Fokus Surabaya – Dunia teknologi kembali diguncang oleh peringatan keras dari mereka yang paling memahami risiko kecerdasan buatan. Kepala ilmuwan OpenAI, Ilya Sutskever, secara blak-blakan menyatakan bahwa tidak ada satu pun pihak yang benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari teknologi yang sedang mereka kembangkan. Pernyataan ini bukan sekadar alarm biasa, melainkan seruan darurat di tengah perlombaan liar menuju superintelijensi yang semakin tak terkendali.
Kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Sejumlah mantan peneliti dari perusahaan AI terkemuka telah mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka nilai sebagai pengembangan yang tidak bertanggung jawab. Bilal Chughtai, mantan peneliti Google DeepMind, mengungkapkan keyakinannya bahwa AI berpotensi memusnahkan seluruh umat manusia. “Saya sungguh percaya bahwa AI berpotensi membunuh kita semua, dan bahwa kita mungkin kehabisan waktu untuk menghindari hasil ini,” tulisnya di platform X, seperti dikutip dari CNA.
Chughtai bukan satu-satunya. Jacob Coxon, yang sebelumnya bekerja di Anthropic—perusahaan AI yang didanai Google dan Amazon—juga meninggalkan pekerjaannya. Ia memperingatkan bahwa algoritma dapat mulai menganalisis dan memperbaiki kode sumbernya sendiri secara mandiri. Siklus pengembangan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan bisa menyusut menjadi hitungan menit dan pada akhirnya tak lagi terkendali. “Tidak ada aktivitas manusia lain yang memiliki potensi bahaya sebesar ini,” tegasnya.
Para legenda AI pun angkat bicara. Geoffrey Hinton, peraih Nobel Fisika yang dijuluki “Godfather of AI”, meninggalkan Google pada 2023 untuk secara bebas memperingatkan publik tentang bahaya teknologi yang turut ia kembangkan. Yoshua Bengio, penerima Penghargaan Turing, juga berulang kali menyerukan regulasi negara yang ketat. Pada Juli 2026, lebih dari 1.000 karyawan perusahaan AI terkemuka menandatangani surat terbuka yang memperingatkan potensi hilangnya kendali dalam waktu dekat jika perlombaan menuju superintelijensi tidak diatur.
Namun, di bawah pemerintahan Donald Trump, kebijakan AI justru mengarah pada pengurangan hambatan regulasi semaksimal mungkin dan percepatan pengembangan teknologi. Trump bahkan menyebut kekhawatiran tersebut sebagai hoaks belaka. Kebijakan ini menuai kritik tajam dari para ahli yang menilai bahwa risiko peradaban yang ditimbulkan AI belum sepenuhnya dipahami, bahkan di dalam OpenAI sendiri.
Bukti nyata bahaya AI bukan sekadar teori. Di Brasil, seorang petani berusia 36 tahun ditangkap polisi setelah ia mengirim pesan kepada ChatGPT selama hampir dua bulan. Dalam pesan-pesan itu, ia mengungkapkan niatnya untuk membunuh putranya yang berusia 8 tahun, menyerang orang lain, lalu bunuh diri. Ia bahkan menawarkan 50.000 real (sekitar Rp171 juta) kepada AI untuk membunuh dirinya dan anaknya. OpenAI melaporkan pesan-pesan tersebut kepada FBI, yang kemudian meneruskannya ke pihak berwenang Brasil. Kasus ini menjadi salah satu dari sedikit insiden yang diketahui publik di mana AI menjadi alat bukti dalam rencana kejahatan serius.
Para ahli memperkirakan ada peluang lebih dari sepuluh persen bagi AI untuk mengakhiri peradaban sebelum akhir dekade ini. Angka ini mungkin tampak kecil, tetapi mengingat dampaknya yang katastrofik, risiko sekecil apa pun tidak dapat diabaikan. Perlombaan menuju superintelijensi yang semakin cepat, tanpa pengawasan yang memadai, ibarat mengendarai mobil tanpa rem di jalan menurun.
Peringatan dari kepala ilmuwan OpenAI dan para pakar lainnya harus menjadi panggilan bangun bagi seluruh umat manusia. Teknologi AI memang menawarkan kemajuan luar biasa, tetapi tanpa kendali yang ketat, ia bisa berubah menjadi ancaman eksistensial. Regulasi yang bijak, transparansi, dan kerja sama global menjadi kunci untuk memastikan bahwa AI tetap menjadi alat yang melayani manusia, bukan sebaliknya. Sudah saatnya kita berhenti menutup mata dan mulai bertindak sebelum terlambat.









