Fokus Surabaya – MOSKOW – Rusia menggelar pemilihan umum parlemen pada Jumat hingga Minggu (18-20 September 2026) dalam suasana yang jauh dari kompetisi politik yang sesungguhnya. Partai berkuasa, United Russia, bersama sembilan partai lain yang semuanya mendukung kebijakan Presiden Vladimir Putin, menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia bagi 111 juta pemilih yang memiliki hak suara. Sementara itu, satu-satunya partai yang berani menentang perang di Ukraina, Yabloko, telah dicoret dari daftar calon oleh Mahkamah Agung Rusia pada Agustus lalu.
Pemungutan suara yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan pemilu pertama sejak invasi skala penuh ke Ukraina dimulai pada 2022. Kremlin berharap pesta demokrasi ini dapat menjadi panggung untuk menunjukkan dukungan publik terhadap perang serta memberikan legitimasi atas tindakan mereka. Namun, dengan absennya oposisi yang genuine, hasil pemilu sudah dapat diprediksi: United Russia akan kembali mendominasi Duma, parlemen rendah Rusia.
Dalam pemilu kali ini, separuh dari 450 kursi Duma diperebutkan melalui daftar partai, sedangkan separuh lainnya melalui pertarungan di daerah pemilihan tunggal. Selain memilih anggota Duma, warga Rusia juga memilih gubernur di 11 wilayah dan anggota legislatif regional di 39 wilayah. Pemungutan suara juga digelar di wilayah-wilayah Ukraina yang secara ilegal dianeksasi Rusia, sebuah langkah yang dikecam komunitas internasional.
Yabloko, partai liberal yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya partai terdaftar yang menentang perang, awalnya masuk dalam daftar calon. Namun, pada Agustus, Mahkamah Agung memerintahkan penghapusan partai tersebut dengan alasan bahwa sikap anti-perang mereka dianggap setara dengan upaya melanggar integritas teritorial Rusia. Kini, Yabloko hanya memiliki calon di daerah pemilihan tunggal.
Meskipun terjadi kelelahan publik yang semakin terasa, resesi ekonomi, dan standar hidup yang stagnan, mesin propaganda negara yang masif serta kontrol ketat atas proses pemilu membuat kemenangan United Russia hampir pasti. Partai berlambang beruang yang mengaum di bawah bendera tricolor Rusia ini memenangkan lebih dari dua pertiga kursi Duma pada pemilu 2021 dan diprediksi akan kembali menguasai parlemen.
Serangan drone Ukraina yang semakin sering menyasar kilang minyak dan peritel online telah membuat rakyat Rusia merasakan langsung dampak perang yang telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan elite Kremlin, namun mereka tetap berupaya menekan setiap tanda perbedaan pendapat. Pemilu ini pun menjadi ajang untuk membuktikan bahwa masyarakat masih mendukung kebijakan Putin, meski dengan cara yang penuh rekayasa.
Sementara itu, di belahan dunia lain, perhatian juga tertuju pada dinamika politik Amerika Serikat. Presiden Donald Trump melakukan kampanye di North Carolina untuk mendukung Senator Michael Whatley dari Partai Republik. Dalam pidatonya, Trump meminta pendukungnya untuk menganggap dirinya ada di surat suara, sebuah ujian pertama dari strategi ‘make-believe’ menjelang pemilu midterm. Namun, jajak pendapat terbaru menunjukkan kepercayaan publik terhadap Partai Republik menurun, dengan tingkat persetujuan Trump hanya 38 persen, terendah sejak era George W. Bush pada 2006.
Kembali ke Rusia, pemilu ini menjadi cerminan bagaimana Kremlin terus berupaya mempertahankan narasi kemenangan di tengah tekanan ekonomi dan militer. Dengan tidak adanya oposisi yang berarti, hasil pemilu sudah bisa ditebak. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah seberapa lama rakyat Rusia akan menerima kenyataan bahwa suara mereka tidak lagi memiliki arti dalam menentukan arah negara.
Di sisi lain, dunia hiburan juga berduka. Peter Max, seniman pop art psychedelic yang karyanya mewarnai era ‘flower power’ 1960-an, meninggal dunia pada Senin (14/9/2026) di usia 88 tahun. Max, yang lahir di Berlin dan melarikan diri dari Nazi Jerman, meninggalkan warisan seni yang tak terlupakan. Karyanya menghiasi berbagai produk, dari perangko hingga kapal pesiar, dan ia pernah menjadi seniman resmi untuk Olimpiade, Super Bowl, dan berbagai acara besar lainnya.
Kisah lain datang dari dunia seni peran. Aktor kelahiran Adelaide, Anthony LaPaglia, akan kembali ke kampung halamannya untuk pertama kalinya setelah hampir 50 tahun. Ia akan membintangi drama ‘Death of a Salesman’ karya Arthur Miller. LaPaglia, yang kini berusia 67 tahun, mengaku memiliki kenangan pahit tentang masa kecilnya di Adelaide, terutama karena diskriminasi terhadap imigran Mediterania. Namun, ia telah belajar untuk ‘sedikit lebih santai’ dalam menghadapi masa lalu.
Di Glasgow, seorang ibu mengenang putranya, Lennon Toland, yang tewas dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu. Lennon, yang saat itu berusia lima tahun, meninggal setelah ditabrak van yang naik ke trotoar. Ibunya, Leanne, mengatakan bahwa kehilangan itu masih terasa seperti kemarin. Lennon digambarkan sebagai ‘sinar matahari’ yang ceria dan cerdas.
Dengan segala dinamika yang terjadi, pemilu Rusia tetap menjadi sorotan utama. Tanpa oposisi yang nyata, hasilnya sudah di depan mata. Namun, pertanyaan tentang legitimasi dan masa depan demokrasi di Rusia akan terus menggema, bahkan setelah kotak suara ditutup.









