Daftar Isi
Fokus Surabaya – Kapal induk Giuseppe Garibaldi akhirnya merapat di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat pagi, 18 September 2026, setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih tiga pekan dari Italia. Kedatangan kapal yang masih mengibarkan bendera Italia ini disambut langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Muhammad Ali, Wakil Panglima TNI Tandyo Budi Revita, Kepala Bakamla Laksamana Madya Irvansyah, serta tiga kepala staf matra. Sekitar 300 personel Angkatan Laut Italia turut mengawal kapal hibah tersebut hingga tiba di perairan Indonesia.
Kapal induk pertama yang akan dimiliki Indonesia ini dijadwalkan resmi diserahkan kepada TNI AL pada 24 September 2026. Dalam prosesi tersebut akan dilakukan reflagging atau pergantian bendera dari Italia menjadi Indonesia, yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Nama baru pun telah dipastikan, yakni KRI Sriwijaya. Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa kapal ini akan dinamai Gadjah Mada, namun KSAL menegaskan bahwa nama yang dipilih adalah KRI Sriwijaya.
Kondisi Masih Prima, Bisa Beroperasi 15-20 Tahun
Laksamana TNI Muhammad Ali menyatakan bahwa meskipun kapal ini sudah berusia 41 tahun, kondisinya masih sangat baik dan siap beroperasi hingga 15 sampai 20 tahun ke depan. “Kondisinya masih sangat baik sekali, dan mudah-mudahan nanti akan bisa bertahan digunakan oleh Angkatan Laut, oleh TNI Angkatan Laut, mungkin 15 sampai 20 tahun lagi,” ujar Ali kepada awak media. Ia menambahkan bahwa tanpa retrofit pun kapal ini sudah siap berlayar, namun penyesuaian tetap diperlukan untuk mengakomodasi kebutuhan operasi TNI AL, terutama di laut tropis.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan inspeksi menyeluruh, mulai dari ruangan demi ruangan hingga berbagai fungsi alutsista. Menurut Ali, semua peralatan masih berfungsi dengan baik. Retrofit akan dilakukan untuk menyesuaikan teknologi dengan doktrin operasi TNI AL, termasuk kemungkinan penambahan persenjataan. Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung menginstruksikan agar kapal dilengkapi dengan senjata.
Retrofit Melibatkan PT PAL dan Fincantieri
Proses retrofit dan refurbishment akan dikerjakan melalui kerja sama antara PT Penataran Angkatan Laut (PAL) dan Fincantieri, perusahaan galangan kapal asal Italia. Tidak menutup kemungkinan perusahaan pertahanan Italia lainnya, Leonardo, turut dilibatkan untuk menyediakan perlengkapan kapal. Ali menegaskan bahwa kebutuhan Angkatan Laut Italia berbeda dengan Indonesia, sehingga penyesuaian harus dilakukan, terutama untuk menghadapi situasi laut tropis. Mengenai anggaran retrofit, pemerintah disebut sudah menyiapkannya, namun besaran pastinya akan diumumkan oleh Kementerian Pertahanan.
Fokus pada Operasi Militer Selain Perang
Sesuai perintah Presiden Prabowo, kapal induk ini akan difokuskan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama penanggulangan bencana alam yang sering terjadi di berbagai daerah. Dengan kapasitas angkut hingga 14 helikopter atau lebih, kapal ini dinilai akan sangat efektif dalam mendistribusikan logistik ke wilayah terpencil yang sulit dijangkau. “Negara kita banyak bencana alam. Jadi, kami sangat membutuhkan kapal atau platform yang bisa membawa banyak helikopter,” kata Ali. Meski demikian, kapal tetap bisa digunakan untuk keperluan perang jika diperlukan.
Sejarah Panjang Giuseppe Garibaldi
Giuseppe Garibaldi adalah kapal Through-deck Aviation Cruiser yang dirancang dan dibangun di Cantieri Navali, Monfalcone, Italia, dengan nomor lambung C 551. Awalnya diklasifikasikan sebagai incrociatore portaeromobili atau kapal penjelajah pembawa pesawat, kapal ini lahir dari kebutuhan Italia pada era Perang Dingin, terutama untuk perang antikapal selam. Lunas kapal mulai dipasang pada 20 Februari 1978, diluncurkan pada 4 Juni 1983, dan resmi bertugas pada 1985. Peran besarnya berubah setelah Italia mengubah undang-undang pada 1989 yang memungkinkan operasi pesawat tempur bersayap tetap.
Pengamat pertahanan dari Jakarta Defence Society, Ade P. Marboen, menilai langkah TNI AL memiliki kapal induk ringan ini adalah tepat untuk memperkuat kekuatan maritim Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa TNI harus tetap mempertimbangkan kualitas kapal yang seharusnya sudah pensiun pada 1 Oktober 2024 dari Angkatan Laut Italia. Dengan retrofit yang tepat, kapal ini diharapkan mampu menjadi tulang punggung operasi kemanusiaan dan pertahanan maritim Indonesia di masa depan.
Kehadiran KRI Sriwijaya tidak hanya menandai babak baru bagi TNI AL, tetapi juga mempertegas komitmen Indonesia dalam memperkuat pertahanan maritim dan kemampuan respons bencana. Dengan masa pakai yang diperpanjang hingga dua dekade ke depan, kapal ini diproyeksikan menjadi aset strategis yang multifungsi, menjembatani kebutuhan operasi militer dan misi kemanusiaan di wilayah kepulauan yang luas.








