Sport

Celtic dalam Krisis: Dukungan untuk O’Neill, Kemunduran Eropa, dan Tekanan Suporter

Celtic dalam Krisis: Dukungan untuk O'Neill, Kemunduran Eropa, dan Tekanan Suporter
Celtic dalam Krisis: Dukungan untuk O'Neill, Kemunduran Eropa, dan Tekanan Suporter
Daftar Isi
  1. Kemunduran di Eropa yang Tak Terbantahkan
  2. Dampak Finansial dan Kegagalan di Play-off
  3. Masa Depan yang Tak Pasti
A− A+

Fokus SurabayaCeltic sedang berada di pusaran badai. Tiga kekalahan beruntun dalam sepekan—dua di antaranya dari rival abadi Rangers—telah mengguncang klub yang selama ini mendominasi sepak bola Skotlandia. Manajer Martin O’Neill, yang kembali ke Parkhead pada Oktober lalu, bahkan sempat menyatakan bahwa ini mungkin saatnya untuk ‘mengakhiri semuanya’. Namun, di tengah tekanan yang membara, CEO Celtic Michael Nicholson angkat bicara memberikan dukungan penuh kepada manajer berusia 74 tahun itu.

Dalam pernyataan resmi yang menyertai rilis laporan keuangan tahunan klub, Nicholson mengakui bahwa kekalahan dari Rangers dan Ferencvaros sangat menyakitkan. “Kami akan bersatu dan mendukung Martin serta para pemain, dengan fokus meraih kesuksesan di liga domestik dan Liga Europa,” tegasnya. Celtic saat ini masih memuncaki klasemen Scottish Premiership dengan keunggulan dua poin, tetapi gelombang ketidakpuasan dari sebagian besar pendukung semakin sulit dibendung.

Baca juga:

Kemunduran di Eropa yang Tak Terbantahkan

Kritik terhadap kepemimpinan Celtic sebenarnya bukan hal baru. Sebuah analisis tajam menyoroti bahwa klub belum pernah memenangkan satu pun babak knockout Eropa sejak Maret 2004, ketika tim asuhan Martin O’Neill menyingkirkan Barcelona di Piala UEFA. Lebih dari dua dekade tanpa kemajuan di kompetisi Eropa menjadi noda yang tidak bisa ditutupi oleh trofi domestik semata.

Masalah utama bukanlah penjualan pemain bintang, melainkan ketiadaan pengganti yang mumpuni. Celtic kerap melepas pemain kunci tanpa persiapan yang matang, lalu berusaha membangun ulang skuad di tengah jadwal kualifikasi Liga Champions yang padat. Akibatnya, klub selalu tampil tidak siap dan terkejut menghadapi masalah yang sebenarnya bisa diprediksi.

Dampak Finansial dan Kegagalan di Play-off

Kegagalan mencapai fase liga Liga Champions musim ini, setelah sempat unggul agregat 4-0 atas LASK, berbuntut kerugian besar. Laporan keuangan terbaru menunjukkan penurunan pendapatan hampir £33 juta dan kerugian pasca-pajak sebesar £4,8 juta. Meski demikian, klub masih memiliki cadangan kas sebesar £66,4 juta—sebuah angka yang ironis mengingat minimnya investasi untuk memperkuat skuad di momen krusial.

Baca juga:

Kegagalan di Eropa juga berdampak pada atmosfer pertandingan. Derbi Old Firm melawan Rangers akhir pekan lalu digelar tanpa kehadiran suporter tim tamu, keputusan yang dikritik keras. Sebagai perbandingan, laga Millwall vs West Ham di London berhasil dikawal dengan 400 personel polisi, zona penyebaran lima mil, dan teknologi pengenalan wajah. Banyak pihak mempertanyakan mengapa pendekatan serupa tidak diterapkan di Glasgow.

Masa Depan yang Tak Pasti

O’Neill, yang telah menyumbangkan sembilan trofi dalam dua periode kepelatihannya, kini berada di persimpangan. Meski manajemen memberikan dukungan verbal, tekanan dari suporter dan realitas sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar loyalitas. Celtic memiliki basis penggemar besar, pendapatan Eropa yang rutin, dan sumber daya yang jauh melampaui rival domestik. Namun, tanpa perbaikan struktural dan perencanaan transfer yang cerdas, kemunduran di Eropa akan terus berlanjut.

Pertanyaannya kini: apakah dukungan untuk O’Neill cukup untuk membalikkan keadaan, ataukah ini saatnya bagi Celtic untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan klub? Waktu akan menjawab, tetapi bagi para pendukung, kesabaran sudah semakin menipis.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka