Daftar Isi
Fokus Surabaya – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan perdagangan 14-18 September 2026 dengan kinerja negatif. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu terperosok ke level 6.441,15 atau melemah 1,53 persen dibandingkan posisi pekan sebelumnya di 6.541,37. Tekanan jual yang berlangsung sepanjang pekan membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus 1,58 persen menjadi Rp 11.266 triliun dari Rp 11.446 triliun pada pekan sebelumnya.
Pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, IHSG ditutup melemah 0,33 persen. Indeks sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.521,02 pada pagi hari sebelum berbalik arah ke zona merah. Indeks LQ45 turun lebih dalam, yakni 1,25 persen ke level 640,24. Sepanjang hari itu tercatat 204 saham menguat, 442 saham melemah, dan 144 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 19,25 triliun dari volume 32,60 miliar saham.
Koreksi IHSG tidak lepas dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah ke kisaran Rp 17.691 hingga Rp 17.742. Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sekitar US$ 65 juta atau setara Rp 1,15 triliun hingga Kamis pekan tersebut, meski angka ini jauh lebih rendah dibandingkan outflow US$ 152 juta atau Rp 2,70 triliun pada pekan sebelumnya.
Catatan MSCI dan Penerapan Short Selling
Di tengah tekanan pasar, BEI kembali memberlakukan skema perdagangan short selling sejak 15 September 2026 berdasarkan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengungkapkan bahwa salah satu pendorong kebijakan ini adalah catatan dari MSCI yang menilai implementasi short selling di pasar modal Indonesia masih terbatas.
“Ada catatan meskipun tidak spesifik, tidak sampai diminta oleh MSCI, tetapi ada catatan MSCI bahwa short selling masih terbatas,” ujar Iding di Gedung BEI, Jakarta Selatan.
Menurutnya, pasar modal Indonesia dinilai cukup stabil dengan volatilitas yang terjaga, sehingga penerapan short selling dapat dibuka secara terbatas. Tahap awal, hanya lima saham dari indeks LQ45 yang diperbolehkan menjalankan skema ini karena memiliki likuiditas tinggi. Tujuannya agar strategi perdagangan tersebut efektif dan tidak membuka ruang manipulasi harga pada saham yang transaksinya tipis.
Short selling sendiri merupakan strategi menjual saham yang belum dimiliki dengan cara meminjamnya terlebih dahulu, dengan harapan dapat membelinya kembali di harga lebih rendah untuk meraup keuntungan.
Bobot Indonesia di Indeks MSCI Menyusut
Isu MSCI tidak hanya soal short selling. Riset CGS International Sekuritas Indonesia bertajuk Glass Half Full, Not Half Empty mencatat bobot Indonesia dalam indeks MSCI APAC ex-Japan hanya 0,5 persen pada Agustus 2026, turun dari 1,2 persen pada Desember 2025. Kondisi ini secara struktural menahan alokasi dana asing ke pasar domestik karena banyak manajer investasi yang mengikuti indeks acuan global tersebut tidak memiliki ruang besar untuk menambah eksposur ke Indonesia.
Meski demikian, muncul sinyal awal kembalinya minat asing. Investor asing mencatatkan aliran dana bersih US$ 155 juta ke pasar saham Indonesia pada pekan pertama September 2026, seiring moderasi sejumlah kebijakan domestik yang dinilai pasar mulai akomodatif.
Dilema Suku Bunga dan Harga Minyak
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menuturkan bahwa koreksi IHSG lebih banyak dipengaruhi outflow asing, kekhawatiran terhadap arah kebijakan The Federal Reserve, serta sentimen fiskal domestik. Pasar masih mencerna kenaikan Fed Funds Rate 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen dan terutama forward guidance The Fed yang cenderung hawkish.
“Kenaikan tersebut memang sudah cukup diantisipasi pasar, tetapi sikap kebijakan yang lebih hawkish berpotensi menjaga yield US Treasury dan DXY tetap tinggi,” ujar Nafan.
Dari sisi domestik, realisasi APBN hingga Agustus 2026 mencatat defisit Rp 240,1 triliun, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di sekitar 7,17 persen. Kombinasi yield tinggi dan tekanan nilai tukar membuat investor lebih selektif terhadap aset berisiko.
Riset PT Ashmore Asset Management Indonesia juga menyoroti dilema Bank Indonesia menjelang rapat pada 23 September 2026, di mana konsensus memperkirakan BI Rate tetap di 5,75 persen. Di satu sisi, kenaikan suku bunga oleh The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan mempersempit selisih suku bunga Indonesia dan AS sehingga memicu arus keluar modal. Di sisi lain, menaikkan suku bunga akan membebani pertumbuhan ekonomi dan biaya pinjaman domestik.
Harga minyak menjadi faktor tambahan. Anggaran negara 2026 mengasumsikan harga minyak US$ 70 per barel, sementara harga pasar mendekati US$ 104 per barel. Selisih tersebut harus ditanggung melalui subsidi bahan bakar atau kenaikan harga jual di tingkat konsumen, sehingga mempersempit ruang gerak pemerintah.
Rata-rata nilai transaksi harian saham pun susut 6,95 persen menjadi Rp 15,22 triliun dari pekan sebelumnya Rp 16,36 triliun. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,13 persen dari 7,15 persen.
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir mencerminkan tarik-menarik antara harapan akan kembalinya dana asing dan tekanan eksternal yang belum mereda. Catatan MSCI soal keterbatasan short selling serta menyusutnya bobot Indonesia di indeks acuan global menjadi pengingat bahwa daya tarik pasar modal domestik masih bergantung pada perbaikan struktural. Tanpa kenaikan bobot di indeks global dan kepastian arah suku bunga The Fed, aliran dana masuk cenderung bersifat taktis dan jangka pendek. Pasar kini menanti keputusan BI Rate serta perkembangan harga minyak sebagai penentu arah IHSG dalam beberapa pekan mendatang.







