Fokus Jepara – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini meninjau langsung demonstrasi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Gorontalo. PM-AAS merupakan pendekatan budi daya inovatif yang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada pangan. Sistem ini diklaim mampu mendorong hasil panen padi hingga lebih dari 10 ton, bahkan mencapai 12,4 ton per hektare pada sejumlah uji lapangan.
Angka ini jauh melampaui produktivitas rata-rata nasional yang berkisar lima hingga enam ton gabah per hektare. Peningkatan signifikan ini diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor beras. Inovasi ini menjadi instrumen penting dalam strategi pemerintah untuk terus meningkatkan produksi beras nasional yang telah menunjukkan surplus dalam dua tahun terakhir.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya sosialisasi dan penerapan PM-AAS secara luas kepada petani di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mewujudkan swasembada di setiap tingkatan wilayah, dari desa hingga provinsi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa PM-AAS bukanlah teknologi impor, melainkan hasil riset dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun.
Sistem ini menggabungkan pengalaman budi daya lokal dengan praktik pertanian modern dari berbagai negara. Fondasi utamanya tetap menggunakan sistem jajar legowo yang telah dikenal petani Indonesia secara turun temurun. Kementerian Pertanian mengadopsi teknik budi daya dari Arkansas, Amerika Serikat, serta pendekatan pertanian presisi yang berkembang di China.
Kombinasi ini melahirkan tiga prinsip utama PM-AAS. Prinsip-prinsip tersebut meliputi optimasi fotosintesis melalui pengaturan jarak tanam pola 4:1 dan 6:1, peningkatan populasi tanaman bertahap, serta efisiensi penggunaan benih, pupuk, dan air. Di lapangan, PM-AAS diwujudkan melalui metode tanam benih langsung dengan populasi tanaman yang lebih padat, namun tetap menjaga sirkulasi udara dan cahaya matahari.
Kepadatan tanaman dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan pola konvensional. Dosis pemupukan juga disesuaikan hingga sekitar satu setengah kali rekomendasi standar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Pendekatan ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil panen tidak hanya bergantung pada penambahan luas lahan.
Produktivitas dapat didorong melalui rekayasa sistem budi daya yang lebih efisien, selama tetap mempertimbangkan karakteristik tanaman dan kondisi lingkungan setempat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat lebih dari empat juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan sekitar 13 persen ini merupakan salah satu peningkatan terbesar dalam satu dekade terakhir dan telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30 hingga 31 juta ton per tahun. Menteri Pertanian bahkan menyebut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 38 juta ton.
Capaian ini merupakan hasil kombinasi berbagai kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut mencakup penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam. PM-AAS dipandang sebagai tahapan berikutnya dalam strategi peningkatan produktivitas nasional setelah produksi menunjukkan surplus.
Pemerintah kini berfokus pada bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama tanpa terus bergantung pada pembukaan areal baru. Kunjungan Presiden Prabowo ke Gorontalo menegaskan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan.
Selain itu, Kementerian Pertanian juga mempercepat program cetak sawah seluas 2.000 hektare di Papua Pegunungan pada 2026. Program ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah timur Indonesia sekaligus mendukung swasembada pangan nasional.
Sebanyak 1.910 hektare sawah baru akan dikembangkan pada tahun ini setelah sebelumnya pemerintah menyelesaikan pembangunan 90 hektare lahan sawah di wilayah tersebut. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian Hermanto mengatakan, pengembangan sawah di Papua Pegunungan menjadi langkah strategis untuk membuka sentra produksi pangan baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kesimpulan dari semua upaya tersebut adalah bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional melalui inovasi dan teknologi. Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat menjadi lumbung pangan yang kuat dan berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
