Ekonomi

Bumi Saham Bakrie di Persimpangan: Cadangan Raksasa 2,4 Miliar Ton, Ancaman Gocap Rp1, dan Aksi Borong BRMS

Bumi Saham Bakrie di Persimpangan: Cadangan Raksasa 2,4 Miliar Ton, Ancaman Gocap Rp1, dan Aksi Borong BRMS
Bumi Saham Bakrie di Persimpangan: Cadangan Raksasa 2,4 Miliar Ton, Ancaman Gocap Rp1, dan Aksi Borong BRMS
Daftar Isi
  1. Cadangan Raksasa dan Produksi 80 Juta Ton per Tahun
  2. Aturan Batas Bawah Rp1 dan Hantu Gocap
  3. Aksi Borong Saham BRMS oleh Anak Konglomerat
  4. Simpulan
A− A+

Fokus Surabaya – JAKARTA – Saham-saham Grup Bakrie kembali menjadi pusat perhatian pasar modal Indonesia. Di tengah gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup merosot 1,69% ke level 6.277 pada perdagangan Selasa (22/9/2026), emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) justru menunjukkan fundamental yang kokoh dengan cadangan batu bara mencapai 2,4 miliar ton. Namun, bayang-bayang aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas bawah harga saham menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026 membuat posisi BUMI dan emiten Grup Bakrie lainnya kembali dipertanyakan.

Cadangan Raksasa dan Produksi 80 Juta Ton per Tahun

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava, mengungkapkan bahwa cadangan batu bara perseroan berasal dari anak usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 721 juta ton, PT Arutmin Indonesia sebesar 327 juta ton, serta aset di Pendopo, Sumatera Selatan, yang mencapai sekitar 1,3 miliar ton. Total perkiraan sumber daya bahkan mencapai 6,81 miliar ton.

Baca juga:

Dengan cadangan tersebut, BUMI mengklaim masih dapat memproduksi batu bara hingga 30 tahun ke depan dengan volume produksi mencapai 80 juta ton per tahun. “Untuk itu, BUMI akan mengadopsi proses digital dalam operasional dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi biaya produksi lainnya,” kata Dileep dalam keterangan resminya di Jakarta.

Kinerja produksi BUMI sendiri menunjukkan tren positif. Pada semester I 2024, produksi batu bara naik menjadi 37,7 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 35,4 juta ton. Kenaikan 7% ini didorong oleh performa kontraktor yang lebih baik dan curah hujan yang lebih sedikit di wilayah pertambangan KPC. Sayangnya, pendapatan konsolidasi BUMI turun 13% secara tahunan menjadi 2,89 miliar dolar AS akibat tekanan harga jual.

BUMI juga berkomitmen memenuhi kewajiban pasok dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah. Secara nasional, BUMI berkontribusi terhadap DMO sebesar 25%, sebuah angka yang menjadikannya salah satu pilar utama keamanan pasokan batu bara domestik.

Aturan Batas Bawah Rp1 dan Hantu Gocap

Perubahan aturan BEI yang menurunkan batas bawah harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026 membuka ruang harga baru yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler. Bagi Grup Bakrie, aturan ini memiliki relevansi tersendiri karena sejumlah saham kelompok usaha ini pernah lama bertengger di level Rp50 atau gocap.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai perubahan batas harga minimum tidak bisa langsung dikaitkan sebagai sentimen negatif terhadap saham-saham Grup Bakrie. “Aturan ini berlaku untuk seluruh saham di BEI, bukan khusus Grup Bakrie. Harga saham ditentukan dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran, ditambah kondisi fundamental masing-masing perusahaan,” ujarnya.

Baca juga:

Meski demikian, risiko kembali ke level Rp50 tetap ada, terutama bagi saham yang harganya masih dekat dengan area tersebut dan fundamentalnya belum cukup kuat. Beberapa saham Grup Bakrie saat ini tengah disuspensi bursa, seperti PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di harga Rp38, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di Rp32, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di level gocap.

Riwayat BUMI sendiri menunjukkan bahwa level Rp50 bukan sekadar batas psikologis. Saham emiten batu bara itu pernah terjebak di Rp50 sepanjang Oktober 2015 hingga Juni 2016 sebelum melonjak 146% ke Rp123 pada Oktober 2016. BUMI kembali masuk fase gocap pada November 2020, lalu bangkit mencapai Rp130 pada 18 Januari 2021 sebelum terkoreksi ke Rp56 pada awal Februari, dan berada di Rp64 hingga 19 Maret 2021.

Pada perdagangan Selasa (22/9/2026), saham BUMI rontok 4,17% ke level 184, seiring dengan penurunan saham LQ45 lainnya seperti BBRI yang merosot 3,64% ke level 3.180, AADI yang berkurang 3,88% ke level 11.150, dan INDY yang terjun 5,13% ke level 2.590. Sektor energi secara sektoral turun 2,76%.

Aksi Borong Saham BRMS oleh Anak Konglomerat

Di tengah tekanan pasar, Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Adika Aryasthana Bakrie, justru melakukan aksi borong saham. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Adika membeli 750.500 lembar saham BRMS pada 22 September 2026 dengan harga Rp665 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp499,08 juta.

“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian pernyataan dalam keterbukaan informasi tersebut. Setelah transaksi ini, Adika yang sebelumnya belum memiliki saham BRMS kini mengantongi 750.500 lembar.

Baca juga:

Pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026), harga saham BRMS justru naik 4,51% menjadi Rp695 per saham. Saham BRMS dibuka menguat lima poin ke Rp670, dengan level tertinggi Rp695 dan terendah Rp660. Total frekuensi perdagangan mencapai 11.392 kali dengan volume 1.463.450 saham dan nilai transaksi harian Rp99,8 miliar.

IHSG sendiri ditutup melambung 1,56% ke 6.374,91 pada hari itu, dengan sektor basic menanjak 3,47% dan sektor energi melambung 2,59%. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 17.805.

Simpulan

Posisi BUMI di pasar saham Indonesia mencerminkan paradoks yang menarik: di satu sisi, fundamental cadangan batu bara 2,4 miliar ton dan produksi 80 juta ton per tahun memberikan landasan bisnis yang kuat untuk tiga dekade ke depan. Di sisi lain, aturan batas bawah Rp1 dan riwayat panjang saham BUMI di level gocap menjadi pengingat bahwa sentimen pasar dan likuiditas tetap menjadi faktor penentu. Aksi borong saham BRMS oleh Adika Aryasthana Bakrie menunjukkan keyakinan internal Grup Bakrie terhadap prospek jangka panjang, meski pasar masih menanti apakah optimisme ini akan menular ke saham BUMI dan emiten Grup Bakrie lainnya. Yang jelas, dengan kontribusi 25% terhadap DMO nasional, BUMI tetap menjadi pemain kunci dalam peta energi Indonesia, terlepas dari fluktuasi harga sahamnya.

Mungkin Anda Suka