Dunia

Ketegangan Nuklir Iran Memanas: Trump Ancam Musnahkan, Korsel Tawarkan Model Bertahap

Daftar Isi
  1. Trump: Pilihan Antara Kesepakatan atau Kehancuran
  2. Pendekatan Bertahap ala Korea Selatan
  3. Sejarah Perlombaan Senjata Nuklir
  4. Jalan Panjang Menuju Perdamaian
A− A+

Fokus Surabaya – Ketegangan seputar program nuklir Iran kembali menjadi sorotan dunia dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Teheran, sementara Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menawarkan pendekatan berbeda dengan mendorong pelucutan nuklir secara bertahap. Dinamika ini menciptakan peta geopolitik yang semakin kompleks di Timur Tengah dan Asia Timur.

Trump: Pilihan Antara Kesepakatan atau Kehancuran

Dalam pidatonya di General Debate UNGA, Selasa (22/9/2026), Trump menyatakan bahwa dirinya tengah menghadapi “keputusan besar” terkait Iran. Ia membuka peluang kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya, namun sekaligus mengancam akan melenyapkan Republik Islam tersebut jika tidak ada penyelesaian.

Baca juga:

“Saya punya keputusan besar yang harus dibuat. Apakah akan ada kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mungkin menjadi salah satu negara terbesar di Timur Tengah atau bahkan dunia. Atau apakah saya melenyapkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang serta negara lagi?” ujar Trump.

Trump juga menegaskan bahwa operasi militer AS pada Juni tahun lalu telah menghancurkan program nuklir Iran. Ia mengklaim fasilitas nuklir bawah tanah Iran telah dihantam dan dilenyapkan. “Militer AS melenyapkan program nuklir mereka di bawah gunung-gunung yang tertutup reruntuhan,” kata Trump. Namun, ia menuduh Iran tetap mengembangkan rudal dan drone yang mengancam personel militer AS dan sekutunya.

Lebih lanjut, Trump menyebut Iran sebagai “negara teroris yang berperilaku buruk” dan sponsor teror nomor satu. Ia menuduh rezim Iran selama 51 tahun menyebarkan kekerasan dan kekacauan di Timur Tengah. Trump juga mengklaim bahwa seluruh 159 kapal angkatan laut Iran, angkatan udara, radar, dan sistem pertahanan udara telah dihancurkan, serta ekonomi Iran hancur dengan inflasi di atas 300 persen.

Menariknya, Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran mungkin tercapai setelah pemilu sela AS pada November mendatang. “Saya yakin dapat mencapai kesepakatan segera setelah pemilu,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Teheran tampaknya menunggu hasil pemilu. Namun, ia menegaskan hasil pemilu tidak akan mempengaruhi kebijakannya terhadap Iran.

Pendekatan Bertahap ala Korea Selatan

Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menawarkan pendekatan yang lebih diplomatis untuk menyelesaikan kebuntuan nuklir Korea Utara, yang juga relevan dengan kasus Iran. Dalam wawancara dengan Associated Press, Lee mendorong langkah bertahap: menghentikan pengembangan nuklir dan rudal, mengurangi persenjataan secara bertahap, hingga akhirnya pelucutan nuklir penuh. Setiap tahap akan disertai konsesi politik dan ekonomi.

Baca juga:

“Untuk mengubah arah kendaraan yang sedang melaju, kendaraan itu harus dihentikan terlebih dahulu. Pendekatan bertahap berupa penghentian, pengurangan, dan pelucutan merupakan cara yang realistis untuk menyelesaikan persoalan nuklir Korea Utara secara efektif,” kata Lee. Ia menegaskan Korea Selatan dan AS siap kembali berdialog dengan Korea Utara.

Pendekatan ini berbeda dengan sikap Trump yang lebih agresif terhadap Iran. Meski demikian, baik AS maupun Korea Selatan sama-sama menghadapi tantangan serupa: negara-negara bersenjata nuklir enggan melepaskan senjata yang dianggap sebagai jaminan keamanan rezim.

Sejarah Perlombaan Senjata Nuklir

Ketegangan nuklir global bukan hal baru. Pada 23 September 1949, Presiden AS Harry Truman mengumumkan bahwa Uni Soviet telah berhasil menguji bom nuklir pertamanya, RDS-1, di Semipalatinsk, Kazakhstan. Pengumuman ini menandai dimulainya era perlombaan senjata nuklir antara AS dan Soviet. Sebelumnya, AS adalah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir setelah uji coba pada Juli 1945 dan penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Sejarah ini menjadi pengingat bahwa proliferasi nuklir selalu memicu ketegangan global. Kini, program nuklir Iran dan Korea Utara menjadi dua titik panas yang menguji kemampuan diplomasi internasional.

Jalan Panjang Menuju Perdamaian

Perang AS dan Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan sejak 28 Februari 2026 masih menyisakan ketidakpastian. Iran dilaporkan menawarkan pembukaan Selat Hormuz jika AS mengurangi tekanan militer. Namun, Trump tetap pada posisinya: tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Baca juga:

Sementara itu, Korea Selatan terus mendorong dialog dengan Korea Utara. Lee Jae Myung membawa gagasan pendekatan bertahap ke panggung PBB, berharap bisa menjadi terobosan dalam kebuntuan puluhan tahun.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya. Apakah Trump akan memilih jalur diplomasi atau militer? Apakah Iran akan melunak? Dan apakah pendekatan bertahap ala Korea Selatan bisa menjadi model penyelesaian konflik nuklir global? Yang jelas, ketegangan nuklir Iran masih menjadi salah satu isu paling mendesak di abad ini.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka