Ekonomi

Morgan Stanley Untung Rp 2,7 Miliar saat Borong 400 Juta Saham GOTO di Bawah Harga Pasar, Sinyal Apa di Balik Aturan Batas Bawah Rp 1?

Morgan Stanley Untung Rp 2,7 Miliar saat Borong 400 Juta Saham GOTO di Bawah Harga Pasar, Sinyal Apa di Balik Aturan Batas Bawah Rp 1?
Morgan Stanley Untung Rp 2,7 Miliar saat Borong 400 Juta Saham GOTO di Bawah Harga Pasar, Sinyal Apa di Balik Aturan Batas Bawah Rp 1?
Daftar Isi
  1. Aturan Batas Bawah Rp 1 dan Nasib Saham Gocap
  2. Fundamental yang Mulai Membaik di Tengah Sentimen Negatif
  3. Antisipasi BEI dan Strategi Investor Besar
  4. Kesimpulan
A− A+

Fokus Surabaya – JAKARTA — Pasar saham Indonesia tengah menyaksikan babak baru yang menegangkan bagi salah satu emiten teknologi terbesar di Tanah Air, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di tengah derasnya antrean jual yang mengular hingga ratusan juta lot, sebuah transaksi jumbo justru dilakukan oleh investor raksasa asing, Morgan Stanley & Co International Plc, yang memborong 400 juta saham GOTO di bawah harga pasar. Aksi ini tidak hanya mengubah peta kepemilikan saham, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya sedang dibaca oleh investor global terhadap prospek GOTO?

Transaksi tersebut terjadi pada 18 September 2026. Morgan Stanley membeli 400 juta saham GOTO melalui mekanisme pasar negosiasi dengan harga Rp 27 per saham. Padahal, pada saat yang sama, harga saham GOTO di pasar reguler masih bertahan di level Rp 50 atau yang dikenal dengan istilah gocap. Dengan selisih harga yang cukup dalam, Morgan Stanley berpotensi menikmati keuntungan atau unrealized gain sekitar Rp 9,2 miliar jika harga pasar tetap di level Rp 50. Namun, jika mengacu pada potensi harga baru pasca-aturan batas bawah Rp 1, perhitungan keuntungan bisa berada di kisaran Rp 2,7 miliar, tergantung pada keseimbangan harga yang terbentuk nantinya.

Baca juga:

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), tujuan transaksi tersebut adalah murni untuk investasi dengan status kepemilikan langsung. Setelah aksi ini, kepemilikan Morgan Stanley di GOTO melonjak menjadi 80,93 miliar saham atau setara 7,0299 persen dari total modal ditempatkan dan disetor. Sebelumnya, institusi keuangan global itu menggenggam 80,54 miliar saham atau sekitar 6,9951 persen.

Aturan Batas Bawah Rp 1 dan Nasib Saham Gocap

Langkah Morgan Stanley ini bertepatan dengan kebijakan baru BEI yang akan menerapkan harga minimum saham Rp 1 per saham, turun drastis dari batas bawah sebelumnya Rp 50. Aturan ini mulai berlaku pada 28 September 2026. Kebijakan ini menjadi angin segar sekaligus momok bagi emiten yang sahamnya sudah lama terjebak di level gocap, termasuk GOTO yang bertahan di Rp 50 sejak 5 Mei 2026.

Sejak kabar kebijakan ini mencuat, antrean jual saham GOTO terus membengkak. Pada perdagangan Selasa (22/9), total antrean jual mencapai 393,83 juta lot atau setara 39,38 miliar saham. Bahkan, pada Rabu (23/9), antrean jual mengular hingga 392,50 juta lot. Meski secara historis antrean ini sedikit menurun dibandingkan catatan 9 September yang mencapai 400,46 juta lot, tekanannya tetap sangat besar.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai bahwa saham GOTO masih berisiko tertekan dan volatilitasnya tinggi dalam jangka pendek setelah batas bawah Rp 50 dibuka. “Perubahan aturan menjadi Rp 1 tidak otomatis membuat GOTO menjadi saham gorengan,” ujar Thoriq kepada Katadata.co.id. Ia menekankan bahwa GOTO masih memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan basis investor institusi yang kuat.

Baca juga:

Fundamental yang Mulai Membaik di Tengah Sentimen Negatif

Di balik tekanan pasar, fundamental GOTO sejatinya menunjukkan perbaikan. Pada semester I 2026, pendapatan bersih perseroan tumbuh 28 persen secara tahunan menjadi Rp 10,99 triliun. EBITDA yang disesuaikan juga melonjak 134 persen menjadi Rp 1,92 triliun. Pencapaian ini menunjukkan bahwa bisnis inti GOTO, terutama di segmen on-demand services dan fintech, mulai menemukan titik terang.

Namun, sentimen negatif datang dari kebijakan pemerintah yang membatasi komisi layanan GoRide menjadi 8 persen dari sebelumnya sekitar 20 persen sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini memaksa GOTO memangkas target EBITDA bisnis On-Demand Services 2026 menjadi Rp 1,4 hingga Rp 1,5 triliun, dari sebelumnya Rp 1,7 hingga Rp 1,8 triliun.

Thoriq menambahkan bahwa dalam jangka pendek pasar masih mencari keseimbangan harga baru. “Investor jangka menengah perlu melihat apakah pertumbuhan fintech mampu mengimbangi tekanan margin dari bisnis transportasi,” jelasnya.

Antisipasi BEI dan Strategi Investor Besar

Menghadapi potensi gejolak, BEI mengklaim telah melakukan simulasi dan pengukuran dampak. Direktur Penilaian BEI, Iding Pardi, menyatakan bahwa bursa telah memperhitungkan kondisi kepemilikan saham dan transaksi di pasar, termasuk transaksi negosiasi GOTO yang berlangsung di bawah harga Rp 50. “Kalau pun terjadi penjualan yang menekan harga, impact-nya sudah kita ukur ke market. Tidak terlalu besar dan masih manageable,” kata Iding di gedung BEI.

Baca juga:

Bagi investor besar seperti Telkomsel dan Morgan Stanley, fluktuasi harga jangka pendek mungkin tidak terlalu mengganggu karena kecenderungan mereka menyimpan saham untuk jangka panjang. Strategi Morgan Stanley membeli di harga Rp 27 per saham justru menunjukkan keyakinan bahwa harga tersebut undervalued dibandingkan potensi jangka panjang GOTO.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai kebijakan harga minimum Rp 1 yang diikuti penyesuaian auto rejection membuat price discovery saham menjadi lebih fleksibel. “Konsekuensinya, investor harus semakin disiplin terhadap risiko,” ujarnya.

Kesimpulan

Transaksi Morgan Stanley senilai Rp 10,8 miliar untuk 400 juta saham GOTO di harga Rp 27 per saham adalah sinyal kuat bahwa investor asing melihat nilai jangka panjang di tengah kepanikan pasar. Dengan potensi keuntungan Rp 2,7 miliar hingga Rp 9,2 miliar, langkah ini menjadi cermin bahwa aturan batas bawah Rp 1 tidak selalu berarti malapetaka, melainkan membuka ruang bagi price discovery yang lebih sehat. Namun, bagi investor ritel, risiko floating loss dan volatilitas tinggi tetap harus diwaspadai. Kunci utamanya ada pada kemampuan GOTO menjaga pertumbuhan fintech dan menyeimbangkan tekanan margin di bisnis transportasi.

Mungkin Anda Suka