Fokus Surabaya – Suasana hangat terjadi saat Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dalam sebuah acara di Gedung Sate, Bandung, beberapa waktu lalu. Keduanya tampak akrab, namun ada momen menarik ketika Prabowo tiba-tiba salah fokus (salfok) dengan penampilan Dedi Mulyadi yang serba putih. “Kalau tali sepatu warnanya apa?” celetuk Prabowo sambil tersenyum, memecah tawa hadirin. Momen ringan ini sontak menjadi perbincangan publik, terlebih keduanya merupakan tokoh petahana dari partai yang sama, Partai Gerindra.
Namun, di balik keakraban tersebut, dinamika politik nasional justru menunjukkan kontras yang tajam. Dua survei terbaru mengenai Pemilihan Presiden 2029 memperlihatkan elektabilitas keduanya yang bertolak belakang. Dedi Mulyadi mengalami kenaikan signifikan, sementara Prabowo justru menurun. Data ini dihimpun dari riset SMRC dan Tempo Data Science yang digelar pada periode hampir bersamaan.
Survei SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden menggunakan dua simulasi: semi terbuka dan dua nama. Pada simulasi semi terbuka dengan 20 nama, Dedi Mulyadi keluar sebagai capres dengan elektabilitas tertinggi, mencapai 35 persen. Prabowo mengekor di posisi kedua dengan 14,5 persen. Posisi ketiga ditempati Anies Baswedan (8,2 persen), disusul Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), Puan Maharani (1,3 persen), dan Sherly Tjoanda Laos (1,2 persen).
Menariknya, dalam sembilan bulan terakhir, elektabilitas Prabowo merosot dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, Dedi Mulyadi melesat dari 19,7 persen menjadi 35 persen. Sementara itu, pada simulasi dua nama, elektabilitas Dedi Mulyadi melonjak hingga 59 persen, sementara Prabowo hanya 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Tren penurunan Prabowo juga terlihat dalam empat bulan terakhir. Pada survei Februari-Maret 2026, elektabilitasnya masih 50,5 persen, namun anjlok menjadi 28,3 persen pada Juli 2026. Di periode yang sama, Dedi Mulyadi naik dari 42,6 persen menjadi 59 persen. Metodologi survei SMRC menggunakan sampel acak dengan double sampling untuk 605 responden via telepon, dan 144 responden tanpa ponsel diwawancarai tatap muka melalui stratified multistage random sampling. Margin of error diperkirakan kurang lebih 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil ini menjadi sinyal kuat bagi peta politik 2029. Meskipun momen salfok Prabowo terhadap outfit putih Dedi Mulyadi menghibur publik, realitas elektabilitas menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi kini menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Publik pun menantikan langkah selanjutnya dari kedua tokoh, apakah akan bersaing atau berkoalisi.
Kesimpulannya, keakraban Prabowo dan Dedi Mulyadi tidak serta-merta mencerminkan elektabilitas keduanya. Survei terbaru menunjukkan Dedi Mulyadi unggul jauh, sementara Prabowo mengalami penurunan. Fenomena ini menjadi cerminan dinamika politik yang terus berkembang menjelang Pilpres 2029.








