Fokus Surabaya – Polres Sukoharjo terus mendalami kasus pembakaran Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu dini hari, 12 September 2026, itu diduga dilakukan oleh empat orang tak dikenal (OTK) yang beraksi dengan cepat dalam kondisi gelap. Kini, penyidik menggandeng Densus 88 Antiteror Polri dan Subdit Jatanras Polda Jawa Tengah untuk mengungkap motif dan identitas pelaku.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan bahwa pihaknya telah memeriksa 12 saksi, termasuk pemilik warung dan warga sekitar. “Kami bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Subdit Jatanras Polda Jateng untuk membantu proses pendalaman,” ujar Anggaito saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026). Ia menegaskan bahwa penyidik belum dapat menyimpulkan motif maupun keterlibatan pihak tertentu sebelum seluruh rangkaian pemeriksaan selesai.
Salah satu saksi, Ali (32), mengaku berhadapan langsung dengan para pelaku. Ia mengatakan salah seorang pelaku mendobrak kamar yang ditempatinya dan menariknya keluar. “Saya ditodong sajam dan diminta tidak melihat ke arah mereka,” kata Ali. Menurutnya, ada sekitar empat orang di lokasi saat kejadian. Para pelaku disebut mengenakan pakaian tertutup dan merusak perangkat CCTV sebelum membakar sejumlah bagian warung, termasuk kamar, gudang, dan sepeda motor.
Pemilik warung, Jodi Sutanto, menyatakan bahwa sebelumnya pernah ada penolakan terhadap usaha makanan nonhalal tersebut. Bahkan, aksi demonstrasi sempat terjadi pada April lalu. “Setelah itu silent, nggak ada kabar. Tahu-tahu sampai terjadi seperti ini,” ujar Jodi. Ia menyerahkan sepenuhnya pengungkapan kasus kepada kepolisian dan berharap pelaku segera ditangkap serta diproses sesuai hukum. Jodi juga memilih menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Polisi masih mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti dari lokasi kejadian. Hingga kini, warung masih dipasangi garis polisi dan aktivitas usaha dihentikan sementara. Kapolres menyebut bahwa penyidik masih mengembangkan sejumlah petunjuk, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) yang mengindikasikan adanya tiga titik awal api. “Kami masih menunggu hasil labfor yang menyebutkan ada 3 titik awal api,” kata Anggaito. Selain itu, polisi juga menyisir rekaman CCTV dan mendeteksi dua pelaku menggunakan sepeda motor.
Plt Bupati Sukoharjo, Eko, meminta semua pihak menahan diri dan tidak berspekulasi. “Hendaknya semua pihak menahan diri dan tidak berspekulasi. Kasus ini diserahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian, dan kami akan menghormati setiap proses hukum yang berlaku,” ujarnya. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum.
Kasus pembakaran warung mi babi ini menambah daftar panjang insiden yang menimpa usaha makanan nonhalal di Indonesia. Meski demikian, aparat kepolisian terus berupaya mengungkap motif di balik peristiwa tersebut. Dengan melibatkan Densus 88 dan Jatanras, diharapkan penyelidikan dapat berjalan lebih komprehensif, termasuk mendalami kemungkinan keterkaitan dengan jaringan terorisme atau kelompok tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, polisi belum menetapkan tersangka. Penyidik masih fokus pada pengumpulan bukti dan pemeriksaan saksi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya. Pemilik warung berharap keadilan dapat ditegakkan dan pelaku segera ditangkap.





