Dunia

Desertir Rusia Kabur ke Jerman, AfD Menang Pemilu dan Tekan Setop Bantuan Ukraina

Desertir Rusia Kabur ke Jerman, AfD Menang Pemilu dan Tekan Setop Bantuan Ukraina
Desertir Rusia Kabur ke Jerman, AfD Menang Pemilu dan Tekan Setop Bantuan Ukraina
A− A+

Fokus Surabaya – Keputusan seorang desertir asal Rusia untuk melarikan diri ke Jerman kini berada di persimpangan jalan. Ia tidak memiliki pilihan lain selain bertahan di negeri yang tengah dilanda pergolakan politik akibat kemenangan partai populis sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), dalam pemilihan parlemen negara bagian di Sachsen-Anhalt pada 6 September lalu. Kemenangan AfD dengan hampir 44% suara telah mengubah lanskap politik Jerman, terutama dalam sikap terhadap perang Rusia-Ukraina dan bantuan militer untuk Kyiv.

Kanselir Jerman dalam debat di Bundestag pada 9 September menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Ukraina. “Kita mendukung Ukraina, dan kita akan terus mendukungnya, karena Ukraina juga sedang mempertahankan kebebasan kita,” ujarnya menanggapi pemimpin AfD, Alice Weidel. Weidel sebelumnya mendesak agar Jerman mulai mendorong perundingan damai Rusia-Ukraina, seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Seruan ini semakin menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan memberikan konsesi besar kepada Rusia, yang oleh para kritikus di Jerman disebut sebagai ‘perdamaian yang dipaksakan’.

Baca juga:

AfD tidak hanya menuntut penghentian bantuan senjata, tetapi juga menyerukan agar Jerman kembali membeli gas alam murah dari Rusia. Mereka bahkan menyiratkan keterlibatan pemerintah Ukraina dalam ledakan pipa gas Nord Stream pada September 2022. “Mereka terus memberi imbalan kepada ‘para dalang’ yang diduga berada di balik serangan di Kyiv dengan pembayaran bernilai miliaran dolar yang jadi beban Jerman,” ujar seorang politisi AfD. Sebuah tim sabotase asal Ukraina diduga berada di balik serangan tersebut. Dalam debat yang sama, anggota parlemen AfD, Jürgen Koegel, menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai “presiden yang kami hormati” dan tidak menimbulkan ancaman perang bagi NATO.

Antagonisme AfD terhadap dukungan untuk Ukraina bukanlah hal baru. Namun, sejak kemenangan elektoral di Sachsen-Anhalt, partai ini semakin lantang. Jika digabungkan, sekitar 60% pemilih di negara bagian tersebut memilih partai-partai yang menentang atau skeptis terhadap bantuan untuk Ukraina, termasuk AfD, partai sosialis Die Linke, dan aliansi Sahra Wagenknecht (BSW). Survei menunjukkan bahwa kekhawatiran akan perdamaian di Eropa menjadi faktor penting dalam pilihan warga, menempati urutan kedua setelah jaminan sosial, jauh melampaui isu imigrasi atau lingkungan.

Baca juga:

Bagi para desertir Rusia seperti yang kabur ke Jerman, situasi ini menciptakan ketidakpastian. Mereka yang menolak perang dan mencari suaka di Jerman kini menghadapi realitas politik yang berubah. AfD yang menang justru berpotensi mengurangi dukungan bagi Ukraina, yang secara tidak langsung dapat memperkuat posisi Rusia. Desertir tersebut tidak punya pilihan selain berharap Jerman tetap pada jalur demokrasi dan kemanusiaan, meski tekanan politik dari partai sayap kanan terus meningkat.

Kemenangan AfD di Sachsen-Anhalt menjadi sinyal kuat bahwa sentimen anti-Ukraina dan pro-Rusia semakin mengakar di sebagian masyarakat Jerman. Partai-partai yang menentang bantuan Ukraina kini memiliki panggung lebih besar untuk mempengaruhi kebijakan federal. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Ukraina, tetapi juga oleh para pengungsi dan desertir Rusia yang mengandalkan perlindungan Jerman. Mereka yang telah meninggalkan tanah air karena menolak perang kini harus menghadapi kenyataan bahwa negara yang mereka tuju pun tengah dilanda perdebatan sengit tentang siapa yang harus didukung dalam konflik tersebut.

Baca juga:

Dalam jangka panjang, arah kebijakan Jerman akan sangat menentukan. Jika AfD terus menguat, bukan tidak mungkin bantuan untuk Ukraina akan dikurangi atau bahkan dihentikan. Hal ini akan menjadi pukulan bagi Ukraina dan juga bagi para desertir Rusia yang berharap Jerman tetap menjadi sekutu yang teguh. Namun, Kanselir Jerman masih memegang komitmen untuk mendukung Ukraina, setidaknya untuk saat ini. Pertarungan politik di Jerman akan terus berlanjut, dan nasib para desertir serta Ukraina berada di ujung tanduk.

Mungkin Anda Suka