Fokus Surabaya – Persaingan kekuatan global memasuki babak baru ketika Amerika Serikat secara terbuka mengakui bahwa perang melawan Iran telah menguras persediaan amunisi strategisnya. Pengakuan itu disampaikan melalui laporan Inspektur Jenderal Pentagon kepada Kongres yang dirilis pada Senin, 14 September 2026. Laporan tersebut mengungkap bahwa Operasi Epic Fury, operasi militer bersama Israel untuk melumpuhkan kemampuan proyeksi kekuatan Iran, telah menelan biaya hingga 33,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp590,9 triliun selama periode 28 Februari hingga 30 Juni 2026.
Dari total biaya tersebut, sekitar 22,3 miliar dolar AS atau setara Rp394,5 triliun dihabiskan khusus untuk amunisi yang telah digunakan. Laporan itu menyatakan secara gamblang bahwa penggunaan amunisi dalam Operasi Epic Fury telah menyebabkan kekurangan pada persediaan strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri pertahanan AS untuk memasok ulang stok amunisi.
Kerugian materiel juga tidak sedikit. Laporan tersebut merinci hancurnya empat jet tempur F-15, kerusakan pada satu jet tempur siluman F-35 dan tujuh pesawat tanker KC-135, serta kehancuran 30 unit drone MQ-9 Reaper. Temuan ini kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali menegaskan bahwa persediaan amunisi AS masih ‘praktis tak terbatas’. Pada Senin, 14 September 2026, melalui akun Truth Social miliknya, Trump kembali menyatakan bahwa AS sedang memproduksi lebih banyak senjata canggih dan unggul dibandingkan masa mana pun dalam sejarah, dengan pabrik-pabrik pertahanan beroperasi 24/7.
Di tengah situasi itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan mengunjungi China pada Rabu, 16 September 2026, untuk bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi. Kunjungan tersebut menempatkan Beijing kembali di pusat diplomasi Timur Tengah. China, yang memiliki hubungan politik dan ekonomi erat dengan Iran serta berkepentingan terhadap stabilitas jalur perdagangan energi, terus mendorong penyelesaian diplomatik atas perang di kawasan itu. Pertemuan Araghchi dan Wang Yi berlangsung menjelang kemungkinan pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September 2026.
Hubungan China-Iran juga menjadi sorotan di Washington. Trump pada Ahad, 13 September 2026, membantah laporan The Wall Street Journal yang menyebut China memberikan citra satelit sebuah pangkalan di Yordania kepada Iran, yang menurut laporan itu membantu Iran melakukan serangan pada Juli dan menewaskan tiga personel militer AS. China membantah tudingan tersebut.
Sementara itu, ketegangan di luar angkasa ikut memanas. Untuk pertama kalinya, Amerika Serikat mengonfirmasi memiliki senjata yang ditempatkan di orbit Bumi. Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink, dalam Air and Space Cyber Conference di Maryland pada Senin, 14 September 2026, mengatakan bahwa AS telah mengoperasikan ‘senjata kendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Joint Force dari tindakan musuh’. Ia tidak merinci jenis maupun cara kerja senjata tersebut.
China dan Rusia bereaksi cepat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers pada Selasa, 15 September 2026, menentang langkah AS dan memperingatkan agar luar angkasa tidak dipersenjatai, dijadikan medan perang, atau menjadi arena perlombaan senjata. ‘Kami mendesak pihak AS menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa,’ tegas Guo. Rusia melalui juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, juga menyerukan agar luar angkasa tetap ‘bebas dari segala jenis senjata’ dan berharap ada dukungan luas dari masyarakat internasional untuk demiliterisasi luar angkasa secara menyeluruh.
Pengakuan AS tersebut dinilai para analis hanya menegaskan sesuatu yang selama ini sudah menjadi rahasia umum, namun berisiko memperburuk ketegangan dengan Beijing dan memicu perlombaan senjata di luar angkasa. Persaingan negara-negara besar mengembangkan kemampuan militer di luar angkasa semakin cepat seiring kemajuan teknologi, sementara aturan hukum yang mengaturnya belum menyeluruh.
Meink juga mengungkapkan bahwa Angkatan Udara AS tengah menambah lebih banyak sistem otonom ke dalam kemampuan militernya. Ia memperkirakan pada 2032 Angkatan Udara akan terlihat sangat berbeda, dengan drone serang satu arah menggantikan artileri sebagai ‘penghancur utama’. Menurutnya, kecerdasan buatan (AI) kini bersaing dengan sejumlah programmer, operator siber, dan peretas terbaik di dunia, dan teknologi tersebut merevolusi medan perang serta memungkinkan negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki sumber daya untuk dengan cepat beradaptasi dan meningkatkan kemampuan tempur mereka.
Kekurangan persediaan amunisi AS juga menimbulkan kekhawatiran bagi Ukraina dan Taiwan, yang mengandalkan pembelian senjata dari AS. Ukraina sangat membutuhkan tambahan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot dalam perang melawan Rusia, sementara Taiwan bergantung pada kesepakatan pembelian senjata dengan AS untuk menangkal China. Di sisi lain, kondisi ini bisa menjadi peluang strategis bagi China dan Rusia untuk memperkuat posisi mereka di panggung global, baik melalui diplomasi maupun pengembangan kemampuan militer, termasuk di luar angkasa.
Dengan perang Iran yang masih berkecamuk dan ketegangan di luar angkasa yang meningkat, dunia menyaksikan bagaimana konflik di satu kawasan dapat berdampak luas pada keseimbangan kekuatan global. China dan Rusia tampaknya memanfaatkan momen ini untuk menekankan pentingnya demiliterisasi luar angkasa dan penyelesaian damai, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam tatanan dunia yang semakin multipolar.








