Daftar Isi
Fokus Surabaya – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan energi nasional melalui serangkaian kebijakan strategis. Salah satu yang paling menonjol adalah keputusan menurunkan harga gas alam cair (LNG) untuk kebutuhan industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing sektor manufaktur di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi pasar energi dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Kepala Negara. Menurutnya, penurunan harga LNG untuk industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor industri yang selama ini terbebani oleh mahalnya biaya energi.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo jelas, seluruh potensi energi dalam negeri harus dioptimalkan, termasuk memastikan harga gas untuk industri tetap kompetitif. Angka 13 dolar AS per MMBTU itu menjadi acuan agar industri kita tidak kalah bersaing,” ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Harga BBM Subsidi Dijamin Tidak Naik hingga Akhir 2026
Di sisi lain, Bahlil juga menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Pernyataan ini sekaligus menjawab riuhnya pembahasan di media sosial mengenai isu kenaikan harga BBM yang sempat membuat masyarakat resah.
“Harga minyak subsidi sampai dengan akhir tahun tidak akan ada kenaikan. Sudah, itu deal, itu perintah Pak Presiden Prabowo,” tegas Bahlil di ICE BSD, Tangerang, Banten.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM non-subsidi murni mengikuti mekanisme pasar global. Jika harga Indonesian Crude Price (ICP) naik, maka harga BBM non-subsidi otomatis akan menyesuaikan. Sebaliknya, jika ICP turun, harga juga akan mengalami koreksi.
“Coba cek dulu. Kalau harga minyak non-subsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi,” jelasnya.
Pemerintah juga menjamin pasokan BBM nasional berada dalam posisi aman, yakni berkisar 18 hingga 21 hari operasional, di atas batas standar kecukupan. Dengan demikian, masyarakat diminta tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi menjelang akhir tahun.
Batu Bara Berkalori Rendah Jadi Alternatif Energi Masa Depan
Selain kebijakan harga LNG dan BBM, Prabowo juga mengarahkan pengoptimalan batu bara sebagai sumber energi alternatif. Salah satu yang tengah dikaji adalah pemanfaatan batu bara berkalori rendah untuk menghasilkan gas maupun minyak.
Bahlil menyebut teknologi pengolahan batu bara menjadi gas dan minyak sudah berkembang pesat di sejumlah negara, termasuk China. Bahkan, beberapa perusahaan telah menawarkan kerja sama kepada Indonesia untuk mengembangkan teknologi tersebut.
“Sekarang teknologinya sudah canggih, di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak. Di beberapa negara seperti China, gasnya sudah diambil dari batu bara low calorie,” kata Bahlil.
Menurutnya, potensi batu bara berkalori rendah di Indonesia sangat besar. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor energi sehingga devisa negara dapat tetap berada di dalam negeri.
Imbauan kepada Masyarakat Ekonomi Mampu
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil kembali mengimbau kelompok masyarakat berekonomi mampu untuk tidak mengonsumsi BBM subsidi yang sejatinya dialokasikan bagi warga kurang mampu. Ia menyayangkan masih maraknya praktik penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan.
Bahlil mencontohkan temuan kasus penyelewengan di Makassar, Sulawesi Selatan, di mana sebuah kendaraan memodifikasi tangki agar bisa menyedot BBM subsidi dalam volume besar untuk dijual kembali.
“Memang terjadi shifting. Gimana tidak shifting kalau mobil bagus diisi minyak subsidi, habis itu dijual lagi. Ya kasihan saudara-saudara kita yang berhak menerimanya jatahnya diambil,” cetusnya.
Dampak bagi Industri dan Perekonomian Nasional
Kebijakan penurunan harga LNG untuk industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dinilai akan memberikan angin segar bagi sektor manufaktur, terutama industri padat energi seperti pupuk, petrokimia, dan keramik. Dengan biaya energi yang lebih rendah, produk industri dalam negeri diharapkan mampu bersaing di pasar global.
Selain itu, kombinasi antara harga BBM subsidi yang stabil, pasokan energi yang aman, serta pengembangan energi alternatif dari batu bara menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam membangun kemandirian energi. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pengawasan distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran.
Ke depan, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan, kesiapan teknologi, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan. Jika berjalan sesuai rencana, Indonesia berpeluang besar memperkuat posisi tawar di kancah energi global sekaligus menjaga stabilitas ekonomi domestik.








