Fokus Surabaya – JAKARTA — Kabar membanggakan sekaligus tantangan besar mewarnai perkembangan Indonesia pada Kamis, 17 September 2026. Di kancah sepak bola Eropa, nama besar keluarga Kluivert kembali mencuat, sementara di sektor pendidikan, hasil asesmen internasional PISA 2025 mengungkap pekerjaan rumah yang masih panjang bagi negeri ini.
Pemain internasional Belanda, Justin Kluivert, menorehkan sejarah pada malam Liga Europa yang menggembirakan bagi AFC Bournemouth. Bertandang ke markas Real Sociedad di Stadion Anoeta, San Sebastián, Bournemouth memulai laga Eropa pertamanya sepanjang sejarah dengan kemenangan 2-1 atas tim tuan rumah. Kluivert menjadi pencetak gol Eropa pertama Bournemouth sepanjang sejarah melalui gol pembuka pada menit-menit awal pertandingan.
Gol tersebut berawal dari pergerakan apik Evanilson yang berputar melewati lawannya dan menciptakan ruang untuk Adrien Truffert. Umpan pemain Brasil itu kemudian disambar Kluivert untuk membawa tim asuhan manajer Marco Rose unggul 1-0. Pada menit ke-20, Bournemouth menggandakan keunggulan lewat tandukan tenang Rayan yang memanfaatkan umpan silang luar biasa Alex Scott ke tiang jauh.
Real Sociedad sempat memberikan perlawanan pada babak kedua. Sepuluh menit setelah jeda, umpan silang melengkung Sergio Gómez tidak disentuh siapa pun dan mengejutkan kiper Djordje Petrovic, memperkecil kedudukan menjadi 2-1. Bournemouth ditekan habis-habisan di fase akhir yang menegangkan, namun mampu bertahan dari gempuran Mikel Oyarzabal dan Orri Óskarsson. Kluivert sendiri sempat menerima kartu kuning dari wasit Pawel Raczkowski setelah sikunya mengenai wajah Gómez, sebuah keputusan yang dianggapnya berlebihan.
PISA 2025: Skor Membaca dan Sains Naik, Matematika Melandai
Di sisi lain, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Asesmen untuk siswa berusia 15 tahun di 91 negara ini menunjukkan skor membaca dan sains Indonesia naik, masing-masing menjadi 365 dan 389 poin, sementara skor matematika turun tipis menjadi 364.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menilai capaian ini patut diapresiasi karena terjadi di tengah tren penurunan performa pendidikan global selama dua dekade terakhir. Ia menyebut performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan naik di literasi dan sains.
Jika dilihat dari perjalanannya sejak 2006, skor PISA Indonesia sempat anjlok tajam pada 2022. Skor membaca turun ke titik terendah sebesar 359 dan sains ke 383, sebelum akhirnya kembali merangkak naik pada asesmen 2025. Skor matematika justru menunjukkan pola sebaliknya, yakni sempat membaik pada 2015 dengan skor 386 namun terus melandai hingga hanya 364 pada edisi terbaru.
Sejumlah persoalan mendasar juga masih membayangi pendidikan Indonesia. Rasa ingin tahu siswa Indonesia terhadap sains tercatat tinggi, mencapai 80 persen, tetapi hanya 30 persen yang memiliki growth mindset atau keyakinan bahwa kemampuan bisa terus dikembangkan. Dukungan orang tua terhadap pembelajaran sains di rumah juga menurun, dari 57 persen pada 2022 menjadi 48 persen pada 2025.
Posisi Indonesia di Kawasan ASEAN
Dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, posisi Indonesia masih tertinggal jauh. Singapura memimpin di ketiga bidang dengan skor di atas 530, diikuti Brunei, Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang juga unggul dari Indonesia. Skor Indonesia bahkan hanya sedikit di atas Filipina.
Berikut perbandingan capaian skor PISA 2025 Indonesia dari waktu ke waktu:
| Tahun | Membaca | Matematika | Sains |
|---|---|---|---|
| 2022 | 359 | 366 | 383 |
| 2025 | 365 | 364 | 389 |
Data tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pada literasi dan sains belum diimbangi dengan penguatan kemampuan matematika. Penurunan tipis pada matematika menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan pendidikan untuk merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, prestasi Justin Kluivert bersama Bournemouth menjadi pengingat bahwa talenta Indonesia dan diaspora mampu bersaing di panggung internasional. Momentum ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk menekuni berbagai bidang, baik olahraga maupun akademik.
Secara keseluruhan, skor Indonesia hari ini menghadirkan gambaran yang berimbang. Di lapangan hijau Eropa, sejarah baru tercipta melalui kaki seorang pemain keturunan Belanda. Di ruang kelas, capaian literasi dan sains menunjukkan perbaikan meski masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama pada matematika dan pembentukan pola pikir berkembang. Pemerintah, sekolah, dan orang tua perlu bergandengan tangan agar tren positif ini berlanjut dan ketertinggalan dari negara tetangga dapat dipersempit secara bertahap.








