Fokus Surabaya – Masa jabatan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan resmi berakhir setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya. Serah terima jabatan berlangsung di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa, 15 September 2026, sehari setelah pelantikan Suahasil di Istana Negara. Purbaya sendiri menempati posisi orang nomor satu di Kemenkeu sejak 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati, dan genap menjabat sekitar satu tahun dua pekan sebelum akhirnya digantikan wakilnya sendiri.
Dalam wawancara singkat usai sertijab, Purbaya menilai kinerjanya selama setahun memimpin Kementerian Keuangan tergolong cukup baik. Indikator utama yang ia soroti adalah pertumbuhan ekonomi nasional yang kembali berada di atas lima persen.
“Paling enggak kan lumayan. Kita sudah menaikkan pertumbuhan ekonomi dari berapa sih, 5 persen, di bawah 5 persen, sudah ke atas 5 persen,” kata Purbaya kepada wartawan di Kantor Kemenkeu.
Ia lantas membeberkan sejumlah angka capaian selama masa jabatannya. Pada kuartal IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Angka itu melonjak menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026, sebelum melandai ke 5,29 persen pada kuartal II 2026 akibat gejolak global imbas perang di Timur Tengah.
Deretan Kebijakan Kontroversial
Selama menjabat, Purbaya mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menuai perhatian pasar. Salah satu yang paling menonjol adalah pemindahan sebagian dana Saldo Anggaran Lebih atau SAL senilai Rp 200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara.
Penempatan dana tersebut dimulai pada 12 September 2025, hanya empat hari setelah ia dilantik. Langkah ini dimaksudkan untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor riil sehingga roda ekonomi berputar lebih cepat. Namun kebijakan itu sempat menuai kontroversi karena rencana penarikan kembali dana yang dikhawatirkan mengganggu likuiditas perbankan. Purbaya kemudian memutuskan memperpanjang penempatan dana SAL di Himbara hingga Juli 2027.
Meski pertumbuhan ekonomi mencatatkan angka positif, pasar keuangan justru menunjukkan reaksi sebaliknya. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG disebut mengalami tekanan sepanjang periode kepemimpinan Purbaya. Dinamika ini menjadi catatan tersendiri bagi para pelaku pasar yang menantikan kepastian arah kebijakan fiskal ke depan.
Perbandingan Tiga Menkeu di Era Prabowo
Perjalanan kursi Menteri Keuangan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah diisi tiga figur dengan corak kebijakan yang berbeda. Sri Mulyani menjabat sejak 21 Oktober 2024 hingga 8 September 2025 atau sekitar 10 bulan 18 hari. Ia dikenal meletakkan fondasi kehati-hatian fiskal, mengendalikan defisit anggaran, menyiapkan kerangka APBN 2025, serta mengawal program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Pada akhir masa jabatan Sri Mulyani, realisasi APBN per 31 Agustus 2025 menunjukkan pendapatan negara sebesar Rp 1.638,7 triliun atau turun 7,8 persen secara tahunan, sementara belanja negara mencapai Rp 1.960,3 triliun atau naik 1,5 persen. Defisit APBN tercatat Rp 321,6 triliun atau setara 1,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Purbaya kemudian mengambil alih dengan pendekatan yang lebih berani mendorong pertumbuhan. Ia menjabat selama 12 bulan 6 hari, dari 8 September 2025 hingga 14 September 2026. Kini estafet kepemimpinan fiskal berada di tangan Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.
| Periode | Menteri Keuangan | Pertumbuhan Ekonomi |
|---|---|---|
| 21 Okt 2024 – 8 Sep 2025 | Sri Mulyani Indrawati | Kisaran 5 persen |
| 8 Sep 2025 – 14 Sep 2026 | Purbaya Yudhi Sadewa | 5,39% (Kuartal IV 2025), 5,61% (Kuartal I 2026), 5,29% (Kuartal II 2026) |
| 14 Sep 2026 – sekarang | Suahasil Nazara | Menunggu realisasi |
Purbaya mengaku tidak memiliki pesan khusus untuk Suahasil. Menurutnya, sang pengganti sudah memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan.
“Enggak ada pesan, dia kan sudah jago, jalankan aja sesuai keahlian dia,” ujarnya singkat.
Usai dicopot dari jabatannya, Purbaya menyatakan enggan kembali menjabat sebagai pejabat negara. Ia memilih menjalani aktivitas sederhana dengan memancing ikan di rumah. Pernyataan itu menutup babak kepemimpinannya di Kemenkeu yang diwarnai capaian pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, tetapi juga diiringi tekanan pada nilai tukar rupiah dan pasar saham.
Pergantian di kursi Menteri Keuangan ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesinambungan pengelolaan APBN. Tiga corak kebijakan yang saling melengkapi, yakni kehati-hatian menjaga fondasi fiskal, keberanian mendorong pertumbuhan, serta upaya menjaga keseimbangan dan kredibilitas kebijakan, akan menentukan arah perekonomian Indonesia menghadapi tantangan global yang masih dinamis.








