News

Tragedi Bocah SD Diterkam Buaya di Sungai Cantung Kotabaru, Kondisi Tubuh Korban Membuat Warga Syok

Tragedi Bocah SD Diterkam Buaya di Sungai Cantung Kotabaru, Kondisi Tubuh Korban Membuat Warga Syok
Tragedi Bocah SD Diterkam Buaya di Sungai Cantung Kotabaru, Kondisi Tubuh Korban Membuat Warga Syok
A− A+

Fokus Surabaya – Kotabaru, Kalsel – Duka mendalam menyelimuti warga Desa Cantung Kiri, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, setelah seorang bocah Sekolah Dasar (SD) berusia delapan tahun menjadi korban keganasan seekor buaya di Sungai Cantung. Peristiwa nahas yang terjadi pada Selasa (29/9/2026) sore itu membuat warga sekitar dilanda kepanikan dan kesedihan yang mendalam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, korban yang diketahui bernama Rifki (8) tengah mandi bersama tiga orang temannya di tepi sungai yang tidak jauh dari permukiman warga. Saat itu, kondisi air sungai sedang surut, sehingga anak-anak tersebut merasa aman untuk bermain di perairan tersebut. Namun, tanpa diduga, seekor buaya muara yang diduga sedang mencari makan tiba-tiba muncul dan langsung menerkam tubuh korban dari arah belakang.

“Kejadiannya sangat cepat sekali. Tiba-tiba saja buaya itu muncul dan langsung menggigit bagian pinggang korban. Teman-temannya yang melihat kejadian itu langsung berlari ke kampung untuk meminta pertolongan,” ujar salah seorang warga, Rahmat (45), saat ditemui di lokasi kejadian.

Warga yang mendapatkan laporan tersebut langsung berbondong-bondong menuju lokasi. Puluhan orang tua dan pemuda berusaha melakukan pencarian dengan menggunakan perahu kayu dan alat seadanya. Sempat terjadi kepanikan karena buaya tersebut tidak segera melepaskan korbannya dan sempat menarik tubuh Rifki ke tengah sungai yang lebih dalam.

Setelah dilakukan upaya pencarian selama kurang lebih dua jam, akhirnya warga berhasil menemukan tubuh korban yang sudah tidak bernyawa di dasar sungai, sekitar 50 meter dari lokasi awal kejadian. Namun, kondisi tubuh bocah malang tersebut sangat memprihatinkan. Terdapat luka robek yang cukup lebar di bagian pinggang dan perut akibat gigitan buaya. Warga yang melihat kondisi tersebut langsung histeris dan tidak tega menyaksikan tubuh korban yang sudah tidak utuh lagi.

“Kondisi tubuh korban sangat memprihatinkan. Ada luka gigitan yang sangat dalam. Kami langsung mengevakuasi tubuh korban ke rumah duka untuk disemayamkan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotabaru, melalui pesan singkatnya.

Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi keluarga korban. Ibu korban, Siti (35), tidak henti-hentinya menangis sambil memeluk jenazah anaknya. Ia mengaku tidak menyangka bahwa sungai yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci itu menyimpan bahaya yang mengancam nyawa. “Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Anak saya pergi begitu cepat. Kami sudah sering mengingatkan agar tidak mandi di sungai, tapi anak-anak tetap saja pergi,” ujarnya dengan mata sembab.

Pemerintah Desa setempat bersama pihak kepolisian dan BPBD langsung melakukan koordinasi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Selain mengevakuasi korban, petugas juga memasang papan peringatan di sekitar lokasi kejadian agar warga, terutama anak-anak, tidak lagi mandi atau bermain di sungai tersebut. Petugas juga melakukan penyisiran untuk memastikan keberadaan buaya yang masih berkeliaran.

“Kami sudah memasang papan peringatan dan akan berkoordinasi dengan BKSDA untuk penanganan buaya tersebut. Kami juga mengimbau kepada seluruh orang tua agar lebih ketat mengawasi anak-anaknya. Jangan biarkan mereka bermain di sungai, apalagi saat air surut karena buaya sering muncul ke permukaan,” tegas Camat Kelumpang Hulu, Ahmad Yani.

Kasus serupa sebenarnya bukan pertama kali terjadi di wilayah Kalimantan Selatan. Beberapa tahun terakhir, konflik antara manusia dan buaya di sungai-sungai yang berada di sekitar kawasan hutan mangrove dan perkebunan sawit memang cenderung meningkat. Hal ini diduga akibat berkurangnya habitat alami buaya karena alih fungsi lahan, sehingga satwa tersebut masuk ke permukiman warga untuk mencari makan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, dalam keterangan terpisah, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di perairan yang menjadi habitat buaya. Menurutnya, buaya muara (Crocodylus porosus) adalah satwa yang dilindungi dan memiliki sifat teritorial yang tinggi, terutama pada musim bertelur. “Kami meminta masyarakat untuk tidak mandi atau mencuci di sungai yang sudah diketahui ada buayanya. Jika terpaksa, pastikan ada pengawasan dan jangan berenang terlalu jauh dari tepian,” pesannya.

Peristiwa ini juga menyita perhatian publik di media sosial. Banyak warganet yang menyampaikan belasungkawa dan mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya satwa buas di perairan. Beberapa di antaranya bahkan meminta pemerintah daerah untuk segera melakukan relokasi buaya yang berkeliaran di sekitar permukiman.

Pelajaran Penting dari Tragedi Sungai Cantung

Tragedi yang menimpa Rifki menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa sungai bukanlah tempat bermain yang aman, terutama bagi anak-anak. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali, di antaranya:

  • Pengawasan Orang Tua: Orang tua wajib mengawasi anak-anak saat bermain di luar rumah, terutama di dekat sungai, danau, atau laut.
  • Edukasi Bahaya Satwa Buas: Sekolah dan lingkungan keluarga perlu memberikan pemahaman tentang bahaya buaya dan satwa buas lainnya.
  • Papan Peringatan: Pemerintah desa harus memasang rambu-rambu peringatan di area rawan buaya.
  • Koordinasi dengan BKSDA: Masyarakat dapat melaporkan keberadaan buaya kepada pihak berwenang untuk penanganan lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah korban masih berada di rumah duka dan akan dimakamkan pada Rabu pagi. Pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian korban dan berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat.

Kasus ini juga menjadi sorotan bagi pemerintah daerah untuk lebih serius menangani konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di daerah aliran sungai yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Tanpa langkah nyata, dikhawatirkan korban berikutnya akan kembali berjatuhan.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka