Dunia

Ketegangan Global Memanas: Veto PBB, Krisis Energi Prancis, dan Dinamika Olahraga Dunia

Ketegangan Global Memanas: Veto PBB, Krisis Energi Prancis, dan Dinamika Olahraga Dunia
Ketegangan Global Memanas: Veto PBB, Krisis Energi Prancis, dan Dinamika Olahraga Dunia
Daftar Isi
  1. Veto PBB dan Kebuntuan Diplomasi
  2. Prancis di Bawah Tekanan: Harga Bahan Bakar dan Bayang-Bayang Gilets Jaunes
  3. Olahraga: Dari Scarlets hingga Kejuaraan Dunia Bersepeda
  4. Kesimpulan
A− A+

Fokus Surabaya – Dunia internasional kembali dihadapkan pada ketegangan geopolitik yang meningkat setelah Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang didukung Amerika Serikat untuk memperpanjang mandat panel ahli yang memantau sanksi terhadap Iran. Veto tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas PBB dalam menangani sengketa global, sementara krisis energi melanda Prancis dan berbagai peristiwa olahraga menyita perhatian publik.

Veto PBB dan Kebuntuan Diplomasi

Dalam pemungutan suara pada Kamis (17/9/2026), resolusi tersebut hanya memperoleh 11 suara mendukung, dua menolak (Rusia dan China), serta dua abstain (Somalia dan Pakistan). Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menegaskan bahwa proses snapback yang dipicu oleh Prancis, Jerman, dan Inggris pada September 2025 tidak memiliki dasar hukum. Sementara itu, AS berargumen bahwa pemantauan independen tetap diperlukan untuk mengawasi pelanggaran sanksi, termasuk transfer senjata dan program misil balistik Iran. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memperingatkan bahwa perpecahan di antara kekuatan besar semakin melumpuhkan Dewan Keamanan.

Baca juga:

Prancis di Bawah Tekanan: Harga Bahan Bakar dan Bayang-Bayang Gilets Jaunes

Di Prancis, pemerintah menghadapi ujian berat menjelang pemilihan presiden April 2027. Menteri Keuangan Roland Lescure, yang memiliki istri berkebangsaan Irlandia, harus menyeimbangkan tuntutan publik akan subsidi harga bahan bakar, tekanan pasar obligasi untuk mengurangi utang, dan oposisi keras di parlemen. Harga diesel yang mendekati rekor tertinggi dalam dua pekan terakhir memicu seruan protes pada 17 Oktober, mengingatkan pada gerakan “gilets jaunes” yang melumpuhkan negara antara 2018 dan 2020. Presiden Emmanuel Macron telah memerintahkan mobilisasi total untuk menurunkan harga dan menjamin pasokan. Lescure, yang mengaku melihat “revolusi tenang” di Irlandia, kini menghadapi ujian terberat dalam kariernya.

Olahraga: Dari Scarlets hingga Kejuaraan Dunia Bersepeda

Sementara itu, dunia olahraga menawarkan cerita tersendiri. Gareth Anscombe, fly-half berusia 35 tahun, bergabung dengan Scarlets setelah meninggalkan klub Prancis Bayonne. Ia mengaku senang bisa berperan sebagai pendukung bagi pemain muda seperti Sam Costelow dan Carwyn Leggatt-Jones. “Saya ingin bermain sedikit, mendukung grup, dan berbagi pengetahuan,” ujarnya kepada podcast Scrum V.

Baca juga:

Di Kanada, Montreal bersiap menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Bersepeda Jalan Raya, 52 tahun setelah kemenangan legendaris Eddy Merckx pada 1974. Sirkuit berbukit di sekitar Parc du Mont Royal akan menjadi medan pertempuran bagi para pembalap elite. Tanpa Tadej Pogacar yang cedera, Remco Evenepoel dari Belgia difavoritkan, bersaing dengan Wout van Aert, Mathieu van der Poel, dan bintang muda Meksiko Isaac del Toro serta Prancis Paul Seixas. Total 13 nomor akan dipertandingkan, termasuk time trial dan road race untuk berbagai kategori.

Di sisi lain, liga basket putri AS juga terdampak oleh Piala Dunia FIBA. Phoenix Mercury meraih kemenangan 94-91 atas Portland Fire, meski kedua tim sudah tersingkir dari playoff. Shay Ciezki mencetak 22 poin dari bangku cadangan, sementara Fire kehilangan Carla Leite yang membawa pulang medali perak bersama Prancis. Mercury juga tanpa pemain Prancis Valeriane Ayayi dan Belgia Kyara Linskens.

Baca juga:

Kesimpulan

Dari ruang sidang Dewan Keamanan PBB hingga jalanan Prancis yang panas oleh protes harga bahan bakar, serta lapangan hijau dan arena basket, dinamika global terus berubah. Veto Rusia-China menyoroti kerapuhan diplomasi multilateral, sementara Prancis berjuang menyeimbangkan tuntutan rakyat dan pasar. Di tengah semua itu, olahraga tetap menjadi panggung di mana ambisi, dedikasi, dan semangat kompetisi menginspirasi banyak orang. Dunia menanti langkah selanjutnya dari para pemimpin dan atlet yang menjadi sorotan.

Mungkin Anda Suka