Daftar Isi
Fokus Surabaya – Ivan Perišić kembali menjadi sorotan dalam dunia sepak bola nasional. Pemain berusia 37 tahun itu tidak hanya menjadi andalan di klub PSV Eindhoven, tetapi juga masih dipercaya memperkuat timnas Kroasia. Nama Perišić semakin mencuat setelah insiden kontroversial dalam laga PSV melawan Twente, di mana ia terlibat perselisihan dengan bek Robin Pröpper. Insiden tersebut memicu perdebatan sengit di media Belanda, namun juga membuka cerita menarik tentang ketangguhan mental dan profesionalisme seorang pemain veteran.
Kontroversi di Laga PSV vs Twente
Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Twente, Perišić terlibat insiden tidak menyenangkan dengan kapten lawan, Robin Pröpper. Perišić terlihat mengayunkan tangannya ke arah wajah Pröpper setelah terjatuh akibat duel. Wasit Serdar Gözübüyük hanya memberikan kartu kuning, keputusan yang dianggap keliru oleh beberapa pengamat. Mantan wasit internasional Belanda, Mario van der Ende, menilai Perišić seharusnya mendapat kartu merah langsung. Namun, Pröpper kemudian mengakui bahwa ia memang sengaja memprovokasi Perišić. “Saya tidak selalu senang dengan perilaku saya di lapangan, tapi terkadang itu perlu. Perišić kesal kepada saya dan mungkin itu wajar,” ujar Pröpper kepada Tubantia. Pengakuan ini memberikan konteks bahwa insiden tersebut bukan semata-mata kesalahan Perišić.
Peran Vital di PSV dan Timnas Kroasia
Meski menuai kontroversi, kualitas Perišić tidak perlu diragukan. Bersama PSV, ia tetap menjadi pilar penting. Pelatih Peter Bosz bahkan memuji pengaruhnya terhadap pemain muda, terutama dalam hal disiplin latihan, pola makan, dan pemahaman taktik. Musim ini, Perišić telah mencatatkan sembilan penampilan dengan total lebih dari 600 menit, mencetak dua gol dan satu assist. Ia juga tampil penuh selama 90 menit saat melawan Twente, menunjukkan bahwa usianya bukan penghalang. Di level internasional, pelatih timnas Kroasia, Slaven Bilić, menegaskan bahwa Perišić akan memainkan peran kunci. Bilić bahkan melontarkan pernyataan menarik: “Jika saya punya dua Perišić, keduanya akan bermain, satu sebagai bek, satu sebagai winger.” Fleksibilitas Perišić membuatnya bisa ditempatkan di berbagai posisi, baik sebagai bek sayap maupun penyerang.
Misi Mengejar Rekor Davor Šuker
Perišić kini memiliki misi pribadi: mengejar rekor gol Davor Šuker untuk timnas Kroasia. Dengan 39 gol, ia hanya tertinggal enam gol dari Šuker yang mengoleksi 45 gol. Meski secara usia tidak muda lagi, Perišić masih menunjukkan ketajaman. Di level klub, ia juga menorehkan prestasi dengan menjadi salah satu pemain Kroasia tersukses di Eropa. Namun, ada juga nama Ante Budimir yang mencuri perhatian. Striker Osasuna itu baru saja mencetak gol ke-100 di La Liga, menempatkannya sejajar dengan pemain kelas dunia seperti Roy Makaay dan Mikel Oyarzabal. Budimir, yang juga bersaing untuk posisi di timnas, menjadi bukti bahwa generasi penyerang Kroasia terus berkembang.
Persaingan di Lini Depan Timnas
Dengan kehadiran pemain muda seperti Petar Musa, Igor Matanović, Dion Drena Beljo, dan Franjo Ivanović, persaingan di lini depan Kroasia semakin ketat. Bilić harus bijak memadukan pengalaman dan energi muda. Perišić, dengan segala kontroversi dan kualitasnya, tetap menjadi sosok sentral. Ia bukan hanya pemain, tetapi juga mentor bagi rekan-rekan mudanya. Kisah Perišić adalah cerminan perjalanan panjang seorang pesepak bola yang tak pernah lelah membuktikan diri. Dari kontroversi di lapangan hingga dedikasi di ruang latihan, ia terus menjadi inspirasi. Misi mengejar rekor Šuker mungkin akan menjadi penutup karier yang manis, tetapi apa pun hasilnya, warisan Perišić untuk sepak bola Kroasia sudah tak terbantahkan.








