Daftar Isi
Fokus Surabaya – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengumumkan komitmen besar pemerintah provinsi untuk menanggung biaya pendidikan bagi sekitar 80 ribu siswa yang tidak lolos seleksi masuk sekolah negeri. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi ribuan keluarga di Jawa Barat yang selama ini khawatir anak-anak mereka putus sekolah akibat keterbatasan daya tampung sekolah negeri.
Langkah tersebut sejalan dengan perhatian Pemprov Jabar terhadap keberlanjutan pendidikan generasi muda, sebagaimana terlihat dari respons cepat pemerintah terhadap berbagai persoalan sosial yang menimpa warganya. Komitmen ini menegaskan bahwa pendidikan menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia itu.
Respons Cepat untuk Korban KM Virgo Transport 8
Sebelumnya, Pemprov Jabar di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi juga menunjukkan kepedulian serupa ketika menangani warga yang menjadi korban tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Sebanyak 23 warga Jawa Barat tercatat sebagai korban, dengan rincian 22 orang berasal dari Kabupaten Garut dan satu orang dari Kabupaten Cianjur.
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pemerintah provinsi memberikan bantuan kepada seluruh korban maupun keluarga terdampak. Bantuan tersebut terdiri dari uang tunggu atau kadeudeuh serta santunan kerohiman. “Pemprov akan memberikan uang kadeudeuh atau uang tunggu serta santunan kerohiman bagi seluruh warga Jabar yang menjadi korban, baik yang selamat maupun yang meninggal dunia,” ujar Dedi Mulyadi.
Bagi korban selamat yang telah berada di Kota Banjarmasin, Pemprov Jabar menyalurkan uang tunggu sebesar Rp 7 juta per orang. Rinciannya mencakup Rp 2 juta untuk pembelian tiket pesawat pulang, Rp 1 juta sebagai bekal selama berada di Banjarmasin, dan sisa Rp 4 juta untuk dibawa pulang kepada keluarga di rumah. Sementara itu, bagi korban yang dinyatakan meninggal dunia, pemerintah menyiapkan santunan duka sebesar Rp 25 juta per orang.
Perbandingan Program Bantuan Pendidikan di Daerah
Kebijakan Pemprov Jabar ini mencerminkan pola penanganan serupa yang diterapkan pemerintah daerah lain. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, misalnya, menjamin keberlanjutan biaya pendidikan bagi putra dan putri warga yang menjadi korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Dua warga Banyuwangi, Soni Marta Andika dan Ponco Budi Raharjo, hingga kini masih dinyatakan hilang.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pemerintah daerah akan membantu agar anak-anak korban tetap bisa sekolah dan kuliah. Program yang disiapkan antara lain:
- Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh) untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah
- Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Progresif untuk mahasiswa
Kedua korban merupakan tulang punggung keluarga masing-masing, sementara istri mereka tidak bekerja. Anak Soni, yakni Firdan Maulana yang duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah dan Firman Eka Putra yang bersekolah di tingkat SMK, serta dua anak kembar Ponco, Safira Niken Raharja dan Tiara Niken Raharja yang menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember, menjadi penerima manfaat program tersebut.
Dampak dan Harapan ke Depan
Komitmen menanggung biaya sekolah bagi 80 ribu siswa yang gagal masuk negeri menjadi terobosan penting dalam dunia pendidikan nasional. Kebijakan ini tidak hanya mencegah potensi putus sekolah, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan berkualitas tanpa terkendala status sekolah.
Bagi keluarga kurang mampu, bantuan ini menjadi penyelamat di tengah tingginya biaya pendidikan swasta. Pemerintah provinsi berharap langkah tersebut dapat menekan angka putus sekolah sekaligus meningkatkan angka partisipasi sekolah di seluruh wilayah Jawa Barat.
Pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Dengan menanggung biaya sekolah bagi puluhan ribu siswa, Pemprov Jabar mengirim pesan kuat bahwa masa depan anak-anak adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Kebijakan ini patut menjadi contoh bagi daerah lain dalam memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi atau daya tampung sekolah negeri.








