Daftar Isi
Fokus Surabaya – Uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara tidak hanya memicu kecaman internasional, tetapi juga menggetarkan fondasi geologis Asia Timur. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa lima ledakan nuklir yang dilakukan antara tahun 2013 dan 2017 di situs Punggye-ri, di bawah Gunung Mantap, telah mengaktifkan kembali sesar purba yang membentang menuju salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia: Changbai Mountain, yang di semenanjung Korea dikenal sebagai Gunung Paektu.
Penelitian gabungan dari ilmuwan China dan Korea Selatan ini menemukan bahwa aktivitas gempa bumi tidak mereda seperti yang diperkirakan. Sebaliknya, gempa terus berlanjut hampir satu dekade dan intensitasnya semakin meningkat. Yang lebih mengkhawatirkan, gempa tersebut merambat melalui dua zona sesar paralel yang mengarah langsung ke perbatasan China-Korea Utara. Di ujung sesar itu terletak Gunung Changbai, gunung berapi dorman yang terakhir meletus dahsyat pada tahun 946 Masehi—salah satu letusan terbesar dalam 2.000 tahun terakhir.
Kekhawatiran Global: Dari Tokachidake hingga Kīlauea
Sementara itu, di Jepang, perhatian tertuju pada Gunung Tokachidake di Hokkaido. Pada 16 September 2026, Komite Riset Vulkanologi pemerintah mengeluarkan evaluasi yang menyebut kemungkinan letusan magmatik dari area puncak Mae-Tokachi, termasuk kawah 62-2 dan kelompok fumarol Furiko-zawa. Status waspada vulkanik telah dinaikkan ke Level 3, dengan zona terlarang diperluas dari 1,5 km menjadi 3 km.
Dalam wawancara dengan CeMI, ahli vulkanologi Dr. Hiroshi Okada menilai situasi ini sebagai tanda aktivitas yang mulai meningkat secara terukur. “Jika dibandingkan dengan episode letusan magmatik sebelumnya, terutama tahun 1968-69, ini adalah situasi yang mulai membuat khawatir,” ujarnya. Meski begitu, Okada menekankan bahwa ancaman langsung terhadap penduduk masih terbatas karena tidak ada permukiman di sekitar puncak. Namun, ia mengingatkan potensi aliran piroklastik besar dan lahar salju yang pernah terjadi pada 1926.
Di sisi lain, di Hawaii, Observatorium Vulkanologi AS (HVO) terus memantau letusan episodik Kīlauea. Sejak Episode 5 pada Januari 2025, HVO telah mengeluarkan jendela prakiraan untuk semburan lava di Kawah Halemaʻumaʻu. Prakiraan ini didasarkan pada data tiltmeter yang mengukur inflasi kembali ruang magma. Namun, sejak pembukaan ventilasi baru pada 14-16 September, pola inflasi menjadi tidak stabil, sehingga prakiraan ke depan menjadi lebih menantang.
Misteri Dua Rantai Gunung Bawah Laut di Lepas Pantai Australia
Tidak hanya di daratan, dunia bawah laut juga menyimpan teka-teki geologis. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Gondwana Research mengungkap bagaimana dua rantai gunung bawah laut—Lord Howe dan Tasmantid—yang berjalan hampir sejajar di Laut Tasman, dapat terbentuk. Keduanya berasal dari plume mantel yang sama, yang terdefleksi oleh lempeng samudra purba yang tenggelam di zona subduksi dan berhenti pada kedalaman sekitar 500 km. Temuan ini menjelaskan fenomena langka: dua rantai gunung api di tengah lempeng tektonik.
Pelajaran dari Dinamika Bumi
Dari Korea Utara hingga Jepang, Hawaii, dan Australia, dinamika bumi menunjukkan bahwa aktivitas manusia—seperti uji nuklir—dapat memicu respons geologis yang jauh melampaui perkiraan. Sesar purba yang terbangunkan oleh ledakan nuklir di Punggye-ri menjadi pengingat bahwa batas antara intervensi manusia dan kekuatan alam sangat tipis. Sementara itu, pemantauan ketat di Tokachidake dan Kīlauea menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi letusan yang bisa datang tanpa peringatan.
Para ilmuwan sepakat bahwa memahami pola inflasi, deflasi, dan perambatan sesar adalah kunci untuk memprediksi masa depan. Namun, ketidakpastian tetap ada, dan masyarakat di sekitar gunung berapi harus terus waspada. Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik di berbagai belahan dunia, kolaborasi internasional dalam riset dan mitigasi bencana menjadi semakin mendesak.








