Fokus Jepara – Malam 1 Suro 2026 akan segera tiba, dan masyarakat Tionghoa di Indonesia akan merayakan tradisi Bakcang atau Peh Cun. Tradisi ini merupakan bagian penting dari warisan budaya Tionghoa yang terus dirayakan hingga kini. Perayaan Bakcang jatuh pada hari kelima bulan kelima dalam penanggalan Lunar, dan memiliki makna khusus bagi masyarakat Tionghoa.
Asal-usul tradisi Bakcang terkait dengan kisah Qu Yuan, seorang pejabat sekaligus penyair dari Tiongkok yang dikenal karena kesetiaannya kepada negara. Saat negerinya dilanda krisis, Qu Yuan memilih mengakhiri hidup dengan terjun ke sungai sebagai bentuk pengorbanan. Masyarakat melemparkan bakcang ke sungai agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan, sekaligus mendayung perahu untuk mencarinya.
Dari peristiwa inilah lahir berbagai kebiasaan yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Bakcang atau Peh Cun. Selain mengenang Qu Yuan, momentum ini menjadi waktu untuk mempererat kebersamaan keluarga serta menjaga nilai yang diwariskan sejak lama. Dalam tradisi ini terkandung makna spiritual berupa penghormatan kepada tokoh yang membela negara, kepercayaan akan perlindungan dari bahaya—terutama yang berkaitan dengan sungai—serta doa agar kehidupan berjalan dengan baik.
Bakcang sendiri adalah makanan dari beras ketan yang dibungkus daun bambu atau daun pandan, lalu dikukus hingga matang. Bentuknya umumnya segitiga atau limas, dengan isian yang berbeda-beda sesuai daerah—mulai dari daging, kacang, jamur, hingga bahan lain yang disesuaikan dengan kebiasaan setempat.
Di Indonesia, perayaan Bakcang berkembang menyesuaikan budaya setempat tanpa menghilangkan makna dasarnya. Festival budaya, lomba perahu naga, hingga ragam isi bakcang menjadi bukti kelangsungan tradisi di tengah masyarakat. Dalam peringatan Hari Bakcang, sajian bakcang menjadi elemen yang tak terpisahkan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Bakcang menyatu dalam praktik budaya yang terus dipertahankan. Di sejumlah komunitas, sebagian masyarakat menjalankan ritual toan atau doa bersama pada Hari Bakcang. Kegiatan ini hadir dalam lingkup keluarga maupun komunitas, menjadi medium untuk meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi Bakcang terus hidup dan berkembang di Indonesia. Masyarakat Tionghoa di Indonesia terus melestarikan tradisi ini dengan cara yang unik dan kreatif. Dengan demikian, tradisi Bakcang tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia.
Malam 1 Suro 2026 akan menjadi momentum penting bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk merayakan tradisi Bakcang. Dengan memahami makna dan sejarah di balik tradisi ini, kita dapat lebih menghargai kebudayaan yang kaya dan beragam di Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
