Daftar Isi
Fokus Surabaya – Ketegangan geopolitik yang berlarut-larut antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat ke permukaan. Di podium Sidang Majelis Umum PBB di New York, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menuduh Teheran sebagai biang keladi yang membuat konflik terus meledak. Menurutnya, Iran berulang kali menolak proposal kesepakatan damai yang diajukan Washington, sehingga stabilitas kawasan Timur Tengah tetap berada di ujung tanduk.
“Sekali lagi, saya mendesak Iran untuk membuat kesepakatan. Dan sekali lagi, mereka menolak,” ujar Trump dalam pidatonya. Ia pun berjanji akan melarang Iran memiliki senjata nuklir dan memprediksi harga minyak dunia bakal anjlok. Pemerintah AS memproyeksikan kesepakatan damai baru dengan Iran dapat terwujud tak lama setelah pemilu paruh waktu AS selesai, dengan alasan langkah kompromi merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi Teheran demi mengakhiri ketegangan yang berlarut-larut.
Dampak Perang terhadap Emisi Tiongkok
Di sisi lain, dampak dari ketegangan geopolitik ini ternyata merembet ke ranah lingkungan. Konflik yang berkepanjangan di kawasan penghasil minyak telah memaksa Tiongkok untuk mempercepat transisi energinya. Ketika pasokan minyak mentah global terganggu, konsumsi minyak di Negeri Panda justru anjlok seiring dengan pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik di jalanan mereka. Fenomena ini secara signifikan memangkas emisi karbon Tiongkok, menjadikannya salah satu negara yang paling agresif dalam menekan polusi udara.
Penurunan konsumsi minyak ini tidak terlepas dari kebijakan Tiongkok yang gencar mendorong elektrifikasi transportasi. Jutaan kendaraan listrik yang melaju di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen telah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Alhasil, meski ketegangan di Timur Tengah terus memanas, emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi Tiongkok justru mencatatkan tren penurunan yang signifikan.
Peta Jalan Net Zero Emission di Indonesia
Sementara itu, di dalam negeri, langkah serupa juga mulai diambil oleh sektor industri. PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050 sebagai bagian dari peta jalan menuju Net Zero Emission. Target ambisius tersebut ditempuh melalui efisiensi energi, pemanfaatan kembali CO2, penggunaan energi terbarukan, pengembangan amonia bersih, serta solusi berbasis alam.
Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia PT Pupuk Indonesia, Erlangga Rismantojo, menyatakan target tersebut setara dengan penurunan sekitar 24,9 juta ton CO2 ekuivalen melalui inisiatif berbasis teknologi. Dengan tambahan nature-based solutions, penurunan emisi ditargetkan mencapai 100 persen.
“Pupuk Indonesia telah menyusun peta dekarbonisasi. Hingga tahun 2050 target kami adalah menurunkan emisinya sampai 96 persen atau sekitar 24,9 juta ton CO2 ekuivalen melalui technology based initiatives dan mencapai penurunan emisi 100 persen dengan tambahan inisiatif berbasis alam,” ujar Erlangga dalam sesi Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness pada Katadata SAFE 2026 di Jakarta.
Langkah Nyata Industri
Menurut Erlangga, efisiensi energi menjadi salah satu langkah utama untuk menekan konsumsi gas bumi sekaligus emisi dari proses produksi. Modernisasi dan optimasi fasilitas juga dilakukan untuk menjaga daya saing industri dengan intensitas karbon yang lebih rendah. Upaya dekarbonisasi juga diarahkan pada pemanfaatan emisi sebagai bahan baku, salah satunya melalui pengembangan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur, yang memanfaatkan CO2 dari proses produksi untuk menghasilkan bahan baku bagi industri kaca dan deterjen.
“CO2 ini menjadi bahan baku yang kami olah sehingga menjadi produk soda ash. Soda ash ini menjadi bahan baku untuk industri kaca, industri deterjen dan lain sebagainya,” jelas Erlangga.
Kesimpulan
Dinamika geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya ketegangan AS-Iran, telah memicu efek domino yang tak terduga. Di satu sisi, ketidakpastian pasokan minyak global mendorong Tiongkok untuk semakin gencar mengembangkan kendaraan listrik, yang berujung pada penurunan konsumsi minyak dan pemangkasan emisi karbon secara signifikan. Di sisi lain, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan juga tumbuh di negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang mulai menyusun peta jalan menuju Net Zero Emission. Transisi energi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas iklim global di tengah ketidakpastian politik dunia.





