Fokus Surabaya – Jakarta – Pasar modal Indonesia tengah bersiap menghadapi babak baru dengan penerapan aturan batas bawah harga saham Rp1 yang akan efektif pada 28 September 2026. Kebijakan ini menggantikan batas bawah sebelumnya di level Rp50, yang akrab disebut gocap. Bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), aturan ini menjadi sorotan karena sahamnya telah lama bertahan di level Rp50 sejak Mei 2026. Kini, GOTO berada di pusaran perubahan besar yang bisa mengubah lanskap investasi di emiten teknologi terbesar Tanah Air tersebut.
Pada perdagangan Rabu (23/9), antrean jual saham GOTO mengular hingga 392,50 juta lot, mencerminkan kekhawatiran pasar menjelang implementasi aturan baru. Namun, di tengah kepanikan tersebut, langkah mengejutkan datang dari investor institusi global. Morgan Stanley & Co International PLC justru memborong 400 juta saham GOTO melalui pasar negosiasi pada 18 September 2026 dengan harga Rp27 per saham. Transaksi senilai Rp10,8 miliar itu meningkatkan kepemilikan Morgan Stanley dari 80,54 miliar saham (6,9951%) menjadi 80,94 miliar saham (7,0299%). Aksi ini tercatat dalam laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 23 September 2026.
Keputusan Morgan Stanley untuk terus mengakumulasi saham GOTO di tengah volatilitas pasar dinilai sebagai sinyal positif. Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai bahwa langkah tersebut menunjukkan kepercayaan institusional yang tinggi terhadap prospek jangka panjang GOTO. “Morgan Stanley melihat nilai intrinsik dan prospek jangka panjang yang kuat pada ekosistem GoTo. Ini juga menegaskan tren profitabilitas perseroan yang mulai membaik,” ujar Thoriq kepada Katadata.co.id, Rabu (23/9).
Meski demikian, Thoriq mengingatkan bahwa perubahan aturan batas bawah harga menjadi Rp1 tidak otomatis membuat GOTO menjadi saham gorengan. “GOTO masih memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan basis investor institusi. Fundamental perseroan juga mulai membaik, tercermin dari pendapatan bersih semester I 2026 yang tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp10,99 triliun. EBITDA yang disesuaikan juga melonjak 134% menjadi Rp1,92 triliun,” jelasnya.
Namun, sentimen negatif masih membayangi. Kebijakan pemerintah yang membatasi komisi GoRide menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20% sejak 1 Juli 2026 telah memaksa GOTO memangkas target EBITDA bisnis On-Demand Services 2026 menjadi Rp1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan tekanan margin dari bisnis transportasi yang selama ini menjadi tulang punggung perseroan.
Di sisi lain, GOTO tengah menyiapkan langkah korporasi strategis. Perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026. Agenda utamanya adalah permintaan persetujuan untuk pembatalan saham tresuri sekitar 32 miliar lembar saham atau setara 2,7% dari total saham beredar. Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa pembatalan saham tresuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar sekaligus meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham yang ada secara proporsional. “Langkah ini memberikan manfaat langsung bagi seluruh pemegang saham GoTo saat ini. Kami berkomitmen menciptakan nilai tambah dan menerapkan standar tertinggi tata kelola perusahaan,” ujar Hans.
Selain itu, RUPSLB juga akan membahas pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo dari jabatannya sebagai Wakil Direktur Utama. Hans menambahkan bahwa Catherine memutuskan untuk berfokus pada keluarga dan alasan pribadi. “Kami telah mempersiapkan transisi ini dengan baik, sehingga prosesnya dapat berjalan tanpa mengganggu operasional bisnis,” pungkasnya.
Bagi investor, terutama investor ritel, penerapan batas bawah Rp1 menuntut kewaspadaan ekstra. Fluktuasi harga saham GOTO diperkirakan akan semakin kencang setelah aturan berlaku. Investor jangka pendek perlu mencermati keseimbangan harga baru, sementara investor jangka menengah harus melihat apakah pertumbuhan bisnis fintech mampu mengimbangi tekanan margin dari bisnis transportasi. Di sisi lain, kehadiran investor besar seperti Morgan Stanley dan Telkomsel yang cenderung menyimpan saham untuk jangka panjang dapat menjadi jangkar stabilitas.
Dengan fundamental yang mulai membaik, dukungan investor institusi global, dan langkah efisiensi yang terus dilakukan, GOTO memiliki modal untuk melewati masa transisi ini. Namun, tanpa kehati-hatian, investor kecil bisa terjebak dalam volatilitas yang tinggi. Pada akhirnya, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada riset mendalam dan pemahaman akan risiko, terutama di era baru pasar modal dengan batas bawah Rp1.







