Fokus Jepara – Konflik di Timur Tengah kembali memanas, menyebabkan dampak signifikan pada perekonomian dan keamanan global. Rupiah Indonesia melemah hingga Rp 18.000-an per dolar AS, dipicu oleh tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, yang mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global.
Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga.
Sementara itu, Jepang mengalokasikan anggaran tambahan sebesar 19 miliar dolar AS untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup akibat konflik di Timur Tengah.
Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia juga terdampak, dengan penurunan 1,89 persen pada periode Januari-April 2026.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menuduh Amerika Serikat dan Israel mencoba menabur perpecahan di antara rakyat Iran setelah mengalami kekalahan selama perang Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai insiden saling serang antara Iran dan Amerika Serikat tidak serta-merta menandakan gagalnya gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Trump menyebut dinamika konflik di Timur Tengah memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan standar gencatan senjata di wilayah lain dunia.
Konflik di Timur Tengah terus memanas, dengan aksi militer dan serangan pesawat nirawak yang menargetkan Kuwait dan Bahrain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari penyelesaian, dan dampaknya akan terus dirasakan di seluruh dunia.








