Dunia

Departemen Perang AS Rilis Laporan, Boeing Terima Kontrak Jet F-15 Eagle dari Indonesia di Tengah Kekurangan Amunisi Global

Departemen Perang AS Rilis Laporan, Boeing Terima Kontrak Jet F-15 Eagle dari Indonesia di Tengah Kekurangan Amunisi Global
Departemen Perang AS Rilis Laporan, Boeing Terima Kontrak Jet F-15 Eagle dari Indonesia di Tengah Kekurangan Amunisi Global
A− A+

Fokus Surabaya – Departemen Perang Amerika Serikat baru-baru ini merilis laporan resmi yang mengungkap dampak besar dari operasi militer di Timur Tengah, sementara di saat yang sama Boeing dikabarkan menerima kontrak strategis untuk pengadaan jet tempur F-15 Eagle dari Indonesia. Laporan tersebut menjadi sorotan karena mengungkap kekurangan amunisi strategis yang dialami militer AS setelah operasi militer melawan Iran.

Inspektur Jenderal Pentagon dalam laporan wajib pertama kepada Kongres AS yang diungkapkan ke publik pada Senin (14/9) waktu setempat menyatakan bahwa antara 28 Februari hingga 30 Juni, operasi militer melawan Iran yang diberi nama Operation Epic Fury (OEF) telah menelan biaya sekitar US$33,4 miliar atau setara Rp590,9 triliun. Dari angka tersebut, sebanyak US$22,3 miliar atau setara Rp394,5 triliun di antaranya dihabiskan khusus untuk amunisi yang telah digunakan selama perang.

Baca juga:

“Penggunaan amunisi dalam OEF telah menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri untuk pasokan ulang amunisi,” sebut laporan Inspektur Jenderal Pentagon tersebut.

Laporan itu juga merinci kerugian yang dialami armada militer AS, yang mencakup hancurnya empat jet tempur F-15, kerusakan pada satu jet tempur siluman F-35 dan tujuh pesawat tanker KC-135, serta hancurnya 30 unit drone MQ-9 Reaper. Kerugian ini menambah beban logistik dan operasional yang harus segera dipulihkan oleh Pentagon.

Pengungkapan laporan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menepis kekhawatiran mengenai menipisnya cadangan senjata selama enam bulan berkecamuk di Timur Tengah. Beberapa pekan lalu, Trump menyatakan bahwa AS memiliki persediaan amunisi yang “praktis tak terbatas”. Pada Senin (14/9), Trump kembali menegaskan melalui akun media sosial Truth Social miliknya bahwa AS “sedang memproduksi lebih banyak senjata canggih dan unggul dibandingkan masa mana pun dalam sejarah kita”.

“Senjata-senjata itu dikirimkan setiap hari kepada pasukan kita di Timur Tengah dan wilayah lainnya. Pabrik-pabrik perusahaan pertahanan kita beroperasi 24/7, sembari membangun rata-rata 4 hingga 5 fasilitas berskala besar yang benar-benar baru, masing-masing perusahaan melakukan hal itu,” sebut Trump. “Fokus utama produksi ini mencakup sistem Patriot, Sistem THAAD, Tomahawk, dan sistem rudal standar lainnya, yang persediaannya sudah kita miliki dalam jumlah besar,” ucapnya.

Di tengah dinamika tersebut, industri pertahanan AS terus bergerak. Boeing dan Northrop Grumman bersaing memperoleh kontrak strategis untuk jet tempur siluman generasi berikutnya bagi Angkatan Laut AS, F/A-XX. Pentagon disebut telah memilih perusahaan yang akan membangun jet tempur tersebut, dan pemenangnya dapat diumumkan dalam beberapa pekan mendatang atau bahkan lebih cepat. Nilai keseluruhan proyek belum diumumkan karena banyak bagian program masih diklasifikasikan, tetapi program tempur sejenis sebelumnya menunjukkan kontrak itu dapat bernilai puluhan miliar dolar AS sepanjang masa pengembangan dan produksinya.

