Fokus Surabaya – Beijing melayangkan ancaman keras yang berpotensi mengguncang panggung diplomasi global. Pemerintah China dikabarkan murka dan mengancam membatalkan pertemuan puncak antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sedianya berlangsung pekan ini di Washington D.C. Ancaman itu muncul hanya beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan Xi ke Amerika Serikat, menandai salah satu momen paling tegang dalam hubungan kedua negara dengan perekonomian terbesar dunia tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri China melalui juru bicaranya, Guo Jiakun, telah mengumumkan bahwa Xi akan berada di Amerika Serikat mulai Rabu hingga Jumat. Dalam pernyataan resminya, Guo menyebut kedua pemimpin akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam mengenai isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian dunia. China, kata dia, berkomitmen bekerja sama dengan Washington untuk memperkaya substansi hubungan stabilitas strategis yang konstruktif, memperkuat dialog dan kerja sama, serta mengelola perbedaan secara tepat.
Namun, nada optimistis itu berubah drastis dalam hitungan hari. Sejumlah sumber diplomatik menyebut Beijing sangat tersinggung oleh sejumlah manuver Washington yang dianggap menabrak garis merah China, terutama menjelang kunjungan kenegaraan yang telah direncanakan matang. Ketegangan ini membuat seluruh persiapan akhir kunjungan Xi ke Gedung Putih berada di ujung tanduk.
Agenda Padat yang Penuh Ketegangan
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 24 September 2026, itu merupakan pertemuan kedua Trump dan Xi dalam setahun terakhir. Jika pada Oktober 2025 keduanya bertemu di Beijing, kali ini Trump dijadwalkan menyambut Xi di Gedung Putih. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya menyatakan Trump akan secara pribadi menyambut Xi di Pangkalan Gabungan Andrews sebelum pertemuan digelar keesokan harinya. Kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump sempat berujar bahwa ia akan membahas hampir segalanya dengan Xi.
Meski demikian, sejumlah isu panas diprediksi mendominasi pembicaraan dan justru menjadi sumber ketegangan. Berikut isu-isu utama yang menjadi sorotan:
- Perdagangan dan tarif: Pasar mencermati kemungkinan perpanjangan gencatan senjata tarif yang dijadwalkan berakhir pada 10 November, setelah kedua negara sempat terlibat perang dagang dengan tarif balasan yang melampaui 100 persen.
- Taiwan: Isu paling sensitif, termasuk rencana penjualan senjata AS senilai hingga 14 miliar dolar AS serta desakan Beijing agar Washington menyatakan secara terbuka menentang kemerdekaan Taiwan.
- Kecerdasan buatan dan teknologi: Meningkatnya ketegangan terkait AI serta aturan yang dapat membatasi ribuan perusahaan China memperoleh teknologi canggih AS.
- Mineral kritis dan logam tanah jarang: Washington mendorong China melonggarkan ekspor mineral penting yang dibutuhkan sektor otomotif, kedirgantaraan, dan pertahanan.
- Perang Iran: China sebagai pembeli terbesar minyak ekspor Iran dinilai memiliki pengaruh terhadap Teheran.
- Fentanyl dan kerja sama militer: Kedua negara tengah membahas kemungkinan pengumuman langkah memperkuat hubungan militer.
Di sisi lain, Washington dan Beijing juga membahas pengurangan tarif timbal balik atas barang senilai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp528 triliun. Trump diperkirakan mengejar kesepakatan pembelian besar dari China, termasuk pesawat Boeing dan produk pertanian. China sebelumnya menyatakan akan membeli 200 pesawat Boeing tambahan, sementara pembicaraan lebih luas disebut dapat mencakup hingga 500 unit 737 MAX serta sejumlah pesawat berbadan lebar. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut kedua negara akan membuat sejumlah pengumuman terkait pertanian dan hambatan non-tarif.
Posisi Tawar Xi yang Dinilai Lebih Kuat
Menariknya, sejumlah analis menilai Xi justru datang dengan daya tawar yang lebih besar dibanding awal perang tarif pada masa jabatan kedua Trump. Mesin ekspor China tetap kuat di tengah tekanan perdagangan Amerika Serikat. Ekspor China tercatat melonjak 25 persen secara tahunan pada Agustus 2026, sementara surplus perdagangan bulan itu mencapai 119,09 miliar dolar AS. Dalam delapan bulan pertama 2026, surplus perdagangan China telah menembus 805,51 miliar dolar AS dan berada di jalur kembali menembus 1 triliun dolar AS tahun ini.
Lebih dari separuh dari sekitar 6.500 kategori produk yang diekspor China ke Amerika Serikat sepanjang tahun ini mengalami pertumbuhan dibandingkan 2025, menunjukkan tarif Washington belum sepenuhnya mampu membendung kemampuan China menjual barang ke pasar AS. Meski begitu, ekonomi China tidak tanpa masalah. Permintaan domestik masih lemah dan krisis sektor properti yang berlangsung bertahun-tahun belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga ekspor tetap menjadi penopang utama pertumbuhan.
Jon Czin, pakar kebijakan luar negeri Brookings Institution dan mantan direktur China di Dewan Keamanan Nasional AS, menilai Xi membutuhkan waktu untuk terus memperkuat ketahanan China dan karena itu tidak harus mengejar hasil dramatis dari satu pertemuan. Di sisi lain, Trump memasuki pertemuan dengan situasi politik domestik yang tidak ringan. Survei Reuters/Ipsos terhadap 1.143 responden dewasa mencatat tingkat penerimaan terhadap kinerja Trump sebesar 35 persen, naik dari rekor terendah 33 persen pada survei sebelumnya.
Ketegangan menjelang pertemuan ini juga dibayangi dinamika global. Di New York, sebanyak 152 negara mendukung resolusi Majelis Umum PBB yang menolak keputusan AS melarang delegasi Palestina menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum PBB. Keputusan AS itu dinilai melanggar Perjanjian Markas Besar antara PBB dan AS sebagai negara tuan rumah. Meski tidak berkaitan langsung, dinamika ini menggambarkan betapa terbelahnya lanskap diplomasi global saat ini, termasuk dalam hubungan AS-China.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai apakah pertemuan puncak Trump-Xi akan tetap berjalan sesuai jadwal atau dibatalkan. Namun, ancaman Beijing menjadi sinyal bahwa kedua negara masih jauh dari kata sepakat. Bagi pasar global, ketidakpastian ini menjadi risiko besar mengingat AS dan China merupakan dua mesin utama perekonomian dunia.
Yang paling mungkin terjadi, menurut sejumlah pengamat, bukan kesepakatan besar, melainkan upaya memastikan apakah gencatan perdagangan yang dicapai tahun lalu dapat diperpanjang. Bila pertemuan ini batal, bukan hanya hubungan bilateral yang terguncang, tetapi juga stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. Semua mata kini tertuju ke Washington, menanti apakah diplomasi masih punya ruang di tengah saling ancam dua kekuatan besar.






