Daftar Isi
Fokus Surabaya – Kekalahan telak Conor Benn atas Ryan Garcia masih menyisakan banyak sorotan dari kalangan pengamat tinju dunia. Petinju asal Inggris itu dihentikan pada ronde kedua dalam duel perebutan sabuk juara kelas welter WBC di Las Vegas, dan dampaknya kini terasa luas terhadap masa depan kariernya.
Garcia, yang berusia 28 tahun, menjatuhkan Benn dengan pukulan kanan hook keras. Benn memang berhasil bangkit sebelum hitungan wasit selesai, namun ia langsung dihujani pukulan bertubi-tubi hingga wasit terpaksa menghentikan pertarungan. Bagi Garcia, kemenangan itu menjadi sukses pertama dalam mempertahankan gelar juara dunia yang direbutnya, sekaligus menegaskan kelasnya sebagai salah satu petinju paling berbahaya di divisinya saat ini.
Hearn: Benn Bukan Petinju Kelas Dunia
Promotor Eddie Hearn, yang pernah menjadi promotor Benn sepanjang kariernya, memberikan penilaian yang cukup keras. Dalam wawancaranya dengan iFL TV, Hearn menilai Benn tetap petinju yang bagus, tetapi tidak cukup baik untuk merebut gelar juara dunia.
“Apakah dia kelas dunia? Saya pikir yang kita temukan adalah tidak, dia bukan kelas dunia, tapi itu tidak berarti dia bukan petinju yang bagus. Saya hanya tidak berpikir dia cukup baik untuk memenangkan gelar dunia atau bertarung di level itu, terutama di kelas berat badan yang tidak cocok untuknya,” ujar Hearn.
Pernyataan itu terasa menyakitkan mengingat Benn meninggalkan Matchroom milik Hearn pada awal tahun ini untuk bergabung dengan Zuffa Boxing, promotor baru yang dipimpin Presiden UFC, Dana White. Keputusan itu diambil setelah Matchroom setia mendampingi Benn melalui saga tes doping yang panjang dan berkepanjangan.
Sejak pindah ke Zuffa, performa Benn justru jauh dari memuaskan. Pada laga pertamanya, ia hanya menang angka 10 ronde atas Regis Prograis yang tampil dalam kondisi banyak cedera. Kemenangan itu dinilai tidak meyakinkan. Kemudian, saat menghadapi Garcia, Benn benar-benar kewalahan dan menelan kekalahan TKO pertamanya sepanjang karier profesional.
Froch: Benn Akan Sangat Kesulitan
Senada dengan Hearn, mantan juara dunia kelas super-middleweight tiga kali, Carl Froch, juga meragukan peluang Benn merebut gelar dunia. Melalui kanal YouTube-nya, Froch on Fighting, ia menilai Benn akan menghadapi “perjuangan yang sangat berat” untuk mengalahkan petinju-petinju di level elit.
“Para petinju di level itu, dan di mana dia berada sekarang, dari segi fundamental dan minimnya pengalaman amatir, dia akan sangat, sangat kesulitan mengalahkan siapa pun untuk merebut gelar dunia,” kata Froch.
Froch menyarankan Benn untuk menaikkan kelas ke super-welterweight atau middleweight. Menurutnya, penampilan terbaik Benn justru terlihat saat duel pertama melawan Chris Eubank Jr., meski ia kalah. Dalam laga itu, Benn dinilai menunjukkan keberanian luar biasa dan kemampuan menembus tekanan lawan.
“Itu di kelas middleweight. Dia bukan super-middleweight, sebenarnya dia mungkin petinju 154 pon, tapi itu divisi yang berbahaya, jadi mungkin 160 pon, tapi siapa yang tahu?” ujar Froch.
Pernyataan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: Benn kini berada di persimpangan karier. Ia harus memilih antara bertahan di kelas welter yang tidak menguntungkan secara fisik, atau naik kelas dan membangun kembali kredibilitasnya dari awal.
Garcia Buka Peluang Duel Ulang dengan Haney
Di sisi lain, kemenangan Garcia atas Benn membuka kembali wacana duel ulang melawan Devin Haney. Pelatih senior Teddy Atlas menilai Haney, jika tidak terbawa emosi seperti pada pertemuan pertama dua tahun lalu, bisa menjadi ancaman serius bagi Garcia.
Pada duel sebelumnya, Garcia berhasil memancing Haney ke dalam pertarungan yang tidak menguntungkan. Haney kalah, meski hasil itu kemudian dianulir karena Garcia gagal tes doping. Sejak saat itu, Haney bangkit dengan mengalahkan Jose Ramirez dan Brian Norman Jr., sekaligus merebut sabuk juara kelas welter WBO.
Atlas menyebut kemenangan atas Norman sebagai bukti bahwa Haney telah menemukan kembali identitasnya sebagai petinju teknis. Dengan sabuk juara di tangannya, Haney kini punya posisi tawar yang kuat jika negosiasi duel ulang dengan Garcia benar-benar berlanjut ke meja perundingan.
Masa Depan Benn di Ujung Tanda Tanya
Benn sendiri mengaku belum menentukan langkah berikutnya. Ia menyatakan prioritasnya saat ini adalah menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, ia sempat mengisyaratkan akan kembali naik ke kelas middleweight pada pertarungan berikutnya.
Jika benar demikian, Benn harus membangun ulang fondasi teknik dan mentalnya. Kekalahan atas Garcia menunjukkan jurang kualitas antara dirinya dan petinju-petinju papan atas. Tanpa perbaikan fundamental dan pengalaman bertarung di level tinggi, ambisinya merebut gelar dunia akan tetap menjadi mimpi yang sulit diwujudkan.
Bagi publik tinju Indonesia, duel Garcia kontra Benn menjadi pengingat bahwa reputasi besar di level regional tidak otomatis berbuah kesuksesan di panggung dunia. Benn kini harus memilih: bertahan dan terus diragukan, atau berubah total demi mengejar satu gelar yang selama ini ia impikan.





