Daftar Isi
Fokus Surabaya – Kontroversi kembali menghantam Premier League setelah gol Erling Haaland dalam Derbi Manchester di Old Trafford, Ahad, 13 September 2026, disahkan VAR meski menuai protes keras dari kubu Manchester United. Manchester City menang tipis 1-0 dalam laga lanjutan Premier League tersebut, namun kemenangan itu tidak lepas dari bayang-bayang keputusan perwasitan yang dinilai merugikan tuan rumah.
Liga Inggris pun akhirnya angkat bicara soal keputusan wasit dalam derbi Manchester tersebut. Komite wasit menyatakan proses pemeriksaan VAR sudah berjalan sesuai prosedur, meski mengakui masih ada celah perdebatan soal interpretasi aturan. Keputusan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk pelatih Manchester City, Enzo Maresca, yang justru membalikkan kritik ke arah komite wasit.
Maresca Menuntut Permintaan Maaf Tiga Tahun Tertunda
Maresca mengingatkan ketua komite wasit Liga Inggris, Howard Webb, tentang insiden kontroversial yang terjadi lebih dari tiga tahun lalu. Saat itu, ia masih menjadi bagian dari staf pelatih pendamping Pep Guardiola ketika Manchester United menjamu Manchester City pada Januari 2023. Bruno Fernandes mencetak gol penyeimbang untuk United meski Marcus Rashford berada dalam posisi offside dan menghalangi bola dari pertahanan City.
“Tiga tahun lalu, ketika saya di sini, hal yang persis sama terjadi menghadapi Manchester United. Kami kalah dalam derbi di sana,” ujar Maresca. “Gol itu bukanlah gol yang sah, jika Anda mengingatnya. Dan sejujurnya, tidak ada seorang pun yang meminta maaf kepada kami. Kami masih menunggu permintaan maaf atas gol itu.” Komite wasit saat itu memang menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Manchester United atas kesalahan tersebut, sebuah fakta yang membuat Maresca menilai standar perlakuan terhadap klubnya tidak seimbang.
Rekam Jejak Kesalahan VAR yang Tak Kunjung Selesai
Persoalan VAR di Liga Inggris bukan hal baru. Jumlah kesalahan keputusan wasit dilaporkan meningkat dibandingkan musim sebelumnya, dengan Arsenal dan Chelsea menjadi dua klub yang paling banyak diuntungkan. Enam kesalahan lainnya berkaitan dengan kegagalan memberikan kartu merah ketika hukuman tersebut seharusnya dijatuhkan.
Perdebatan serupa juga muncul dalam derbi Manchester ketika Bruno Fernandes dinilai layak mendapat kartu merah setelah terlibat insiden dengan Phil Foden. Legenda Manchester United, Gary Neville, bahkan kebingungan dan mempertanyakan bagaimana insiden offside bisa dinyatakan bukan pelanggaran.
| Klub | Keuntungan dari Keputusan Keliru |
|---|---|
| Chelsea | 8 kali |
| Arsenal | 7 kali |
Liga Inggris sebenarnya telah beberapa kali melakukan perubahan untuk meningkatkan penggunaan VAR. Teknologi offside semi-otomatis mulai diterapkan pada 2025, sedangkan musim ini keputusan awal wasit di lapangan kembali mendapatkan penekanan lebih besar. Tekanan terhadap wasit pun semakin besar karena setiap keputusan kontroversial dapat menjadi sorotan utama.
Keluhan Pelatih dan Dampak pada Perebutan Gelar
Mikel Arteta merasakan hal serupa ketika Arsenal menang atas Sunderland. Ia tetap mengecam keputusan pemberian penalti kepada Sunderland meski David Raya berhasil menggagalkannya. “Saya sangat kesal. Ini tidak dapat diterima di level seperti ini. Tidak dapat diterima. Ini bisa mengubah jalannya sebuah musim, bahkan perebutan gelar juara,” katanya.
Kesalahan seperti ini bukan perkara kecil karena keputusan wasit dapat memengaruhi perebutan gelar hingga posisi seorang pelatih. Bagi Manchester United, hasil tinjauan Pro Ref tidak akan mengubah kenyataan bahwa mereka kehilangan poin dalam derby Manchester. Sementara itu, kubu City menuntut konsistensi dan transparansi dari komite wasit agar kejadian serupa tidak terus terulang.
Kesimpulan
Keputusan Liga Inggris yang mengesahkan gol kontroversial Erling Haaland dalam Derbi Manchester menegaskan bahwa persoalan VAR masih jauh dari kata selesai. Di satu sisi, komite wasit bersikeras prosedur sudah dijalankan dengan benar. Di sisi lain, Maresca dan sejumlah pelatih menuntut keadilan serta permintaan maaf yang selama ini hanya diberikan kepada klub tertentu. Selama standar perlakuan dan interpretasi aturan tidak disamakan untuk semua tim, kontroversi wasit dipastikan akan terus menjadi bayang-bayang setiap pekan Premier League.








