bangunan. Sepasang suami istri berusia 70-an juga dilaporkan masih hilang.
- Sodegaura, Chiba: seorang pekerja berusia 51 tahun meninggal setelah dirinya dan alat berat yang dioperasikannya jatuh ke rumpun bambu saat membersihkan lumpur dan puing di lokasi longsor. Polisi masih menyelidiki insiden tersebut.
- Kamogawa dan Sanmu, Chiba: dua perempuan berusia 70-an dan 80-an tewas setelah tanah longsor menyebabkan rumah mereka runtuh.
- Miura: dua orang dilaporkan masih hilang dan tengah dicari oleh tim gabungan.
Banjir masih menggenangi kawasan sekitar Stasiun JR Sakura setelah Sungai Takasaki meluap, dengan ketinggian air mencapai nyaris satu meter di beberapa lokasi. Lebih dari 470 bangunan rumah di Kanagawa, Chiba, dan Ibaraki dilaporkan terdampak. Tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Yokosuka, Prefektur Kanagawa.
Dampak pada Transportasi dan Aktivitas Warga
Topan Dujuan tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu mobilitas warga. Ratusan penerbangan dibatalkan dan layanan kereta terganggu setelah otoritas sempat meminta sekitar 1,9 juta warga mengungsi. Pameran perdagangan video games terbesar dunia di Jepang turut ditutup akibat badai ini. Hingga Selasa sore, 42.260 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik.
Topan Dujuan mulai bergerak menjauh dari pesisir Jepang menuju Samudra Pasifik pada Selasa pagi, 22 September 2026. Kondisi tersebut memungkinkan otoritas mencabut atau menurunkan sebagian besar peringatan hujan lebat dan tanah longsor. Sebagian besar perintah evakuasi juga telah dicabut pada Selasa.
Peringatan Ilmuwan dan Risiko Lanjutan
Para ilmuwan menilai perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia meningkatkan risiko yang ditimbulkan oleh hujan lebat. Atmosfer yang semakin hangat mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga curah hujan ekstrem menjadi lebih sering terjadi. Jepang memang sering dilanda topan kuat pada akhir musim panas dan awal musim gugur, namun intensitas tahun ini dinilai luar biasa.
JMA tetap memperingatkan bahwa risiko tanah longsor masih ada meskipun hujan telah berhenti, karena air telah terakumulasi di dalam tanah. Warga di wilayah Kanto juga diminta mewaspadai banjir di dataran rendah serta kenaikan dan luapan sungai.
Penutup
Meningkatnya jumlah korban tewas akibat Topan Dujuan menjadi 13 orang menjadi pengingat keras akan dahsyatnya dampak cuaca ekstrem di Jepang. Selain korban jiwa, bencana ini meninggalkan kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, dan trauma bagi warga yang terdampak. Pemerintah Jepang bersama tim SAR terus berupaya mencari korban hilang dan memulihkan wilayah terdampak, sementara para ahli mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi di masa depan.






