Fokus Surabaya – Indeks LQ45 ditutup melemah 1,57 persen ke level 623,26 pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Koreksi ini terjadi seiring dengan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 76,31 poin atau 1,20 persen ke level 6.298,61. Pelemahan indeks saham unggulan tersebut tidak terlepas dari sentimen global dan regional yang masih membayangi pasar modal Indonesia.
Sejak pembukaan pagi, IHSG sudah berada di zona merah. Data perdagangan menunjukkan IHSG dibuka melemah 9,93 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.364,98, sementara indeks LQ45 turun 2,55 poin atau 0,40 persen ke level 630,63. Tekanan berlanjut hingga sesi pertama, dengan IHSG melemah 1,06 persen ke level 6.307. Mayoritas sektor saham kompak berada di zona negatif, terutama bahan baku, energi, infrastruktur, properti, industri, teknologi, keuangan, dan kesehatan.
Berdasarkan data RTI, hingga pukul 09.06 WIB tercatat 300 saham melemah, 174 saham menguat, dan 187 saham stagnan. Nilai transaksi saat itu mencapai sekitar Rp645 miliar dengan volume 1,6 miliar saham. Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 0,94 persen, diikuti sektor energi yang melemah 0,66 persen. Di sisi lain, sektor konsumer siklikal masih menguat 0,62 persen dan konsumer nonsiklikal naik tipis 0,01 persen.
Analis MNC Sekuritas menilai koreksi IHSG sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia. Salah satu pemicunya adalah kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di level 5,11 persen, tertinggi sejak 2007. “Dari sisi teknikal terbuka risiko adanya pelemahan pada IHSG setelah mencatatkan penguatan pada Rabu 23 September 2026 lalu,” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih cukup kuat. Menurutnya, penurunan premi risiko geopolitik belum dapat dianggap permanen karena masih ada perbedaan posisi besar antara negara-negara terkait penghentian operasi militer dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meskipun indeks LQ45 tertekan, sejumlah saham berhasil mencatatkan penguatan. Berdasarkan data BEI, dari 45 konstituen LQ45, sebanyak 6 saham naik, 28 saham turun, dan 3 saham stagnan. Saham AKRA dan MEDC masih perkasa di tengah koreksi, sementara DEWA dan BUMI terpuruk.
Valuasi Menarik di Tengah Koreksi
Di tengah tren pelemahan, sejumlah analis melihat peluang pada saham-saham LQ45 yang secara valuasi tergolong murah. Berdasarkan IDX Company Fact Sheet LQ45 periode Februari-Juli 2026, terdapat lima saham dengan Price to Earnings Ratio (PER) di bawah rata-rata pasar 15,64 kali dan Price to Book Value (PBV) di bawah 1 kali. Kelima saham tersebut adalah:
- Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan PER 4,52 kali dan PBV 0,93 kali. PER tersebut jauh di bawah rata-rata sektor energi sebesar 18,14 kali.
- Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
- Astra International Tbk (ASII)
- Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
- Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
Namun, perlu dicatat bahwa status undervalued dari penyaringan rasio valuasi tidak menjamin harga saham akan naik. Investor tetap perlu mencermati fundamental perusahaan dan kondisi makroekonomi.
Tekanan Global dan Prospek ke Depan
Pelemahan IHSG dan LQ45 juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kenaikan yield obligasi AS dan ketegangan geopolitik. Meski demikian, beberapa sektor seperti konsumer siklikal masih menunjukkan ketahanan. Investor disarankan untuk tetap waspada dan selektif dalam memilih saham, terutama yang memiliki valuasi menarik dan fundamental kuat.
Secara keseluruhan, koreksi indeks LQ45 mencerminkan sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Namun, bagi investor jangka panjang, penurunan ini bisa menjadi kesempatan untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas dengan valuasi yang telah terdiskon.







