Politik

Dari Sanders ke Mamdani: Peta Baru Kekuasaan yang Mengubah Partai Demokrat AS

Dari Sanders ke Mamdani: Peta Baru Kekuasaan yang Mengubah Partai Demokrat AS
Dari Sanders ke Mamdani: Peta Baru Kekuasaan yang Mengubah Partai Demokrat AS
A− A+

Fokus Surabaya – Pertemuan langka antara Senator independen Bernie Sanders dan mantan kepala strategi Gedung Putih Steve Bannon dalam Pro-Human Assembly pada Selasa (15/9/2026) di Washington menandai babak baru dalam politik Amerika Serikat. Keduanya, yang biasanya berada di kutub berseberangan, duduk dalam satu panggung untuk membahas kekhawatiran bersama terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Acara yang dihadiri hampir 300 orang itu mempertemukan anggota Kongres dari dua partai, pemimpin agama, aktivis, pekerja seni, dan kelompok masyarakat.

Sanders, senator dari Vermont yang selama bertahun-tahun mengusung agenda progresif, dan Bannon, arsitek utama gerakan Make America Great Again (MAGA), sama-sama memperingatkan risiko AI terhadap lapangan pekerjaan, keselamatan manusia, serta konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi. Reuters menggambarkan kemunculan mereka sebagai pertemuan langka dua lawan politik yang dipersatukan oleh kekhawatiran terhadap AI. Bannon bahkan memuji paparan Sanders mengenai berbagai risiko teknologi tersebut, meski ia menegaskan bahwa keduanya tetap berbeda dalam banyak hal.

Baca juga:

Namun, kesamaan mereka berhenti pada diagnosis. Ketika masuk ke solusi, perbedaan politik kembali mencuat. Sanders menyerukan pengawasan ketat dan distribusi kekayaan yang lebih adil, sementara Bannon menekankan perlunya memperlambat laju perkembangan AI agar masyarakat dapat memahami dampaknya. Tidak ada pengumuman kerja sama legislatif di antara keduanya. Pertemuan itu murni menjadi forum diskusi mengenai bahaya AI, bukan pembentukan koalisi politik baru.

Di sisi lain, peta kekuasaan Partai Demokrat juga tengah berubah. Wali Kota New York Zohran Mamdani dan anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) menjadi sorotan dalam peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001. Keduanya dituding tertawa ketika nama-nama korban dibacakan di Ground Zero. Fox News melaporkan bahwa cuplikan video berdurasi empat detik itu memicu kecaman dari politikus konservatif seperti Wesley Hunt, Meghan McCain, dan Senator Ted Cruz. Hunt menyatakan bahwa Ground Zero adalah tempat sakral dan tidak seharusnya dijadikan ajang politik.

Baca juga:

Namun, CNN mencatat bahwa interaksi tersebut hanya berlangsung sekitar empat detik tanpa suara, sehingga tidak diketahui apa yang dibicarakan. Yuh-Line Niou, mantan anggota Majelis Negara Bagian New York yang hadir, mengatakan bahwa interaksi itu hanya sebatas sapaan halo. Terlepas dari polemik tersebut, pemerintahan Mamdani justru membuka lebih dari 170 ribu halaman arsip pemerintah New York yang selama bertahun-tahun tidak tersedia bagi publik. Dokumen itu termasuk informasi mengenai udara beracun yang dihirup petugas penyelamat, pekerja, penduduk, dan pelajar setelah runtuhnya Menara Kembar. Pembukaan arsip ini membuka kembali pertanyaan lama: seberapa banyak pemerintah mengetahui bahaya udara di sekitar Ground Zero ketika masyarakat diberi kesan bahwa kawasan itu aman?

Kombinasi antara munculnya kekhawatiran lintas ideologi terhadap AI dan menguatnya figur progresif seperti Mamdani dan AOC menunjukkan bahwa lanskap politik Amerika Serikat sedang bergeser. Partai Demokrat, yang selama ini dikenal sebagai partai besar dengan beragam faksi, kini menghadapi tekanan dari kiri progresif yang semakin vokal. Sementara itu, isu teknologi seperti AI telah menjadi jembatan yang mempertemukan bahkan lawan politik paling keras sekalipun.

Baca juga:

Peta kekuasaan baru ini tidak hanya tentang siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana isu-isu baru seperti AI dan transparansi pemerintah mengubah cara politik dimainkan. Dari Sanders yang membawa agenda progresif ke panggung bersama Bannon, hingga Mamdani yang membuka arsip 9/11 sambil menghadapi kritik, dinamika ini menunjukkan bahwa Partai Demokrat AS sedang berada dalam fase transformasi. Arah baru partai akan sangat bergantung pada bagaimana mereka mengelola ketegangan antara sayap moderat dan progresif, serta bagaimana mereka merespons kekhawatiran publik terhadap teknologi yang semakin mengancam.

Mungkin Anda Suka