Dunia

Jepang Protes Keras Usai China-Rusia Gelar Latihan Tembak di ZEE, Ketegangan Asia Timur Memanas

Jepang Protes Keras Usai China-Rusia Gelar Latihan Tembak di ZEE, Ketegangan Asia Timur Memanas
Jepang Protes Keras Usai China-Rusia Gelar Latihan Tembak di ZEE, Ketegangan Asia Timur Memanas
A− A+

Fokus Surabaya – Tokyo, Jepang – Pemerintah Jepang menyampaikan protes keras kepada China dan Rusia setelah kedua negara tersebut melakukan latihan tembak di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Asia Timur, yang juga diwarnai oleh provokasi Korea Utara melalui peluncuran rudal balistik.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, dalam konferensi pers pada Minggu (20/9) menyatakan bahwa latihan tembak yang dilakukan oleh kapal perang China dan Rusia di perairan ZEE Jepang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan nasional. “Kami mengutuk keras tindakan provokatif ini. Jepang tidak akan tinggal diam dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah kami,” tegas Koizumi.

Baca juga:

Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, latihan tembak tersebut melibatkan sejumlah kapal perang dan pesawat dari Angkatan Laut China dan Rusia. Aktivitas ini berlangsung di perairan yang berbatasan langsung dengan ZEE Jepang, meskipun belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban jiwa. Jepang telah mengirimkan protes diplomatik melalui jalur resmi di Beijing dan Moskow.

Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan, terutama setelah Korea Utara kembali meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Jepang pada hari yang sama. Militer Korea Selatan melaporkan bahwa rudal pertama ditembakkan sekitar pukul 15.00 waktu setempat dari dekat Wonsan, terbang sejauh 450 kilometer, sedangkan rudal kedua diluncurkan sekitar pukul 17.50 dan menempuh jarak lebih dari 600 kilometer. Kedua rudal diyakini jatuh di luar ZEE Jepang.

Peluncuran rudal Korea Utara ini merupakan yang kedua kalinya pada bulan September, setelah sebelumnya pada 12 September Pyongyang menembakkan beberapa rudal balistik sebagai bagian dari latihan daya tembak gabungan. Korea Utara juga menolak resolusi badan pengawas nuklir PBB yang menuntut penghentian aktivitas nuklirnya. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengisyaratkan kemungkinan tindakan balasan terhadap latihan angkatan laut multinasional yang dipimpin Amerika Serikat, Pacific Vanguard.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa Jepang telah menyampaikan protes keras kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Beijing, karena kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. “Kami mengutuk keras peluncuran rudal ini. Ini adalah ancaman nyata bagi perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujarnya.

Baca juga:

Sementara itu, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang terus berbagi informasi secara intensif mengenai rudal Korea Utara. Militer Korea Selatan meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan. Otoritas Korea Selatan dan AS sedang melakukan analisis mendalam untuk menentukan spesifikasi pasti rudal tersebut.

Ketegangan di Asia Timur semakin memanas dengan adanya latihan tembak China-Rusia di ZEE Jepang dan provokasi Korea Utara. Jepang sebagai negara yang paling terdampak langsung menuntut tindakan tegas dari komunitas internasional. Perdana Menteri Jepang dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat dengan para menteri pertahanan dan luar negeri untuk membahas langkah strategis menghadapi situasi ini.

Dalam perkembangan terpisah, Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi bahwa proyektil yang diluncurkan Korea Utara telah jatuh di laut, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Namun, Jepang memastikan tidak ada kerusakan atau korban jiwa akibat insiden tersebut.

Pengamat keamanan internasional menilai bahwa aksi China-Rusia dan Korea Utara merupakan upaya untuk menguji solidaritas aliansi AS-Jepang-Korsel. Mereka menyerukan dialog multilateral untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik yang lebih besar.

Baca juga:

Dengan meningkatnya aktivitas militer di kawasan, Jepang memperkuat pertahanan udara dan lautnya, serta meningkatkan kerja sama dengan sekutu-sekutunya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi warga Jepang dan menjaga stabilitas regional.

Protes keras Jepang terhadap China-Rusia dan Korea Utara mencerminkan kekhawatiran mendalam akan perubahan keseimbangan kekuatan di Asia Timur. Komunitas internasional diharapkan dapat mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati hukum internasional.

Mungkin Anda Suka