Fokus Surabaya – Pasar keuangan syariah Indonesia kembali mencuri perhatian seiring menguatnya posisi Jakarta Islamic Index sebagai barometer saham berbasis prinsip Islam di Bursa Efek Indonesia. Indeks ini tidak lagi sekadar daftar emiten, melainkan cermin bagaimana nilai-nilai syariah merembes ke berbagai sektor, dari energi, konsumer, hingga pendidikan tinggi yang mulai menegakkan prinsip keberlanjutan.
Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan geliat sejumlah perguruan tinggi Islam yang kini tampil di panggung nasional. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, misalnya, menembus sepuluh besar kampus hijau Indonesia 2026 dalam pemeringkatan UI GreenMetric yang diumumkan di Auditorium Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Selasa (15/9/2026). Kampus itu menempati peringkat kedelapan nasional, berada di atas Telkom University dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sekaligus menjadi satu-satunya perguruan tinggi Sumatera di jajaran elit tersebut.
Prestasi itu menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam tak hanya bicara soal akhlak dan ibadah, tetapi juga tata kelola lingkungan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyusul di peringkat ke-15 nasional dan menjadi kampus Islam terbaik kedua di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. UIN Raden Fatah Palembang berada di posisi ke-21, sementara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati peringkat ke-31 dan meraih penghargaan khusus sebagai perguruan tinggi dengan peningkatan kinerja keberlanjutan substantif terbaik.
Sejumlah kampus Islam lain juga menerima sertifikat kepatuhan dan rating, mulai dari UIN Salatiga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Syekh M. Djamil Djambek Bukittinggi, UIN Sumatera Utara Medan, hingga UIN Imam Bonjol Padang. Capaian ini dikaitkan dengan gagasan ekoteologi yang digaungkan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang menempatkan pelestarian lingkungan atau hifdz al-bi’ah bukan sekadar program fisik, melainkan bagian dari kesalehan.
Di sisi lain, kehadiran negara bagi kelompok rentan tetap menjadi ujian tersendiri. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai pelayanan sosial tidak boleh berhenti pada bantuan tunai atau sembako. Saat meninjau Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kementerian Sosial di Bekasi, ia menegaskan pentingnya layanan berkelanjutan bagi kelompok miskin, penyandang disabilitas, lanjut usia, hingga masyarakat terlantar. “Tugas pemerintah adalah memastikan mereka dapat hidup layak, memperoleh layanan yang dibutuhkan, dan memiliki kesempatan untuk kembali berdaya,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Model layanan terpadu di Pangudi Luhur mencakup kebutuhan dasar, makanan dan tempat tinggal, layanan kesehatan, terapi dan rehabilitasi, pendampingan sosial, fasilitas ibadah, hingga pelatihan keterampilan dan kewirausahaan melalui Sentra Kreasi ATENSI. Pendekatan ini sejalan dengan semangat pemberdayaan yang juga menjadi roh ekonomi syariah, di mana pertumbuhan tidak diukur semata dari angka, tetapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Dinamika global turut memberi warna. Laporan misi pencari fakta independen PBB menyebut adanya alasan kuat untuk menduga pelanggaran berat terjadi dalam konflik di Iran, sementara pemerintah Amerika Serikat membantahnya. Isu ini mengingatkan bahwa stabilitas geopolitik tetap menjadi faktor yang memengaruhi pasar, termasuk pasar modal syariah yang semakin terhubung dengan investor global.
Dari sisi gaya hidup, kesadaran kesehatan juga menguat. Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026 yang digelar Pepsodent bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyoroti pentingnya keseimbangan mikrobioma mulut. Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan empat dari sepuluh anak sekolah Indonesia mengalami karies, dan mendorong pemeriksaan gigi rutin setiap enam bulan. Program ini menyasar fakultas kedokteran gigi dan rumah sakit pendidikan gigi di seluruh Indonesia sepanjang Oktober hingga Desember 2026.
Di sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata membawa kampanye “Go Beyond Ordinary” ke Tourism Expo Japan 2026 di Tokyo Big Sight pada 24-27 September 2026. Deputi Bidang Pemasaran Ni Made Ayu Marthini menyebut ajang itu sebagai momentum memperkenalkan keragaman destinasi Nusantara sekaligus memperluas jejaring bisnis dengan industri pariwisata Jepang. Delapan perwakilan industri pariwisata Indonesia ambil bagian menawarkan paket wisata kepada pasar Jepang.
Semua perkembangan ini memperlihatkan satu benang merah: wajah Islam Indonesia modern tidak tunggal. Ia hadir di lantai bursa melalui Jakarta Islamic Index, di kampus-kampus hijau melalui ekoteologi, di layanan sosial bagi kelompok rentan, hingga di ruang publik melalui kampanye kesehatan dan pariwisata. Pertumbuhan ekonomi syariah akan semakin bermakna bila dibarengi keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan perluasan akses layanan dasar. Dengan begitu, indeks bukan sekadar angka di layar, melainkan cermin peradaban yang sedang dibangun bersama.







