Fokus Surabaya – JAKARTA – Jagat sepak bola Amerika Selatan kembali memanas. Fortaleza dan Palmeiras diprediksi akan menjadi salah satu duel paling menarik di babak semifinal Copa Libertadores 2026. Meski secara historis kedua klub belum pernah bertemu di fase ini, jejak pertemuan mereka di masa lalu menyimpan cerita yang menarik, terutama bagi Palmeiras yang tengah mengejar gelar juara.
Palmeiras melangkah ke semifinal setelah menyingkirkan LDU melalui drama adu penalti. Ini menjadi kali ke-13 bagi Verdão mencapai empat besar kompetisi elite Benua Amerika tersebut. Kini, mereka akan berhadapan dengan Fluminense, bukan Fortaleza, di semifinal. Namun, nama Fortaleza tetap mencuat dalam narasi perjalanan Palmeiras, terutama jika menengok sejarah panjang keduanya.
Pada tahun 1960, Palmeiras dan Fluminense bertemu di semifinal Taça Brasil, kompetisi yang kini diakui sebagai bagian dari sejarah Campeonato Brasileiro. Saat itu, Palmeiras berhasil mengalahkan Fluminense dan melaju ke final. Di partai puncak, lawan yang dihadapi adalah Fortaleza. Palmeiras pun menang dua kali atas Fortaleza dan meraih gelar juara Taça Brasil 1960, menjadi trofi nasional pertama dalam sejarah klub.
Kembali ke masa kini, Palmeiras memiliki modal berharga jika nantinya bersua Fortaleza di final. Namun, fokus saat ini tertuju pada semifinal melawan Fluminense. Menariknya, Palmeiras memiliki keuntungan bermain di kandang pada leg kedua, berkat performa superior di fase grup. Dengan 11 poin, lebih banyak dari Fluminense yang hanya mengoleksi 8 poin, Palmeiras berhak menjalani laga penentuan di Nubank Parque (Allianz Parque).
Di sisi lain, Fortaleza tengah berbenah menjelang akhir musim. Klub berjuluk Tricolor do Pici itu resmi mendatangkan bek Angola, Bastos, eks Botafogo. Pemain berusia 35 tahun tersebut direkrut setelah resmi meninggalkan Botafogo pada Juli lalu. Bastos menandatangani kontrak hingga akhir 2026 dengan opsi perpanjangan otomatis jika memenuhi target tertentu.
Kedatangan Bastos ke Fortaleza bukan tanpa risiko. Bek kelahiran Luanda tersebut sempat mengalami cedera serius pada 2025, hanya bermain satu kali, dan terakhir kali tampil pada 14 Mei 2026. Meski demikian, pengalamannya bersama Botafogo—di mana ia memenangi Campeonato Brasileiro dan Copa Libertadores 2024 serta meraih Bola de Prata sebagai bek terbaik—menjadi nilai tambah yang signifikan.
Selain Bastos, Fortaleza juga merekrut gelandang Jailsón. Pemain yang pernah bersinar bersama Grêmio dan Palmeiras itu juga sempat lama absen karena cedera lutut. Kedua pemain ini direkrut dengan skema kontrak berbasis produktivitas, di mana gaji tetap mereka relatif rendah namun bisa meningkat jika mencapai target tertentu. Keputusan ini diambil karena keduanya berstatus bebas transfer dan tidak memerlukan biaya akusisi.
Dengan komposisi skuad yang semakin matang, Fortaleza berambisi mengakhiri musim dengan prestasi gemilang. Pelatih Paulo Autuori kini memiliki opsi tambahan di lini belakang dengan kehadiran Bastos, melengkapi nama-nama seperti Lucas Gazal, Cardona, Neris, Luan Freitas, dan Kauã Rocha.
Sementara itu, Palmeiras tetap waspada. Meski di atas kertas lebih diunggulkan, tim asuhan Abel Ferreira tidak ingin terlena. Fokus mereka adalah melewati Fluminense terlebih dahulu sebelum memikirkan potensi final melawan Fortaleza atau tim lain. Kekuatan mental dan dukungan suporter di Nubank Parque menjadi senjata utama mereka.
Dengan segala dinamika yang ada, duel Fortaleza vs Palmeiras—jika terwujud di final—akan menjadi pertemuan penuh sejarah. Palmeiras berusaha mengulang kejayaan 1960, sementara Fortaleza ingin menorehkan tinta emas baru. Sepak bola Brasil kembali menanti babak baru dari rivalitas yang telah lama terjalin.








