Fokus Jepara – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional turun 4,8%, dan ditutup ke US$ 84,09 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 4%, dan ditutup ke level US$ 79,26 per barel.
Penurunan harga minyak ini terjadi saat Iran melakukan pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman. Diplomat senior Iran, Seyyed Abbas Araqchi, melakukan pembicaraan terpisah melalui sambungan telepon dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi dan Oman.
Mereka membahas perlunya “menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan pihak Iran tersebut. Jeda pertempuran antara AS dan Iran tampaknya masih bertahan pada Selasa, sehingga memunculkan harapan akan adanya de-eskalasi dalam konflik Timur Tengah yang telah mengganggu pasokan energi.
Teheran telah membantah laporan yang menyebutkan mereka telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari dengan AS. Akan tetapi, memang terjadi jeda serangan untuk sementara waktu. Hal ini menyusul laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS.
Presiden Donald Trump yang pada Jumat mengatakan kepada Axios sedang mempertimbangkan “serangan besar-besaran” terhadap Iran, kemudian menunda rencana tersebut di tengah kekhawatiran mengenai stok persenjataan. Hal itu seperti dilaporkan The New York Times.
Saat berbicara kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin dalam perjalanan menuju Michigan, Trump menepis anggapan AS kekurangan senjata. Ia mengatakan, militer memiliki persediaan amunisi yang “melimpah”.
Commonwealth Bank of Australia pada hari Selasa menyatakan penurunan harga minyak baru-baru ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan eskalasi langsung antara AS dan Iran. Namun, Goldman Sachs memperingatkan risiko terhadap pasokan energi global masih tetap tinggi.
Meskipun “jeda dalam permusuhan AS-Iran tampaknya telah meredam ekspektasi bahwa konflik akan meningkat hingga mencakup serangan signifikan terhadap infrastruktur sipil dan energi,” demikian pernyataan bank tersebut dalam sebuah catatan, mereka juga memperingatkan bahwa perselisihan terkait jalur pelayaran vital Selat Hormuz “dapat memicu kembali permusuhan.”
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mengumumkan bahwa harga Pertamax akan disesuaikan. Langkah ini merespons pergerakan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif akibat ketegangan geopolitik global. Penetapan harga Pertamax nantinya bakal memperhitungkan skema Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dari Pertamina yang ditambahkan dengan margin keuntungan.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menggarisbawahi bahwa fluktuasi harga Pertamax sangat dipengaruhi oleh pasar internasional. Menurutnya, dinamika geopolitik yang tengah berlangsung memicu tingkat ketidakpastian yang tinggi pada harga pasar dunia.
Oleh sebab itu, Kementerian ESDM akan menghitung rata-rata harga minyak global secara berkala. Jika tren rata-rata menunjukkan penurunan dibanding periode sebelumnya, peluang penurunan harga Pertamax oleh Pertamina terbuka lebar.
Kesimpulan, harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Penurunan ini terjadi saat Iran melakukan pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman. Kementerian ESDM juga mengumumkan bahwa harga Pertamax akan disesuaikan. Langkah ini merespons pergerakan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif akibat ketegangan geopolitik global.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
