Daftar Isi
Fokus Surabaya – JAKARTA – Nama Budi Arie Setiadi kembali menjadi sorotan publik. Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo) itu dituding memperkeruh hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akibat pidatonya yang viral di media sosial. Tudingan ini mencuat setelah sejumlah pendukung Prabowo yang tergabung dalam Gerakan Cinta Prabowo (GCP) menggelar pertemuan di Jakarta pada akhir Agustus 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Kurniawan, salah satu koordinator GCP, menyampaikan kemasygulannya setelah menonton rekaman pidato Budi Arie. Menurutnya, pernyataan Budi Arie berpotensi menciptakan ketegangan baru di antara para pendukung kedua tokoh. “Kami sangat menyayangkan pidato itu. Seolah-olah ada upaya adu domba antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ujar Kurniawan.
Rekaman pidato yang dimaksud beredar luas di platform media sosial. Dalam pidatonya, Budi Arie menyentuh isu relawan dan masa depan politik 2029. Ia menyebut bahwa relawan Jokowi harus tetap solid dan tidak terpecah belah. Namun, nada dan diksi yang digunakan dianggap provokatif oleh sebagian pihak. Hingga berita ini diturunkan, Budi Arie belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan tersebut.
Dinamika Relawan di Pemerintahan Prabowo
Ketegangan antara relawan Jokowi dan pendukung Prabowo bukan hal baru. Sejak Pilpres 2024, kedua kubu sering kali berbeda pandangan, terutama dalam menyikapi kebijakan pemerintahan. Meski Jokowi dan Prabowo tampak akur dalam beberapa pertemuan publik, gesekan di tingkat akar rumput tetap terjadi. Terlebih lagi, isu Pemilu 2029 mulai menghangat, dengan berbagai kelompok relawan mulai memposisikan diri.
Pengamat politik menilai bahwa pernyataan Budi Arie dapat memperbesar polarisasi di antara pendukung. “Pidato semacam ini bisa memicu reaksi berantai. Apalagi menjelang tahun politik, sensitivitas antar kelompok meningkat,” kata seorang analis politik di Jakarta.
Di sisi lain, sebagian kalangan menilai bahwa tuduhan adu domba terlalu berlebihan. Mereka menilai Budi Arie hanya menyampaikan pandangan sebagai ketua relawan yang ingin menjaga soliditas. Namun, narasi yang berkembang di media sosial cenderung membesar-besarkan pernyataan tersebut.
Rekam Jejak Budi Arie
Budi Arie Setiadi bukan nama baru di dunia politik Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 20 April 1969, ini lama berkecimpung sebagai aktivis dan organisator. Ia dikenal sebagai pendiri dan ketua umum Projo, relawan yang berperan besar dalam kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019. Pada 2023, Budi Arie dipercaya menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dalam Kabinet Indonesia Maju. Jabatan itu diembannya hingga akhir masa pemerintahan Jokowi.
Setelah tidak lagi menjabat menteri, Budi Arie tetap aktif sebagai Ketua Umum Projo. Ia sering menyuarakan aspirasi relawan dan mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk yang berkaitan dengan kesejahteraan relawan. Namun, gaya komunikasinya yang blak-blakan kerap menuai kontroversi.
Berikut sejumlah kontroversi yang pernah melibatkan Budi Arie:
- Pernyataan soal relawan yang dianggap merendahkan kelompok tertentu.
- Kritik pedas terhadap kinerja pemerintah di media sosial.
- Pidato yang dianggap memicu ketegangan antar relawan Jokowi dan Prabowo.
Respons Berbagai Pihak
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana Kepresidenan maupun dari kubu Jokowi terkait tudingan adu domba. Namun, sejumlah politikus mengingatkan agar semua pihak menahan diri dan tidak memperkeruh suasana. “Kita harus fokus pada persatuan, bukan saling mencurigai,” kata seorang anggota DPR dari fraksi pendukung pemerintah.
Sementara itu, Gerakan Cinta Prabowo berencana mengirimkan surat terbuka kepada Budi Arie agar tidak lagi menyampaikan pernyataan yang berpotensi memecah belah. Mereka juga mengajak semua relawan untuk menjaga kondusivitas menjelang tahun politik.
Kesimpulan
Rekam jejak Budi Arie sebagai Ketua Umum Projo memang tidak lepas dari kontroversi. Pidatonya yang viral telah memicu tudingan adu domba antara Jokowi dan Prabowo. Meski demikian, situasi masih dinamis dan dapat berubah. Yang jelas, dinamika relawan di pemerintahan Prabowo akan terus menjadi perhatian publik, terutama menjelang Pemilu 2029. Semua pihak diharapkan dapat menahan diri dan mengedepankan dialog untuk menjaga stabilitas politik nasional.










