Fokus Jepara – Perdebatan tentang gelembung teknologi (tech bubble) kembali memanas setelah Sridhar Vembu, pendiri Zoho, mengeluarkan peringatan tentang overvaluasi perusahaan teknologi besar, termasuk Nvidia dan Apple. Vembu menyoroti rasio harga penjualan (price-to-sales ratio) yang tinggi dari perusahaan-perusahaan ini, dengan Nvidia mencapai 20x, Apple 10x, Alphabet 11x, Microsoft 10x, Meta 7,5x, dan Micron 19x.
Vembu membandingkan situasi ini dengan gelembung dot-com pada tahun 1999, menyatakan bahwa ‘ini adalah gelembung gila, bahkan lebih besar dari 1999’. Ia menggunakan pernyataan Scott McNealy, mantan CEO Sun Microsystems, yang pada tahun 2002 mengatakan bahwa dengan rasio harga penjualan 10x, sebuah perusahaan harus memberikan pengembalian 100% dari penjualan selama 10 tahun berturut-turut untuk mencapai payback dalam waktu 10 tahun.
Namun, beberapa pengguna menyatakan bahwa perbandingan dengan era dot-com tidak tepat karena perusahaan teknologi besar saat ini menghasilkan keuntungan yang signifikan. Mereka menyoroti bahwa rasio harga penjualan saja tidak cukup untuk menilai kinerja perusahaan, terutama bagi perusahaan seperti Nvidia yang memiliki margin keuntungan tinggi.
Contohnya, Nvidia yang memiliki rasio harga penjualan 20x, dapat mengubah lebih dari setengah penjualannya menjadi keuntungan bersih. Kislay Parashar dari Cosmic Labs juga menyoroti bahwa perbedaan besar antara perusahaan pada era dot-com yang ‘membakar’ uang dan perusahaan teknologi besar saat ini yang ‘mencetak’ uang.
Perdebatan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah valiasi perusahaan teknologi besar saat ini sudah terlalu tinggi dan apakah ini merupakan tanda dari gelembung teknologi yang akan segera meletus. Sementara itu, Nvidia dan perusahaan teknologi lainnya terus berinovasi dan mengembangkan teknologi baru, termasuk teknologi AI yang semakin canggih.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nvidia telah menjadi salah satu pemimpin dalam pengembangan teknologi AI, terutama dalam bidang komputasi performa tinggi dan grafis. Perusahaan ini terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan teknologi AI dan memperluas aplikasinya ke berbagai bidang, termasuk gaming, otomotif, dan kesehatan.
Apakah Nvidia dan perusahaan teknologi lainnya dapat terus mempertahankan momentum dan menghindari gelembung teknologi, atau apakah ini merupakan awal dari akhir booming AI? Hanya waktu yang akan menjawabnya.








