A− A+

Fokus Jepara – DENPASAR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah, mencapai level Rp17.600 per dolar AS, menghadirkan dua sisi yang saling bertolak belakang bagi Bali: sebuah peluang besar bagi sektor pariwisata internasional dan ancaman inflasi bagi masyarakat lokal. Pengamat ekonomi senior, Viraguna Bagoes Oka, menyatakan bahwa depresiasi rupiah membuat Bali menjadi lebih menarik bagi wisatawan mancanegara. Dengan biaya hidup yang relatif lebih murah dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, Bali berpotensi menarik minat wisatawan lebih banyak.

“Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, daya beli wisatawan asing otomatis meningkat. Ini membuat Bali menjadi destinasi yang jauh lebih menarik bagi wisatawan internasional,” ungkapnya. Dalam pandangan Viraguna, kondisi ini dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan asing serta memperpanjang lama tinggal mereka di Bali. Pengeluaran wisatawan untuk akomodasi, kuliner, dan aktivitas rekreasi diperkirakan akan meningkat seiring dengan penguatan nilai tukar mata uang mereka.

Baca juga:

Lebih lanjut, Viraguna menegaskan bahwa situasi ini juga menguntungkan bagi pelaku usaha yang berbasis ekspor dan penerima pendapatan dalam mata uang asing. Dengan pendapatan dalam dolar yang dikonversi ke rupiah, mereka akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi, sehingga memperbaiki margin keuntungan usaha mereka. Fenomena ini juga dapat memperkuat tren Work From Bali (WFB), yang semakin populer di kalangan pekerja asing jarak jauh dan ekspatriat yang menghasilkan pendapatan dalam dolar atau mata uang asing lainnya.

“Tanpa adanya pelemahan kurs, Bali sudah menjadi tujuan favorit bagi pekerja asing digital. Dengan rupiah yang semakin rendah, Bali akan semakin menarik sebagai lokasi untuk tinggal dan bekerja,” tambahnya. Namun, di balik peluang yang ada, ada risiko inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat lokal, terutama bagi kelompok berpenghasilan tetap dan pelaku usaha kecil. Viraguna memperkirakan bahwa pelemahan rupiah dapat mengakibatkan kenaikan harga barang dan jasa antara 10 hingga 20 persen, terutama untuk sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dianggap paling rentan terhadap dampak ekonomi dari kenaikan biaya hidup dan penurunan omzet usaha. Di sisi lain, industri perhotelan dan pariwisata juga merasakan tekanan yang sama. Meskipun Bali menjadi lebih murah bagi wisatawan asing, biaya operasional hotel justru meningkat karena kenaikan harga barang-barang penunjang seperti perlengkapan mandi dan kebutuhan impor lainnya.

Baca juga:

Viraguna juga mengingatkan bahwa jika pelemahan rupiah berlanjut hingga menembus Rp20.000 hingga Rp25.000 per dolar AS tanpa adanya intervensi kebijakan yang tepat, situasi ekonomi dapat kembali menyerupai Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, meskipun Bali tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, manfaat ekonomi hanya dirasakan oleh kelompok tertentu yang memiliki aset dolar atau yang bergerak di sektor ekspor. Sebaliknya, sebagian besar masyarakat lokal harus berhadapan dengan lonjakan harga kebutuhan pokok akibat ketergantungan tinggi terhadap barang impor.

Contoh yang disampaikan adalah sektor pertanian yang masih bergantung pada pupuk berbahan baku impor. Kenaikan nilai tukar dolar akan berpengaruh pada harga pupuk yang pada akhirnya akan berdampak pada harga pangan. Sektor transportasi juga berisiko terdampak akibat potensi kenaikan harga bahan bakar minyak yang dipicu oleh kondisi geopolitik global dan fluktuasi harga energi internasional.

Dalam situasi ini, Viraguna menekankan pentingnya pemerintah daerah untuk memperkuat tata kelola sektor pariwisata. Ia mendorong pembentukan otoritas khusus pariwisata atau kawasan pariwisata yang memiliki kewenangan lebih dalam pengawasan investasi dan arus wisatawan asing. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa pariwisata Bali memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan untuk masyarakat lokal sambil tetap menjaga nilai budaya dan kearifan lokal Bali.

Baca juga:

“Yang perlu dijaga bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas wisawatan dan kualitas investasi yang masuk ke Bali,” pungkasnya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.