Baca juga:

Keputusan tersebut menjadi semakin mendesak karena China dengan cepat menambah pesawat tempur siluman, memperluas armada kapal induk, dan mengembangkan pesawat yang oleh Beijing digambarkan sebagai generasi keenam. Bagi Washington, penundaan F/A-XX bukan lagi sekadar masalah pengadaan senjata, tetapi dapat menentukan apakah kapal induk Amerika masih mampu memproyeksikan kekuatan jauh ke kawasan Indo-Pasifik pada 2030-an.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa penundaan lebih jauh berisiko membuat Angkatan Laut tidak mempunyai jet tempur modern berbasis kapal induk yang mampu beroperasi efektif pada dekade 2030-an dan setelahnya. Kondisi itu berpotensi mengurangi kemampuan Washington beroperasi di wilayah yang dipenuhi sistem pertahanan udara, rudal antikapal, sensor jarak jauh dan pesawat tempur canggih lawan.

“Kami terus bekerja untuk memberikan kontrak F/A-XX dalam waktu dekat. Tidak ada informasi tambahan saat ini,” kata juru bicara Pentagon, sebagaimana diberitakan Reuters pada Selasa, 8 September 2026. Pernyataan itu memperkuat laporan bahwa proses pemilihan sudah memasuki tahap akhir.

China mengubah kalkulasi F/A-XX yang dirancang ketika lingkungan operasi kapal induk Amerika berubah secara mendasar. Kapal induk AS selama puluhan tahun dapat beroperasi relatif dekat dengan wilayah konflik, tetapi perkembangan rudal jarak jauh, sistem pertahanan udara, drone, dan sensor modern membuat pendekatan semacam itu semakin berisiko. China berada di pusat perubahan kalkulasi tersebut. Beijing telah mengembangkan jet siluman J-20 dan J-35A, sementara varian J-35 juga dirancang untuk beroperasi dari kapal induk China.

Kemampuan sesungguhnya dari J-35 dan pesawat tempur China lainnya tetap sulit diverifikasi karena Beijing mengungkap relatif sedikit data teknis. Para analis yang diwawancarai Reuters sebelumnya mengingatkan program militer China kerap menjadi “kotak hitam”, sehingga kemampuan mesin, sensor, teknologi siluman dan avioniknya tidak sepenuhnya diketahui publik. China pada saat yang sama telah memperlihatkan sejumlah desain pesawat baru tanpa ekor yang oleh Beijing dan media pemerintahnya dikaitkan dengan teknologi generasi berikutnya. Amerika tidak dapat berasumsi bahwa semua kemampuan yang diklaim China sudah matang, tetapi kemunculan pesawat tersebut cukup untuk meningkatkan tekanan terhadap Pentagon agar tidak membiarkan program F/A-XX kembali tertunda.

Baca juga:

Di sisi lain, kontrak jet tempur F-15 Eagle dari Indonesia menjadi babak baru bagi Boeing. Meskipun detail kontrak belum sepenuhnya diungkap, pengadaan ini menandai kepercayaan Indonesia terhadap platform tempur legendaris tersebut. F-15 Eagle dikenal sebagai jet tempur superioritas udara yang telah terbukti dalam berbagai konflik, dan varian terbaru menawarkan kemampuan avionik serta persenjataan yang lebih canggih. Kontrak ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat pertahanan udara nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Dengan demikian, laporan Departemen Perang AS dan kontrak Boeing untuk Indonesia mencerminkan dua sisi industri pertahanan global: tekanan logistik akibat konflik berkepanjangan serta persaingan teknologi yang semakin ketat antara Amerika Serikat dan China. Ke depan, kemampuan AS untuk memulihkan stok amunisi dan mempercepat program jet tempur generasi baru akan menjadi penentu keseimbangan kekuatan udara, sementara Indonesia berupaya meningkatkan kapabilitas militernya melalui pengadaan F-15 Eagle.

Mungkin Anda Suka