Fokus Surabaya – Aksi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menebar 1 ton benih padi langsung ke kawasan Danau Semayang yang sedang surut menuai kontroversi. Video yang beredar di media sosial X pada 1 September 2026 itu memicu gelombang sindiran warganet. Banyak yang mempertanyakan efektivitas cara tanam tersebut karena padi umumnya disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di sawah.
Danau Semayang terletak di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur. Danau ini mengalami penyusutan signifikan akibat musim kemarau panjang. Alih-alih memanfaatkan lahan kering di sekitar danau, Bupati justru menebar benih ke area berlumpur yang masih tergenang air. Netizen menilai tindakan itu sebagai simbolisme tanpa perencanaan matang. Kolom komentar di unggahan video tersebut dipenuhi cibiran, mulai dari sindiran halus hingga kritik tajam.
Menanggapi polemik tersebut, Dinas Pertanian Kukar angkat bicara. Kepala Dinas Pertanian Kukar, melalui pernyataan resminya, menjelaskan bahwa penebaran benih itu merupakan bagian dari kajian awal untuk menguji daya tumbuh padi di lahan rawa lebak. Menurutnya, Danau Semayang memiliki karakteristik unik yang memungkinkan padi tumbuh langsung tanpa persemaian, asalkan kondisi air dan tanah mendukung.
“Ini bukan sekadar menebar benih. Kami sedang melakukan uji adaptasi varietas padi rawa yang tahan genangan. Selama ini, petani di Kukar memang menanam padi di lahan lebak dengan cara tanam langsung,” ujar perwakilan Dinas Pertanian. Ia menambahkan bahwa 1 ton benih yang ditebar adalah bagian dari program percontohan seluas 10 hektare.
Namun, pakar pertanian dari Universitas Mulawarman, Dr. Ir. Surya Darma, menilai metode tanam langsung di danau yang surut berisiko tinggi. “Benih padi yang ditebar langsung ke air akan sulit berkecambah karena oksigen terbatas dan suhu air yang fluktuatif. Belum lagi serangan hama keong mas dan burung. Sebaiknya tetap ada persemaian untuk memastikan bibit kuat,” jelasnya saat dihubungi secara terpisah.
Kontroversi ini juga menyoroti komunikasi publik pemerintah daerah. Warganet menilai Bupati kurang menjelaskan konteks kepada masyarakat. Akibatnya, aksi yang mungkin memiliki dasar ilmiah justru terlihat seperti pencitraan. Dinas Pertanian berjanji akan menggelar demonstrasi plot dan melibatkan kelompok tani setempat agar program serupa tidak menimbulkan salah paham.
Hingga berita ini diturunkan, Bupati Aulia Rahman Basri belum memberikan keterangan resmi. Sementara itu, Dinas Pertanian Kukar mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buruk menilai dan menunggu hasil evaluasi dalam tiga pekan ke depan. Mereka optimistis sebagian benih akan tumbuh, meskipun mengakui perlu perlakuan khusus seperti pemupukan dan pengaturan air.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya transparansi dan edukasi dalam setiap kebijakan publik. Inovasi pertanian memang diperlukan, tetapi harus disertai dengan penjelasan yang memadai agar tidak menimbulkan resistensi. Ke depan, Dinas Pertanian Kukar berencana menyusun panduan tanam padi rawa yang dapat diakses petani, sekaligus memperbaiki metode uji coba agar lebih terukur.







