Metropolitan

Kualitas Udara Jakarta Hari Ini di Bawah Bayang-Bayang Karhutla: Waspada ISPA di Puncak Musim Hujan

Kualitas Udara Jakarta Hari Ini di Bawah Bayang-Bayang Karhutla: Waspada ISPA di Puncak Musim Hujan
Kualitas Udara Jakarta Hari Ini di Bawah Bayang-Bayang Karhutla: Waspada ISPA di Puncak Musim Hujan
A− A+

Fokus Surabaya – Kualitas udara Jakarta hari ini kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah Indonesia. Meski langit ibu kota tidak selalu tampak kelabu, data pemantauan udara nasional menunjukkan ancaman serius dari polusi partikulat yang berdampak langsung pada kesehatan warga.

Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Selasa (22/9/2026) pukul 18.00 WIB, sejumlah provinsi mencatat kualitas udara sangat buruk. Kalimantan Tengah menempati posisi terburuk dengan indeks 2230, disusul Kalimantan Barat 591, dan Kalimantan Selatan 567. Ketiga provinsi tersebut masuk kategori berbahaya yang berpotensi merugikan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Baca juga:

Angka ISPU dihitung dari tujuh parameter pencemar udara, yakni PM10, PM2.5, NO2, SO2, CO, O3, dan HC, yang diukur di 72 stasiun pemantauan di berbagai daerah. Merujuk Permen LHK No. 14 Tahun 2020, rentang 0-50 berarti kualitas udara baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Kondisi ini diperparah oleh dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 151.000 kasus ISPA hingga 16 September 2026, tersebar di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Untuk menanganinya, Kemenkes mengerahkan 1.898 tenaga kesehatan guna memperluas akses layanan medis bagi lebih dari 13 juta masyarakat terdampak.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menyatakan pengerahan personel bertujuan mendekatkan pertolongan medis langsung kepada masyarakat sekaligus memperkuat tenaga kesehatan daerah. Pemerintah juga menyalurkan 1.927.554 lembar masker, 280 unit mesin pekat oksigen, 36 tabung oksigen, serta 328 dus makanan tambahan, obat-obatan, dan vitamin.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperketat pengawasan di daerah rawan bencana hidrometeorologi basah seiring puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, memaparkan puncak musim hujan akan terkonsentrasi pada tiga bulan tersebut dengan durasi musim yang lebih singkat dari normalnya.

Baca juga:

Sebaran puncak musim hujan dimulai Desember 2026 di 155 Zona Musim (ZOM) meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi bagian utara. Pada Januari 2027, puncak hujan bergeser ke 162 ZOM yang mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan bagian barat, hingga sebagian besar Papua. Sementara Februari 2027, sebanyak 140 ZOM diperkirakan mengalami puncak musim hujan di Sulawesi bagian tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua bagian selatan.

BMKG mengingatkan ancaman banjir dan tanah longsor berpotensi tinggi melanda daerah topografi curam dan wilayah rawan historis, seperti sepanjang Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, pesisir barat Sumatera, Sumatra Utara, dan Aceh. Indikasi pergerakan indeks Dipole Mode ke arah positif di Samudra Hindia juga terus dipantau karena dapat menambah intensitas curah hujan, terutama di wilayah Sumatera.

Di tengah tekanan polusi dan cuaca ekstrem, kesadaran masyarakat urban akan lingkungan bersih justru tumbuh. Fenomena kebun kopi tersembunyi di pinggiran Jakarta, seperti Sentul, Bogor, Bekasi, dan Depok, menjadi oase hijau yang menawarkan udara segar sekaligus edukasi pertanian berkelanjutan. Kawasan pada ketinggian 400 hingga 800 mdpl ini cocok untuk budidaya kopi Robusta dan Arabika, ditanam berdampingan dengan pohon pelindung seperti petai atau sengon.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan warga untuk melindungi diri dari dampak buruk kualitas udara:

Baca juga:
  • Memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
  • Mengurangi aktivitas luar ruangan pada pagi hari ketika konsentrasi polutan cenderung tinggi.
  • Menjaga sirkulasi udara dalam ruangan dan menggunakan penyaring udara bila tersedia.
  • Memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi untuk menjaga imunitas.
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala ISPA seperti batuk, pilek, atau sesak napas.

Pemerintah daerah juga didorong memperkuat kesiapsiagaan, termasuk di sektor pariwisata, terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan BPBD DKI Jakarta bersama BMKG di wilayah Jabodetabek menjadi salah satu upaya menjaga kualitas udara, ketersediaan air bersih, serta menekan dampak abu vulkanik.

Dengan kombinasi polusi udara, karhutla, dan puncak musim hujan yang akan datang, masyarakat Jakarta dan sekitarnya perlu meningkatkan kewaspadaan. Kualitas udara Jakarta hari ini bukan sekadar angka di layar, melainkan cerminan kondisi lingkungan yang menuntut aksi nyata dari pemerintah dan warga. Menjaga kesehatan pernapasan, memantau informasi cuaca resmi, serta mendukung program penghijauan kota menjadi kunci menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Mungkin Anda Suka