Fokus Surabaya – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah melakukan serangkaian kunjungan kenegaraan yang penuh warna. Dalam kunjungannya ke Meksiko, Lee tidak hanya membahas kerja sama bilateral, tetapi juga menyempatkan diri menghadiri konser grup K-pop Stray Kids yang sold out di Mexico City pada Jumat (25/9/2026). Kehadiran Lee bersama Ibu Negara Kim Hye Kyung dan Menteri Kebudayaan Meksiko Claudia Curiel de Icaza di tengah ribuan penggemar menjadi simbol diplomasi budaya yang semakin kuat. Melalui akun X pribadinya, Lee membagikan video suasana konser dengan tagar #WithSTAY dan memuji apa yang disebutnya sebagai ‘kekuatan besar K-pop’.
Langkah ini menegaskan bahwa diplomasi Korea Selatan tidak lagi terbatas pada ruang pertemuan formal, melainkan merambah ke panggung hiburan yang mampu menyatukan masyarakat lintas negara. K-pop telah menjadi alat efektif untuk memperkenalkan budaya Korea ke publik internasional, sekaligus memperkuat posisi Korea Selatan sebagai kekuatan budaya global.
Namun, di tengah gemerlap diplomasi budaya, Korea Selatan juga dihadapkan pada ketegangan historis dengan Jepang. Dalam perhelatan Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Korean Sport & Olympic Committee (KSOC) mengajukan protes resmi atas penampilan aktor yang mengenakan kostum Toyotomi Hideyoshi dalam acara penyambutan di Nagoya. Bagi masyarakat Korea, Hideyoshi identik dengan invasi Jepang ke Semenanjung Korea pada 1592-1598 yang menimbulkan trauma mendalam. Presiden KSOC Ryu Seung-min menyampaikan penyesalan dan meminta agar kejadian serupa tidak terulang.
Isu historis ini menjadi pengingat bahwa hubungan kedua negara masih menyimpan luka lama. Meskipun kerja sama ekonomi dan budaya terus terjalin, sentimen sejarah tetap sensitif dan dapat memicu ketegangan kapan saja.
Sementara itu, di dalam negeri, Presiden Korea Selatan sebelumnya juga menghadapi gejolak politik. Pada Desember 2024, Presiden Yoon Suk Yeol menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan darurat militer yang mengejutkan publik. Yoon mengakui keputusannya menimbulkan kekhawatiran dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ia juga menyatakan kesediaan menyerahkan semua keputusan, termasuk masa jabatannya, kepada Partai Kekuatan Rakyat. Pidato tersebut memicu reaksi dari oposisi yang mendesak pemakzulan, sementara partainya sendiri mempertanyakan kemampuannya memimpin.
Dinamika politik ini menunjukkan bahwa stabilitas pemerintahan Korea Selatan masih menghadapi tantangan, terutama menjelang pemilu dan tekanan dari berbagai pihak. Meski demikian, pemerintahan saat ini terus berupaya menjaga citra positif di mata internasional melalui berbagai inisiatif diplomasi.
Selain isu politik dan diplomasi, Korea Selatan juga dikenal sebagai destinasi kuliner ramah muslim. Berbagai restoran halal bermunculan, terutama di sekitar Masjid Pusat Seoul dan Itaewon. Tempat-tempat ini menawarkan hidangan autentik seperti bibimbap, bulgogi, dan sup ayam ginseng yang telah bersertifikat halal. Kehadiran restoran halal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan muslim yang ingin menikmati cita rasa Negeri Ginseng tanpa keraguan.
Dengan segala dinamika yang ada, Korea Selatan terus menunjukkan perannya sebagai aktor global yang aktif dalam berbagai bidang. Mulai dari diplomasi budaya melalui K-pop, penyelesaian ketegangan historis, hingga upaya menjaga stabilitas politik dalam negeri. Semua mata akan terus tertuju pada langkah-langkah Presiden Korea Selatan berikutnya, baik di panggung internasional maupun di tengah masyarakatnya sendiri.








