Fokus Surabaya – Departemen Keuangan Amerika Serikat kembali memperketat cengkeraman ekonomi terhadap Iran. Pada Senin waktu setempat, Washington menjatuhkan sanksi kepada VTB Bank Public Joint Stock Company, bank terbesar kedua di Rusia, karena dinilai telah membantu Iran mengakses sistem keuangan internasional. Langkah ini menjadi babak terbaru dalam Operation Economic Outcast, strategi pemerintahan Donald Trump untuk melumpuhkan perekonomian Iran tanpa mengerahkan kekuatan militer.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentoleransi dukungan apa pun terhadap Teheran. “Departemen Keuangan akan terus menargetkan dan mengganggu pihak-pihak yang memberikan dukungan material, teknologi, maupun keuangan yang memungkinkan rezim Iran mempertahankan aktivitas terorisnya,” ujar Bessent dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk mengidentifikasi, mengungkap, serta mengisolasi pihak-pihak yang memungkinkan Iran menjalankan aktivitasnya.
Sanksi terhadap VTB diberikan karena bank tersebut diduga membentuk hubungan koresponden dengan bank-bank Iran. Hubungan ini memungkinkan Iran tetap terhubung dengan sistem keuangan global meskipun telah dikenai berbagai pembatasan. Departemen Keuangan AS memperkirakan sanksi tersebut akan memblokir dana senilai puluhan juta dolar dan semakin memperkuat posisi VTB sebagai salah satu lembaga keuangan yang paling banyak menerima sanksi di dunia.
Dampak dari kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh Moskow, tetapi juga oleh jutaan warga Iran. Sejak sanksi ekonomi AS diperketat, nilai tukar rial Iran terus merosot, harga barang kebutuhan pokok melonjak, dan daya beli masyarakat tergerus. Banyak keluarga di Teheran, Isfahan, dan kota-kota lain harus mengurangi konsumsi daging, beras, dan obat-obatan karena harga yang melambung. Antrean panjang di depan ATM dan pasar tradisional menjadi pemandangan sehari-hari.
Seorang warga Teheran, Reza, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. “Harga ayam dan minyak goreng naik hampir dua kali lipat dalam setahun. Gaji saya tidak berubah,” ujarnya. Keluhan serupa juga disampaikan para pedagang di pasar valuta asing yang melihat permintaan dolar melonjak seiring kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi.
Pengamat ekonomi internasional menilai sanksi terhadap VTB akan mempersempit ruang gerak Iran dalam bertransaksi dengan dunia luar. “Ini adalah pukulan telak bagi jaringan keuangan Iran. Mereka kehilangan salah satu jalur utama untuk mendapatkan valuta asing,” kata Tobin Marcus, Kepala Kebijakan dan Politik AS dari Wolfe Research. Meski demikian, ia mengakui bahwa dampak pasti dari sanksi ini masih sulit diprediksi karena VTB sendiri sudah lama menghadapi pembatasan berat.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah merancang apa yang disebut sebagai “economic D-Day”, sebuah upaya sistematis untuk melumpuhkan perekonomian Iran di tingkat global. Rangkaian sanksi ini menyasar sektor perbankan, energi, dan perdagangan, dengan tujuan utama menekan Teheran agar mengubah perilakunya di kawasan. Namun, kebijakan ini juga menuai kritik karena dinilai memperburuk kondisi kemanusiaan rakyat Iran.
Organisasi kemanusiaan melaporkan bahwa akses Iran terhadap obat-obatan dan peralatan medis semakin terbatas. Bank-bank internasional enggan memproses transaksi kemanusiaan karena takut terkena sanksi sekunder dari AS. Akibatnya, pasien kanker dan penderita penyakit kronis kesulitan mendapatkan pengobatan yang mereka butuhkan.
Sementara itu, Rusia mengecam sanksi terbaru AS terhadap VTB. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk tekanan sepihak yang melanggar hukum internasional. Moskow berjanji akan mengambil langkah balasan untuk melindungi kepentingan ekonominya. China, yang memiliki hubungan dagang erat dengan Iran dan Rusia, juga disebut berpotensi terkena imbas karena bank-banknya berisiko dikenai sanksi sekunder jika tetap bertransaksi dengan entitas yang masuk daftar hitam AS.
Dalam jangka panjang, kebijakan Operation Economic Outcast diperkirakan akan terus menekan Iran. Namun, pertanyaan besar yang belum terjawab adalah seberapa besar rakyat Iran harus menanggung beban dari konflik geopolitik ini. Selama sanksi masih berlaku dan jalur diplomasi belum membuahkan hasil, warga Iran tampaknya harus bersiap menghadapi masa-masa sulit dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Kesimpulan dari rangkaian peristiwa ini adalah bahwa sanksi ekonomi AS terhadap VTB Bank Rusia tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral Washington-Moskow, tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan di Iran. Upaya isolasi ekonomi yang terus digencarkan justru membuat rakyat Iran semakin terhimpit, sementara solusi diplomatik masih jauh dari harapan. Tanpa adanya terobosan dalam perundingan internasional, kesulitan warga Iran dalam memenuhi kebutuhan pokok diprediksi akan terus berlanjut.








