Fokus Surabaya – Indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, berhasil membuka perdagangan dengan penguatan signifikan pada Kamis (17/9/2026), menembus level 6.780 di tengah sikap hawkish Federal Reserve Amerika Serikat. Kenaikan ini menjadi sorotan utama di pasar Asia yang bergerak mixed, karena investor menilai kekhawatiran suku bunga telah sebagian besar diperhitungkan.
Berdasarkan data Bursa Efek Korea, KOSPI dibuka naik 61,05 poin atau 0,91% ke level 6.779,02. Hingga pukul 09.05 KST, indeks bertahan di 6.763,37, naik 45,40 poin atau 0,68%. Sepanjang sesi awal, KOSPI bahkan sempat menyentuh level 6.780 sebelum akhirnya melepas sebagian keuntungan. Indeks KOSDAQ juga ikut menguat, dibuka di 820,66 dan naik 4,68 poin atau 0,57%, lalu meluas ke 823,28.
Penguatan KOSPI ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Samsung Electronics naik 0,99% ke 256.000 won, sementara Samsung C&T melonjak 2,40% ke 362.000 won. SK Square dan Samsung Biologics masing-masing naik 0,39% dan 0,50%. Meski begitu, beberapa saham raksasa seperti SK hynix turun tipis 0,11%, LG Energy Solution melemah 0,41%, dan Hyundai Motor turun 0,14%.
Di jajaran KOSDAQ, saham Alteogen naik 1,37%, EcoPro naik 1,22%, dan Jusung Engineering melesat 2,97%. Saham LEENO Industrial, EO Technics, dan Rainbow Robotics juga mencatatkan kenaikan.
Lonjakan KOSPI terjadi setelah The Fed secara bulat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak 2023. Dot plot mengisyaratkan masih ada satu kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Ketua Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmennya menurunkan inflasi, menyebut masih banyak kategori barang dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3%.
Presiden AS Donald Trump pun angkat bicara, menuntut suku bunga AS berada di 1% atau lebih rendah. Meski demikian, pasar melihat kenaikan ini sebagai awal siklus pengetatan yang lebih luas.
Di sisi lain, harga minyak dunia terus merosot. Brent turun lebih dari 1% ke sekitar US$104,30 per barel, sementara WTI turun 1,2% ke US$101,19. Penurunan ini terjadi setelah Arab Saudi berupaya memulihkan kapasitas pipa East-West yang sempat ditutup akibat serangan drone. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Trump bahwa perang yang melibatkan Iran akan segera berakhir.
Pasar Asia sendiri bergerak bervariasi. Hang Seng futures Hong Kong mengindikasikan penurunan 1,2%, sedangkan Nikkei 225 Jepang naik 0,24% dan Topix menguat 0,76%. Di India, GIFT Nifty membuka lesu, dan pasar menantikan IPO NSE. Bursa Wall Street sebelumnya tertekan tajam, dengan Dow Jones anjlok lebih dari 700 poin, S&P 500 turun 0,45%, dan Nasdaq melemah tipis 0,01%.
Imbal hasil obligasi AS juga mulai stabil. Yield obligasi dua tahun turun dua basis poin ke 4,72%, sedangkan tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing turun tiga basis poin. Obligasi Asia mengikuti pergerakan tersebut setelah awal sesi sempat melemah.
Fokus pasar kini beralih ke keputusan Bank of England pada Kamis dan Bank of Japan pada Jumat. Para pelaku pasar mencermati seberapa cepat The Fed akan bergerak berikutnya, di tengah ekspektasi setidaknya satu kenaikan lagi tahun ini.
Dengan penguatan yang solid, KOSPI menunjukkan bahwa pelaku pasar Korea optimistis terhadap prospek pemulihan ekonomi dan sektor teknologi, terutama AI. Turunnya harga minyak dan meredanya ketegangan geopolitik menjadi katalis positif yang menopang indeks. Meski bayang-bayang pengetatan moneter masih ada, pasar tampaknya telah mengantisipasi langkah The Fed, sehingga ruang kenaikan lebih lanjut masih terbuka. Namun, investor tetap perlu waspada terhadap data ekonomi dan kebijakan bank sentral lainnya yang dapat mempengaruhi arah pasar dalam beberapa hari ke depan.





