Daftar Isi
Fokus Surabaya – Timnas voli putri Indonesia harus mengakhiri perjalanannya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan rasa pahit. Berlaga di Park Arena Komaki, Jepang, Selasa (22/9/2026), skuad asuhan Marcos Sugiyama menyerah tiga set langsung dari Taiwan dengan skor 0-3 (15-25, 20-25, 11-25) pada laga perebutan peringkat kelima. Hasil tersebut membuat Srikandi Merah Putih finis di posisi keenam sekaligus gagal memenuhi target lima besar yang dipatok PBVSI.
Meski demikian, posisi keenam ini tetap menjadi peningkatan dibandingkan pencapaian pada Asian Games 2018, ketika Indonesia hanya mampu menempati peringkat ketujuh. Pada edisi tersebut, Amalia Fajrina dan kolega mengakhiri perjuangan setelah mengalahkan Filipina dengan skor 3-1 (25-17, 23-25, 25-19, 25-20) di GOR Bulungan.
Jalannya Pertandingan Melawan Taiwan
Sejak awal laga, tekanan dari Taiwan terasa begitu besar. Medi Yoku tampil sebagai pencetak angka terbanyak bagi Indonesia dengan torehan 10 poin, namun dominasi Wu Tzu-hua yang menyumbangkan 22 angka menjadi pembeda. Tsai Yu-cun dan Hsu Wan-yun masing-masing menambahkan 13 dan 11 poin untuk memperkokoh kemenangan Taiwan.
Indonesia kesulitan mengembangkan permainan, terutama saat berada dalam posisi tertekan. Serangan-serangan Taiwan yang tajam membuat lini pertahanan Indonesia kewalahan, sehingga tiga set berjalan tanpa perlawanan berarti.
Perjalanan Indonesia Sepanjang Turnamen
Sepanjang Asian Games 2026, timnas voli putri Indonesia menempuh perjalanan yang tidak mudah. Setelah melewati Nepal di fase awal, para pemain harus menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Jepang, Thailand, hingga Vietnam. Salah satu momen penting adalah ketika Indonesia berhasil membekuk Vietnam 3-0 untuk mengamankan tempat di perebutan peringkat kelima.
Namun, langkah mereka harus terhenti setelah takluk dari Thailand di perempat final. Kemenangan atas Vietnam setidaknya menjadi modal berharga sebelum akhirnya kalah dari Taiwan di laga penentuan posisi kelima.
Performa Tim Asia Tenggara di Asian Games 2026
Dari empat wakil Asia Tenggara yang tampil, Thailand menjadi yang terbaik dengan meraih medali perunggu usai mengalahkan Korea Selatan tiga set langsung. Indonesia finis keenam, diikuti Vietnam di peringkat ketujuh. Sementara itu, Filipina mencatatkan hasil terburuk di antara wakil Asia Tenggara dengan finis di posisi kesembilan.
| Negara | Peringkat | Catatan |
|---|---|---|
| Thailand | 3 | Medali perunggu, kalahkan Korea Selatan 3-0 |
| Indonesia | 6 | Kalah dari Taiwan 0-3 di perebutan peringkat kelima |
| Vietnam | 7 | Kalah dari China dan Indonesia |
| Filipina | 9 | Menyapu laga klasifikasi melawan Qatar, Mongolia, Hong Kong |
PBVSI Tetap Pertahankan Marcos Sugiyama
Kegagalan memenuhi target tidak serta-merta memutus kerja sama dengan pelatih asal Jepang, Marcos Sugiyama. Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBVSI, Adang Ginanjar, menegaskan bahwa kontrak pelatih masih berjalan dan evaluasi menyeluruh akan tetap dilakukan.
“Untuk pelatih putri, sementara ini masih Marcos karena kontraknya masih bersama kita. Jadi, untuk sementara ini masih beliau,” ujar Adang saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (23/9/2026).
Adang juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia karena belum mampu mempersembahkan medali. Namun, ia menegaskan target utama adalah kebangkitan di SEA Games 2027.
“Kami juga memohon maaf kepada masyarakat Indonesia karena belum dapat medali, ya tentunya kami masih berusaha dan berjuang. Insyaallah di SEA Games kami bisa dapat medali emas,” ujarnya.
Faktor Pengalaman Jadi Sorotan
PBVSI mengakui komposisi tim saat ini didominasi pemain muda yang minim jam terbang internasional. Beberapa di antaranya baru dua atau tiga kali mengikuti ajang internasional. Faktor pengalaman menjadi sorotan utama, terutama saat tim berada dalam posisi tertekan.
“Kami tetap akan melakukan evaluasi. Tentunya ini merupakan pengalaman bagi pemain-pemain junior yang masih baru, baru dua atau tiga kali mengikuti event-event internasional,” kata Adang.
Meski gagal mencapai target, PBVSI tetap mengapresiasi perjuangan para pemain. Menurut Adang, menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Jepang, Thailand, dan Vietnam merupakan pencapaian luar biasa bagi skuad muda Indonesia.
Ke depan, PBVSI berencana memperkuat program latihan, menambah jam terbang, serta aktif mencari bibit-bibit baru di daerah. Klub-klub dan Pengprov PBVSI di seluruh Indonesia diharapkan turut berperan dalam menemukan talenta terbaik, baik putra maupun putri, demi membangun skuad yang lebih kompetitif di masa mendatang.
Dengan pengalaman berharga dari Asian Games 2026, timnas voli putri Indonesia diharapkan mampu bangkit dan tampil lebih matang pada SEA Games 2027. Perjalanan panjang menuju kebangkitan voli putri nasional masih menyisakan banyak pekerjaan rumah, namun optimisme tetap menyala di kalangan pengurus dan para pemain muda yang tengah berkembang.








