Fokus Surabaya – JAKARTA – Kepanikan menyelimuti kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada Senin malam (14/9/2026) ketika asap tebal tiba-tiba menyembur dari celah aspal di salah satu ruas jalan. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.30 WIB itu sontak membuat pedagang dan pengunjung pasar berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Tidak lama setelah asap muncul, petugas keamanan pasar langsung memasang garis pembatas dan meminta warga menjauh dari lokasi.
Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa asap berasal dari bawah permukaan jalan, tepatnya di dekat saluran kabel listrik. Bau plastik terbakar yang menyengat memperkuat dugaan bahwa sumber asap adalah korsleting pada kabel listrik bawah tanah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun luka-luka. Namun, beberapa pedagang mengaku mengalami sesak napas ringan akibat menghirup asap.
Petugas pemadam kebakaran yang menerima laporan segera meluncur ke lokasi. Mereka melakukan pengecekan dengan alat deteksi panas untuk memastikan tidak ada titik api yang masih aktif. Proses evakuasi dan pendinginan berlangsung kurang lebih satu jam. Setelah dipastikan aman, arus lalu lintas di sekitar Pasar Baru kembali dibuka, meskipun petugas tetap melakukan pemantauan ketat.
Insiden ini menambah daftar panjang kejadian serupa di kawasan padat penduduk Jakarta. Baru sehari sebelumnya, Sektor Pemadam Kebakaran Kecamatan Setiabudi menggelar program mitigasi kebakaran di Menteng Atas, Jakarta Selatan. Petugas Damkar, Rezi, menyatakan bahwa pihaknya terus menginventarisasi kebutuhan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap RW. “Di setiap RW binaan itu kita inventarisasi, minimal sudah punya dua APAR. Bahkan di Menteng Atas sini hampir setiap RT-nya sudah dibekali dan diinventarisasi,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (13/9/2026).
Langkah preventif tersebut dinilai krusial mengingat risiko korsleting listrik di area padat bangunan seperti Pasar Baru sangat tinggi. Jaringan kabel yang sudah berusia tua dan beban listrik yang berlebihan menjadi pemicu utama. Warga diimbau untuk tidak menumpuk kabel secara sembarangan dan segera melaporkan jika mencium bau gosong atau melihat asap yang tidak wajar.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) mengimbau pengelola pasar dan pemilik ruko untuk melakukan pemeriksaan instalasi listrik secara berkala. Sosialisasi mengenai penggunaan APAR juga akan terus digencarkan, terutama di kawasan yang belum memiliki alat pemadam memadai.
Pengamat tata kota menilai bahwa peristiwa asap di Pasar Baru harus menjadi alarm bagi semua pihak. Selain peremajaan kabel, perlu ada audit menyeluruh terhadap sistem kelistrikan bawah tanah di kawasan-kawasan niaga tradisional. “Korsleting bukan hanya soal kabel tua, tetapi juga soal manajemen beban listrik yang tidak terkontrol,” ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini ditulis, petugas masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti munculnya asap. Pengelola Pasar Baru berjanji akan bekerja sama dengan PLN dan Dinas Gulkarmat untuk melakukan pengecekan menyeluruh. Sementara itu, aktivitas perdagangan di Pasar Baru berangsur normal, meski sebagian pedagang mengaku masih trauma dan waspada.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keselamatan publik adalah tanggung jawab bersama. Mitigasi kebakaran tidak cukup hanya dengan menyediakan APAR, tetapi juga memerlukan kesadaran kolektif untuk menjaga instalasi listrik dan lingkungan. Dengan begitu, potensi kebakaran akibat korsleting dapat ditekan seminimal mungkin.








