Fokus Surabaya – JAYAPURA — Situasi keamanan di Papua Pegunungan kembali memanas. Satuan Tugas Komando Operasi TNI Habema terlibat kontak senjata dengan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap III Ndugama Derakma di Kabupaten Nduga, Senin (21/9/2026). Dalam peristiwa itu, pasukan TNI berhasil memukul mundur kelompok bersenjata tersebut menjauh dari permukiman warga tanpa menelan korban jiwa di pihak prajurit.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto mengungkapkan bahwa kontak senjata terjadi ketika personelnya menyisir kawasan hutan untuk mencari, menemukan, dan menangkap anggota kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya tersebut.
“Mereka menghujani pasukan kami dengan tembakan senjata api. Syukur alhamdulillah, puji Tuhan, pasukan kita selamat dan berhasil memukul mundur kelompok mereka semakin jauh dari permukiman atau pusat sosial ekonomi masyarakat,” ujar Lucky dalam keterangan pers yang diterima di Timika.
Hutan Jadi Tempat Persembunyian
Menurut Lucky, kelompok TPNPB-OPM kerap memanfaatkan rimba Papua sebagai tempat pelarian dan persembunyian setelah menebar teror di permukiman warga. Ia menegaskan bahwa operasi pengejaran akan terus berlanjut dengan mengedepankan profesionalisme serta penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia.
“Saya pastikan ini hanyalah persoalan waktu bagi kami untuk menemukan dan menangkap hidup atau mati kelompok separatis ini, mengingat kentalnya solidaritas TNI-Polri serta dukungan penuh forkopimda dan masyarakat Papua,” tegasnya.
Jenderal bintang tiga itu juga menekankan prinsip salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, sebagai pedoman Satgas TNI dalam menghadapi situasi mendesak. Meski demikian, ia memastikan seluruh tindakan tetap mengacu pada Rules of Engagement (ROE) dan peraturan yang berlaku.
Penggagalan Kiriman Paket Senjata
Di sisi lain, Satgas Yonif 462 Kopasgat Kogabwilhan III menggagalkan upaya pengiriman paket mencurigakan melalui jalur kargo dari Sentani, Kabupaten Jayapura, menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Paket bernomor resi STNP 2611 6827 itu dikirim pada Senin (21/9/2026) menggunakan layanan kargo Trigana Air.
Pengungkapan bermula dari informasi personel Yon 462 Pasgat Pos Jayapura kepada Pos Wamena. Pemeriksaan awal menggunakan mesin X-Ray di Gudang Cargo Bandara Sentani mendeteksi adanya barang mencurigakan sebelum paket diberangkatkan.
Setelah paket tiba di Gudang Cargo Trigana Air Bandara Wamena, petugas mengamankan pemiliknya yang diketahui bernama Weminus Wandik. Untuk mengelabui petugas, ia disebut terbang ke Wamena keesokan harinya dengan maskapai berbeda, yakni Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ-0758/SJ-0786.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, paket tersebut berisi sejumlah barang, antara lain:
- Satu pucuk senapan angin kaliber 4,5 milimeter
- Teleskop dan peredam
- Sebilah pisau
- Tiga unit telepon seluler
- Rantai
- Bendera Bintang Kejora berukuran besar
Lucky mengungkapkan bahwa temuan ini menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan pengawasan distribusi barang melalui jalur udara. Ia menyebut TNI telah berkali-kali menemukan senapan angin yang dimodifikasi menjadi senjata api mematikan dalam berbagai operasi sebelumnya.
“TPNPB-OPM saat ini memiliki kemampuan memodifikasi senapan angin menjadi senapan api mematikan dengan peluru kaliber 5,5 milimeter. Tidak sedikit senapan angin modifikasi yang berhasil kami amankan, baik dari tangan mereka langsung maupun tempat persembunyiannya di dalam rimba Papua,” jelasnya.
Diserahkan ke Polisi
Seluruh barang bukti bersama pemilik paket telah diserahkan kepada Polsek KP3 Bandara Wamena untuk penyelidikan lebih lanjut. Polisi akan mendalami asal-usul barang, tujuan pengiriman, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Pengamanan paket dilakukan melalui kerja sama personel Pasgat dan petugas keamanan penerbangan (AVSEC).
Lucky juga mengimbau seluruh anggota TPNPB-OPM untuk segera meletakkan senjata dan menyambangi pos keamanan TNI atau kantor polisi terdekat, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, dan bersama masyarakat membangun Papua.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap kelompok separatis di Papua terus meningkat. Di satu sisi, TNI memperkuat operasi pengejaran di medan hutan Nduga; di sisi lain, jalur logistik dan distribusi senjata melalui transportasi udara berhasil diputus. Kombinasi kedua langkah tersebut diharapkan mampu menekan ruang gerak kelompok bersenjata sekaligus melindungi warga sipil dari ancaman kekerasan yang berkepanjangan.





