Ekonomi

B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Stok B40 Masih Boleh Dipakai hingga Akhir September

B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Stok B40 Masih Boleh Dipakai hingga Akhir September
B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Stok B40 Masih Boleh Dipakai hingga Akhir September
A− A+

Fokus SurabayaJakarta – Program mandatori biodiesel 50% (B50) resmi mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Meski demikian, pemerintah memberikan masa transisi dengan mengizinkan penggunaan stok bahan bakar biodiesel 40% (B40) hingga akhir September 2026. Kebijakan ini diambil untuk memastikan kelancaran distribusi dan menghindari gejolak di pasar selama masa peralihan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa program B50 akan tetap dilanjutkan pada 2027. Menurutnya, masa penerapan awal ini dimanfaatkan untuk memperkuat rantai pasok, mulai dari ketersediaan bahan baku, kesiapan produsen, infrastruktur, hingga distribusi biodiesel ke pengguna akhir.

Baca juga:

“Target B50 ini ditargetkan tetap untuk tahun 2027. Kami ingin memastikan komitmen penyaluran B50 di pasar berjalan tanpa kendala, sehingga dibutuhkan kolaborasi erat dengan seluruh rantai pasok dan pengiriman guna mendorong investasi serta pemenuhan volume,” ujar Eniya dalam sambutan daring pada 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/9/2026).

Eniya menjelaskan bahwa peningkatan kadar biodiesel dari B40 ke B50 membutuhkan penyesuaian di berbagai sektor. Pasokan bahan baku seperti minyak sawit mentah (CPO) harus dipastikan cukup, kapasitas produksi produsen biodiesel perlu ditingkatkan, dan infrastruktur logistik harus siap. Selain itu, pemerintah juga perlu menjamin kepastian volume agar implementasi B50 berjalan konsisten.

Bagi industri biodiesel, keberlanjutan program ini memberikan kepastian dalam menyusun rencana produksi dan investasi. Produsen memiliki ruang untuk memperkuat kapasitas sekaligus menyesuaikan rantai pasok dengan kebutuhan biodiesel yang semakin besar. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi bersih.

Baca juga:

Meski B50 baru dimulai, pembahasan mengenai peningkatan kadar campuran biodiesel ke B60 sudah mulai mengemuka. Namun, Eniya menyebut penerapan campuran hingga 60% masih menghadapi tantangan teknis, terutama jika tambahan campuran seluruhnya mengandalkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) untuk mengisi tambahan porsi campuran tersebut. Dengan skema ini, tambahan 10% menuju B60 berpotensi berasal dari HVO.

Pemerintah akan terus memantau perkembangan implementasi B50 di lapangan. Sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha juga dilakukan untuk memastikan pemahaman yang sama mengenai kebijakan ini. Diharapkan, transisi dari B40 ke B50 dapat berjalan mulus tanpa mengganggu pasokan bahan bakar nasional.

Dengan berlakunya B50, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen biodiesel terbesar di dunia. Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada penguatan ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah industri sawit. Pemerintah optimistis target B50 dapat tercapai dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka